
Ravin membuka gulungan kertas itu dengan rasa penasaran di dalam hatinya, sedangkan Mila merasa sangat gugup melihatnya.
"Apakah dia akan senang dengan hal ini atau sebaliknya?" Mila meremas gaun yang ia kenakan saat ini untuk mengurangi rasa gugup dan cemas yang tiba tiba menyelimuti hatinya.
Sedangkan Ravin terdiam dan menjatuhkan hasil laporan medis sang istri setelah ia membacanya berulang ulang kali, kini ia menatap wajah istrinya tanpa ekspresi membuat Mila semakin gugup di buatnya.
''Sepertinya dia tidak suka dengan hadiah kejutan dariku!'' Mia menghela nafasnya secara perlahan dan menundukan kepalanya setelah melihat sang suami menatapnya aneh. Namun tubuhnya terasa melayang dan berputar bersamaan dengan suara sang suami dan tepukan tangan dari para tamu.
"Aku akan menjadi daddy kembali, Kenz kau akan menjadi seorang kakak!" teriak Ravin dengan penuh kebahagiaan.
"Nyonya muda selamat atas kehamilan anda.'' Ucap salah satu tamu undangan nyonya Renata.
"Terimakasih.''
"Terimakasih sayang kau memberikan kado kejutan terindah di hari ulang tahunku, Aku sangan mencintai mu." Ravin memeluk Mila dengan sangat erat mencurahkan rasa bahagianya pada sang istri.
Begitu juga nyonya Renata yang bergantian memeluk Mila untuk mengucapkan selamat pada menantu favoritnya. "Selamat ya nak, dan terimakasih kau sudah hadir di tengah tengah keluarga kami yang dingin ini. Setelah kau datang keluarga kami selalu mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan yang tak terkira. Mansion ini terasa hidup kembali, kau adalah menantu pembawa kebahagiaan dan keberuntungan bagi kami. Terimakasih!" Nyonya Renata merasa sangat bersyukur dengan hal ini.
"Terimakasih mom. Mommy dan keluarga ini sudah menerima diriku apa Ada nya.'' Mila merasa sangat terharu dengan perkataan nyonya Renata yang mengatakan dirinya membawa keberuntungan di dalam keluarga itu.
"Ini sangat berbeda, mommy Renata sangat baik dan menerima semua kekurangan ku, ia bahkan mengatakan aku membawa keberuntungan. Hari ini aku sangat percaya pada keluarga Adyaksa bahwa mereka tulus menerima aku apa adanya, dan janjiku hari ini dan seterusnya, aku akan mencintai dan menyayangi keluarga ini sepenuhnya tanpa ada keraguan lagi di hatiku.''
"Setelah 11 tahun pernikahan ku bersama dengan mas Hendra berakhir, kini aku mendapatkan pengganti yang lebih baik dari mereka. Yang bisa menyayangi dan mencintai ku setulus hati, tanpa melihat siapa aku dan bagaimana diriku di masa lalu." Mila menangis namun ia tersenyum menatap satu persatu mereka yang ada di sana.
"Kak!" Mia menatap sang kakak dengan sangat intens.
"Mia ternyata kakak bisa menjadi seorang ibu!" ucap Mila dengan penuh semangat memeluk sang adik. Mencurahkan rasa bahagianya saat ini.
"Iya, kakak harus menjaga keponakan ku dengan baik. Agar aku tidak merasa kesepian lagi dan satu lagi harus ada yang membantuku mengalahkan permainan catur ku bersama dengan Kenzo! seru Mia yang langsung menatap Kenzo dengan senyuman smirk nya.
"Tidak, dia adikku pastilah dia akan berada di pihakku!'' Kenzo langsung merasa tak terima dengan ucapan Mia, dan menarik Mila agar menjauh dari Mia.
__ADS_1
"Mommy.'' Kenzo menatap Mila dengan wajah sendunya. Mila yang melihat itu pun langsung mensejajarkan tubuhnya dengan Kenzo.
"Kenapa nak, apa kau kesal dengan aunty Mia?'' tanya Mila pada Kenzo, namun Kenzo langsung menggelengkan kepalanya dan memeluk Mila begitu erat
"Mommy apakah setelah adik lahir kau akan melupakan aku?'' tanya Kenzo dengan raut wajah polosnya nya menatap Mila dengan tatapan sedihnya.
Mila tersenyum lalu menggelengkan kepalanya saat mendengar ungkapan hati putra sambungnya. "Tidak. Kau adalah putraku jangan berpikir hal semacan itu lagi, walaupun bukan mommy yang melah mu ke dunia ini. Tapi mommy sangat sayang Kenzo, karena Kenzo anak yang baik. Jangan sedih sayang mommy selalu bersamamu.'' Mila memeluk anak sambungnya dengan sangat erat.
Kini semua para tamu undangan yang berada di sana pun menangis terharu saat melihat interaksi di antara mereka berdua. Nyonya Renata sanlgat bersyukur saat mendengar percakapan Mila dan Kenzo, bagitu juga dengan Mia dan Ravin.
"Kakak ipar, terimakasih kau sudah memberikan banyak kebahagiaan dalam hidup kak Mila. Dia pantas bahagia!'' ucap Mia dengan penuh ketulusan.
"Hhmmm..'' Ravin hanya berdehem sebagai jawaban ucapan adik iparnya, dan pergi begitu saja melewati Mia dan menghampiri putra dan istrinya.
"Dasar kenebo kering! udah ngomong panjang lebar ehh jawaban nya garing banget!" cetus Mia. Ia merasa sangat geram pada kakak iparnya yang selalu bersikap dingin dan kaku.
"Dia memang seperti itu!" ucap nyonya Renata yang langsung mengejutkan Mia.
''Panggil mommy saja sama seperti kakakmu, anggap saja aku juga ibu mu!'' ucap nyonya Renata tulus.
"Terimakasih mommy.'' Mia langsung memeluk erat tubuh wanita paruh baya yang ada di sampingnya.
*
*
Setelah acara pesta kejutan penuh drama. Kini Mia duduk di sebuah taman yang tak jauh dari mansion.Ia menatap langit malam penuh bintang di saat hatinya sedang bimbang.
Mia mendengus kesal saat yang ada di pikirannya saat ini hanya ada Erik dan Erik saja, pria bertubuh tegap dengan rambut gondrong yang di kuncir itu selalu membayangi hari hari Mia.
"Ada atau tidak, dia tetap saja mengganggu ku!" seru Mia yang langsung mengerucutkan bibirnya merasa sangat kesal pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin suka pada pria menyebalkan itu kan, owhh kasihan sekali diriku jika harus menyukai nya." Mia kembali mengingat kata kata yang pernah ia ucapkan pada Erik sebelumnya.
"Ahhh... Tidak, tidak! aku tidak mungkin terjebak dengan kata kataku sendiri!" pekik Mia yang langsung berlari meninggalkan tempat itu.
Sedangkan di mansion Mila sedang kesal pada Ravin yang begitu posesif terhadapnya, dan melarang nya melakukan ini dan itu.
"Sepertinya hariku akan sangat panjang setelah ini.'' Gumam Mila sebelum memejamkan matanya.
*
*
Malam berlalu pagi pun menyapa, matahari bersinar menerangi celah jendela tak membangunkan seseorang dari mimpi indah nya saat ini.
"Anak gadis jam segini masih tidur, Mia bangun dek ini sudah siang nggak malu sama ayam!'' Pekik Mila yang langsung membangunkan Mia dari tidur nyenyak nya.
"Ya ampun kak, ini masih sangat pagi tunggu lima menit lagi.'' Ucap Mia yang langsung kembali menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Mia ini sudah jam sepuluh pagi, apakah kau akan terus tidur seharian penuh. ayo cepatlah! mana berkas yang harus kakak tanda tangani, kakak tidak punya banyak waktu lagi."
Mila sangat merasa kesal, karena setelah Ravin mendengar kabar kehamilan nya ia sangat begitu posesif dan membatasi Mila dalam segala hal. Karena ravin tak ingin jika Mila merasa kelelahan mengingat ini adalah kehamilan pertamanya dan kondisi Mila yang lemah karena sering mengalami morning sicness.
"Cepat bangun, kakak tunggu di bawah!''
"Hmm..'' Mia menjawab deheman saja tanpa membuka matanya yang masih ingin terpejam. Tanpa sadar ia pun kembali tertidur dan melupakan ucapan sang kakak.
LIMA BELAS MENIT KEMUDIAN.
"Kau akan tetap tidur dan membuat kakakmu menunggu atau aku akan mencari cara lain untuk membangunkan mu!'' ucap suara bariton seseorang yang langsung membangunkan Mia sepenuhnya.
Bersambung...
__ADS_1