Setelah 11 Tahun Pernikahan

Setelah 11 Tahun Pernikahan
Bab 68


__ADS_3

"Selamat untuk pernikahan anda tuan muda Adyaksa" Ucap tuan Bisma penuh ketulusan, membuat Mila langsung terdiam saat mendengar suara ayahnya.


''Dia memang ayah, aku tidak salah! suara itu sering aku dengar saat ayah memanggilku dulu.'' Mila pun berbalik melihat ke arah pria paruh baya yang sedang tersenyum penuh ketulusan.


"Ayah jangan pernah tersenyum padaku, karena aku akan sangat kecewa dan terluka saat melihat senyuman palsumu itu. Aku benar-benar sangat kecewa padamu ayah, karena kau ibu jadi sering sakit sakitan dan pada akhirnya dia pergi meninggalkan ku dan Mia.'' Batin Mila menjerit memendam semua amarahnya.


Dan kini Mila memandang sinis, saat pandangannya tertuju ke arah tangan wanita yang terus menempel seperti lintah pada ayahnya.


"Nyonya adyaksa selamat juga untukmu'' Ucap tuan Bisma menyadarkan Mila dari lamunannya.


"Terimakasih. Anda tidak perlu terlalu formal tuan, nama saya Mila Agatha Davis anda bisa memanggil saya Lala karena itu adalah nama panggilan kesayangan dari mendiang ayah saya dulu.'' Ucap Mila menekankan setiap kata-kata nya, ia ingin melihat bagaimana reaksi wajah sang ayah saat ini.


''Wahh nama marga nyonya sama dengan marga kami, ia kan ma" Sahut Sesilia dengan hebohnya.


"Iya siapa nama ayahmu'' Nyonya Tita pun mulai penasaran dengan istri baru Ravindra Adyaksa, pasalnya dia juga pernah menjodohkan putri tertuanya namun sayangnya Ravin menolak niatnya begitu saja.


"Ahh mungkin ini hanya kebetulan saja'' Jawab Mila yang langsung melihat reaksi pria yang masih setia berdiri di sana dengan wajah tanpa ekspresi apapun, membuat Mila sedikit kecewa karenanya.


Mila menghela nafasnya pelahan, ia sudah sangat merasa muak dan lelah dengan sandiwara ini, kini ia menatap ke arah Ravin dan Ravin pun mengerti apa yang di pikirkan oleh istrinya.


"Hhmmm.... Sayang sudah terlalu lama kau berdiri, sekarang ayo ikut denganku untuk beristirahat. Tuan dan nyonya Davis silahkan kalian nikmati pestanya." Ucap Ravin yang segera membawa istrinya pergi dari tempat itu bersama dengan putranya yang tertidur dalam gendongan nya. Namun langkahnya terhenti saat nyonya Tita menanyakan siapa nama ayah Mila.


"Tunggu nyonya Adyaksa, siapa nama ayahmu Mungkin saja kami mengenalnya atau mungkin keluarga Davis yang lain mengenalnya'' Tanya Nyonya Tita dengan sangat antusias, karena ini akan sangat menguntungkan baginya jika Mila adalah salah satu keturunan dari keluarganya pikir nyonya Tita.


"Ayahku sudah lama meninggal, bukankah tidak baik menyebut nama orang yang sudah tidak ada di dunia ini nyonya?'' Sahut Mila dengan nada sinisnya.


"Anda benar sekali nyonya tapi..'' Ucap nyonya Tita terhenti saat tuan Bisma menariknya dengan sangat keras. Kini Mila pun tersenyum puas saat melihat ekspresi wajah ayahnya yang terlihat memerah menahan amarahnya.

__ADS_1


"Kau itu kenapa ini sangat memalukan sekali" Nyonya Tita langsung menarik kembali tangannya dengan bibir mengerucut.


''Diam dan ayo kita pulang sekarang juga!''


"Tidak mau aku masih ingin menikmati acara ini" Nyonya Tita pun dengan cepat menolak ajakan suaminya.


"Ma, pa sebaiknya kita pulang saja. Ini pesta tuan Adyaksa jika kalian membuat keributan disini, kita pasti akan di usir secara tidak hormat dan itu akan sangat memalukan sekali.'' Ucap Sesilia menengahi perdebatan kedua orang tuanya.


Sedangkan Mila tersenyum sinis saat melihat dua orang dewasa yang bersikap kekanakan, Mila pun pergi begitu saja bersama dengan Ravin dan Kenzo. Karena ia sudah muak melihat drama yang ada disana.


Kini Mila dan Ravin berada di kamar Kenzo. Setelah menidurkan putranya Ravin mulai menghampiri Mila yang sedang duduk di sofa dan menutupi wajahnya dengan tangannya. Ravin mengepalkan tangannya saat melihat tubuh istrinya bergetar tanda ia sedang menangis.


"Lala mengapa kau menangis hanya karena pria seperti Bisma itu'' Ucap Ravin dengan menahan semua kekesalan yang ada di dalam hatinya.


"Hiks... Hiks.. Aku hanya kecewa saja pada ayah, kenapa dia tega menghianati ibu dan membohongi kami.'' Sahut Mila dengan suara seraknya.


"Jangan di pikirkan lagi, biarkan dia menanggung karmanya sendiri.''


*


*


Berbeda dengan Mila yang tengah bersedih karena mengetahui keberadaan ayahnya dengan keluarga lainnya. Kini Mia tengah kesal pada pria yang berada di sampingnya.


Erik tiba-tiba membawanya pergi dari acara pesta pernikahan kakaknya secara paksa, bahkan Erik menggendong nya di hadapan semua orang membuat Mia merasa sangat malu menjadi bahan tontonan para tamu, dan menjadi bahan candaan para pengawal lainnya.


"Kau sangat menyebalkan, tidak waras dan tidak punya etika. Kau menggendong seorang gadis baik baik sepertiku di hadapan orang banyak, bagaimana jika kakak melihatnya tadi bisa bisa tanganmu itu di potong olehnya.'' Mia mengerucutkan bibirnya karena sejak tadi ucapannya tidak di gubris sama sekali oleh Erik.

__ADS_1


"Hey, kau itu mendengarku atau tidak!'' Mia sedikit menaikan intronasi suaranya di hadapan Erik.


Brakk....


Erik menggebrak meja dan menatap tajam ke arah Mia, membuat Mia sedikit ketakutan saat melihat raut penuh kemarahan di wajah Erik.


"Ini semua salahmu karena sikap kekanakanmu aku terjebak bersama denganmu disini, apa kau pikir aku senang? kau terlalu naif nona! bukan tanganku yang harus di potong tapi tanganmu yang sudah mengganggu ketenangan dan kebebasanku. Karena kau, aku tidak bisa melakukan apapun saat ini.'' Ucap Erik yang langsung mendorong tubuh Mia ke dinding.


Walau Mia adalah sosok gadis pemberani dan tak mudah di tindas, kini Mia hanya menutup matanya karena merasa sangat takut melihat wahah Erik yang terlihat menyeramkan baginya.


Tangannya sedikit bergetar ia merasa sangat takut jika Erik berbuat sesuatu hal yang nekat padanya. Dengan cepat Mia pun berusaha menarik tangannya agar bisa pergi meninggalkan Erik saat ini juga.


Namun karena terlalu syok yang berlebihan membuat membuat Mia hilang kesadaran dan jatuh pingsan di hadapan Erik, beruntung Erik dengan cepat menangkap tubuh mungilnya.


Erik menghela nafasnya secara kasar saat menatap wajah pucat Mia. " Menyusahkan saja!'' dengan cepat Erik pun membawa Mia ketempat istrahatnya.


"Dasar gadis bodoh dia sangat ceroboh sekali menyakiti dirinya sendiri,'' gumam Erik saat melihat tangan Mia terluka karena borgolnya. Dengan cepat Erik merogoh sakunya untuk mengambil ponsel dan menghubungi anak buahnya, namun sesuatu terjatuh di samping sepatunya.


"Kebetulan macam apa ini? sejak tadi aku mencarinya tapi ternyata kunci ini ada di saku ku sendiri!'' Dengan cepat Erik pun mengambil kunci borgol miliknya dan mulai membuka borgolnya.


Hiks... Hiks.. Mia mulai menangis dalam tidurnya, membuat Erik sedikit kesal karena ia tak ingin jika pengawal lain mendengarnya dan berpikir hal yang lain pada Erik.


"Hey nona bangunlah, tidak perlu bersandiwara di hadapanku!'' Seru Erik yang langsung memegang tangan Mia untuk membangunkan nya.


"Dia demam? apakah tadi aku terlalu kasar padanya?''


"Bos apa anda di dalam?'' Ucap salah satu anak buahnya sambil mengetuk ruang istrahat Erik, dengan cepat Erik pun menutup mulut Mia agar tangisnya tidak sampai di dengar oleh para pengawal lain. Namun di luar dugaan Mia langsung memeluk nya dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Erik.

__ADS_1


"Ada apa dengan jantungku?''


Bersambung...


__ADS_2