
Erik mendudukan Mia di sofa secara perlahan dan mengambil es batu untuk mengompres pinggang Mia, ''ternyata di balik wajah galak dan cueknya masih ada sisi baik dalam diri Erik, tapi apa sebab Erik menjadi semenyebalkan ini?'' tanya Mia pada dirinya sendiri.
Mia menatap wajah pria yang selalu mengganggu tidurnya semalam dengan bayangan demi bayangan bagai kaset rusak itu kini sedang mengobatinya dengan lembut, membuat Mia merasa sangat bersalah karena telah membohongi Erik.
"Terimakasih, ini sudah cukup! aku sudah merasa lebih baik sekarang." Ucap Mia yang langsung mengambil alih alat kompres yang ada di tangan Erik.
Mia mulai menetralkan rasa gugup yang ada di dalam hatinya, saat detak jantung nya semakin memompa dengan cepat saat wajah Erik begitu dekat dengan nya.
"Omg, apa dia akan menciumku? apakah aku harus merelakan ciuman pertamaku untuknya?'' setelah perdebatan panjang dalam hatinya kini Mia memutuskan untuk menerima apapun yang akan Erik lakukan padanya, Mia sudah pasrah dan memejamkan matanya.
Tukk.. Erik menyentil kening Mia dengan sedikit keras, membuat Mia mengaduh kesakitan. "Apa yang sedang kau pikirkan nona?'' tanya Erik yang langsung mengambil bantal yang ada di samping Mia.
"Apa? ternyata dia hanya mengambil bantal saja, aku kira dia akan menciumku tadi. Ahhh sangat memalukan sekali kau ini Mia.'' Ucapanya dalam hati.
''Hallo apa kau mendengarku?'' Erik menjentikan jarinya di hadapan Mia.
''Apa?"
"Sudah lupakan saja, sekarang kau istrirahatlah aku akan segera kembali.'' Ucap Erik yang langsung pergi meninggalkan Mia yang masih dengan raut wajah bingungnya.
Di mansion utama. Mila duduk gelisah di kamarnya menunggu kabar terbaru dari sang suami mengenai keberadaan adiknya saat ini.
"Kenapa kak Ravin belum memberikan informasi apapun tentang Mia, dimana Mia sekarang? harusnya sejak awal aku memberi tahu apa yang kami rencana kan untuk Sesilia. mungkin tidak akan seperti ini jadinya.
Flashback.
Saat Sesilia datang ke mansion utama untuk meminta tempat tinggal pada Mila dan bersimpuh di kakinya, Mila merasa sangat muak dan jijik karena karena mereka ayahnya tega menghianati keluarga kecilnya.
Masa kecil yang di lewati tampa kasih sayang dan dukungan seorang ayah membuat Mila tahu arti kehidupan yang sesungguhnya, bertahun tahun lalu sang ibu terus mencari keberadaan suaminya dan mengadukan hal itu ke kantor polisi. Namun tak ada tanggapan apapun dari mereka, karena keterbatasan ekonomi keluarganya pun mengiklaskan ayahnya.
Namun. Mila terkejut saat melihat sang ayah berada di pesta pernikahannya bersama dengan keluarga barunya membuat Mila merasa sangat ditipu dengan kebaikan palsu ayahnya dulu.
__ADS_1
Mila tersenyum sinis melihat gadis kecil yang bersimpuh di kakinya, dan segera mengirimkan pesan pada sang suami dan mulai berakting setelah mendapatkan intruksi dari Ravin.
"Cihhh dia pikir aku tak tahu niat yang sebenarnya, kau adalah gadis materialistis dan suka hura hura kau juga suka membantah dan berbuat sesuka hatimu. Baiklah sekarang aku akan memberikan pelajaran berharga untuk gadis manis seperti mu.'' Ucap Mila dalam hatinya.
Flashback End
Ceklek.. Pintu kamar terbuka memperlihatkan pria yang Mila tunggu sejak tadi. "Sayang kau belum tidur?''
"Bagaimana aku bisa tidur kak, kau bahkan belum memberikan informasi tentang Mia padaku!''
"Dia baik baik saja, apakah kau tidak percaya pada suamimu ini?'' tanya Ravin sambil memeluk pinggang istrinya.
"Bukan begitu kak hanya saja aku_''
"Aku tahu apa yang kau pikirkan!'' sahut Ravin yang langsung menggendong istrinya dan menidurkan nya di atas ranjang mereka.
"Kak!''
"Erik? bukankah Erik sedang di luar negri untuk pengobatan ayahnya, atau ada Erik yang lain?''
''Erik hanya satu, dia sudah kembali untuk belajar mengelola bisnis tuan Arza karena dia adalah satu satunya penerus keluarga Mahesa.'' Ucap Ravin menjelaskan.
"Lalu mengapa kau menyuruhnya untuk menjaga Mia, bukankah sebagai tuan Mahesa Erik sibuk dengan pekerjaannya?''
"Hmmm.. Entahlah hatiku mengatakan ini adalah hal yang baik jadi aku lakukan sesui keinginan hatiku saja, bukankah itu yang selalu kau ajarkan pada Kenzo? lagi pula ini tidak buruk, Mia sangat dekat dengan Erik dan satu lagi yang aku tahu hanya Mia lah perempuan pertama yang begitu dekat dengan Erik."
Mendengar ucapan Ravin kini Mila menatap wajah tampan suaminya dengan seksama, "apa kau yakin kak?''
"Apa kau benar benar tidak percaya pada suamimu ini?'' tanya Ravin kebali.
Cup, Mila mengecup pipi sang suami. ''Aku percaya padamu dad.'' Bisik Mila dengan manja di telinga Ravin.
__ADS_1
"Sayang apa kau sedang menggoda ku?'' tanya Ravin yang langsung mengungkung tubuh istrinya.
Blus.. Pipi Mila memerah karena malu, Membuat Ravin merasa sangat gemas di buatnya. Perlahan wajah mereka pun semakin dekat dan menempelkan bibir mereka.
Ravin mencium sang istri dan dengan sedikit me*um*tnya namun semakin lama ciuman itu semakin dalam dan membuat mereka berdua terbakar gairah. Perlahan tapi pasti Ravin membuka kain yang menempel di tubuh istrinya dan melemparkan nya ke sembarang arah.
"Aku janji akan melakukan nya secara lembut agar tidak menyakiti bayi kita.'' Ucap Ravin dengan nafas tersenggal, yang langsung di jawab anggukan oleh Mila.
Namun saat mereka akan melakukan aktifitasnya, suara ketukan pintu menghentikan aktifitas mereka seketika. Ravin mendengus kesal saat mendengar suara putranya yang sedang berteriak memanggil Mila dengan sangat kencang.
Sedang Mila hanya tersenyum kikuk melihat kekesalan suaminya, ''Kau mandilah dulu kita lanjutkan nanti saja, okey''
"Mom, mommy buka pintunya aku ingin tidur bersamamu.'' Ucap Kenzo yang sedikit berteriak di depan pintu kamar orang tuanya.
"Iya tunggu sebentar mommy datang!'' seru Mila yang langsung memakai membali pakainya yang kini berserakan di lantai.
Berbeda dengan Ravin dan Mila yang tidak bisa melanjutkan aktifitas nya karena Kenzo, di apartemen Mia bangun dari tidurnya dan melihat sekelilingnya tidak ada siapun.
"Jam berapa ini?'' Mia melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.
''Ya ampun aku sudah melewatkan siangku begitu saja dan malam ini pasti aku tidak akan bisa tidur lagi seperti kemarin!'' Mia menghela nafasnya perlahan dan berjalan mencari keberadaan Erik.
"Dimana pria itu? Ahh itu dia!'' seru Mia saat melihat Erik duduk di balkon dengan segelas minuman di tangannya.
"Sedang apa kau disini? dan apa itu, bukankah itu tidak baik untuk kesehatan?'' Mia langsung mengambil gelas berisi wine di tangan Erik dan menjauhkan nya.
''Itu tidak baik untuk kesehatan, jika kau punya masalah ceritakan padaku dan jangan menyakiti dirimu sendiri.'' Ucap Mia tulus sambil memegangi tangan Erik.
Erik merasa sangat terharu dengan ucapan Mia, namun detik berikutnya ia tertawa menatap wajah Mia yang begitu lucu menurutnya. Begitu juga dengan Mia yang ikut tertawa walau ia tak tahu apa yang sedang di tertawakan Erik saat ini.
Bersambung...
__ADS_1