
Ravin memeluk Mila dengan sangat erat tanda begitu besarnya dan begitu tulusnya rasa cinta dan kasih sayangnya untuk sang istri, sedangkan Mila semakin menangis di pelukan suaminya namun bukan karena ia terluka dan kecewa atau cemburu hanya karena soal foto.
Tapi Mila bersyukur mendapatkan cinta yang begitu besar dan tak hanya itu ia pun bersyukur karena telah di karuniai triplet baby D yang lucu dan menggemaskan.
"Jangan pernah berpikir aku akan pergi jauh darimu karena sampai kapan pun aku hanya milikmu dan begitu juga sebaliknya.'' Ucap Ravin yang terus memberikan beberapa kecupan di pucuk kepala sang istri.
''Aku sangat percaya padamu kak, tapi aku hanya perlu bukti bukan janji." Jawab Mila sarkas.
"Aku akan membuktikannya dengan caraku sendiri.''
Berbeda dengan mereka yang kini tengah di mabuk asmara, di ruangan yang tengah di hias dengan berbagai macam aksesoris dekor dan beberapa balon warna warni Mia dan nyonya Renata merasa sangat kebingungan, pasalnya triplet baby D tengah menangis secara bersamaan dan membuat bingung semua orang karena tangisannya semakin kencang dan tak ada yang manpu menghentikan tangisan para bayi itu.
"Kemana kakak kenapa lama sekali, apakah mereka bertengkar. Ya ampun cup.. cup sayang anak-anak manis apa kalian lapar? tunggu mommy kalian sebentar ya!" Mia menggendong Devandra untuk menenangkan nya dan nyonya Renata menggendong Deandra sedangkan Devira bersama dengan Kenzo dan nani nya
"Juna kau baru datang! sekarang cari Ravin dan Mila." permintaan nyonya Renata saat melihat Juna dan Erik baru memasuki ruangan itu dan langsung di angguki oleh Juna.
Namun saat Juna akan melangkahkan kakinya keluar ia melihat Riri masuk ke dalam ruangan itu bersamaan dengan Mila dan Ravin yang berada di belakangnya.
Dengan wajah cemasnya Mila datang menghampiri buah hatinya yang kini sedang menangis secara bersamaan, begitu juga dengan Ravin yang selalu siaga membantu sang istri untuk menenangkan triplet baby D.
"Mommy, Mia Kenzo dan yang lainnya sudah berusaha untuk menenangkan mereka tapi tak berhasil. Tapi saat melihat kalian berdua mereka langsung diam seketika." Nyonya Renata merasa tercengang dengan kelakuan ajaib para bayi mengil dan menggemaskan itu.
''Maaf mom, Mila terlalu lama meninggalkan mereka." Sahut Mia dengan perasaan bersalah nya.
"Tidak masalah sayang, jangan terlalu sungkan mereka juga tanggung jawabku. Jika ada masalah apapun katakan saja mommy akan siap membantu mu.''
__ADS_1
" Terimakasih mom,'' Mila sangat merasa sangat bersyukur di kelilingi oleh orang-orang yang begitu sangat sayang padanya.
"Selamat atas kelahiran triplet baby,mereka sangat lucu dan menggemaskan."
"Riri, apa kau datang sendirian, dimana ibu?" tanya Mila.
"Maaf ibu tak bisa datang kak, lututnya sakit." Sahut Riri memberi alasan, bahwa sejujurnya sang ibu tengah menemani sang kakak yang kini di rawat di rumah sakit. Setelah beberapa bulan berpisah dengan Mila membuat Hendra kehilangan arah dan tujuan hidupnya, hingga ia selalu mengurung dirinya tanpa makan ataupun minum.
"Kak apakah aku boleh memotret mereka hanya sekali saja, untuk di perlihatkan pada ibu?'' tanya Riri meminta ijin dan menatap mantan kakak iparnya dengan sangat memohon.
"Kau boleh memotretnya tapi jangan pernah kau umbar di publik karena aku tidak ingin anak-anakku menjadi sorotan dan bisa mendatangkan orang-orang yang akan berniat jahat pada mereka!" sahut Ravin dengan tegas.
"Baik tuan dan terimakasih.'' Riri merasa sangat senanag dan langsung mengambil potret triplet baby D dan langsung mengirimkannya pada sang kakak.
''Ahhhh... Ternyata kita memang berjodoh!'' pekik Mia dalam hatinya.
Ting suara pesan masuk ke ponsel Hendra. Ia langsung membuka pesan itu saat melihat nama Riri yang tertera disana. Hendra tersenyum mengusap gambar yang di kirimkan oleh adiknya.
"Pesan dari siapa Hen?'' tanya Bu Isna yang langsung terlihat penasaran saat melihat putranya tersenyum bahagia.
"Ini pesan dari Riri, dia mengirimkan foto anak-anak Mila bu! lihatlah mereka sangat lucu!'' seru Hendra dengan wajah penuh kebahagiaan namun dalam hatinya ia menangis menyesali bahwa bayi itu bukan miliknya.
Bu Isna langsung mengambil ponsel putranya dan melihat bagaimana rupa anak-anak dari mantan menantunya itu, ''mereka sangat manis! ibu ingin sekali menggendong nya."
"Andai saja waktu itu aku tidak melakukan kekerasan padanya mungkin ibu sudah menggendong cucu ibu.'' Sahut Hendra dengan wajah sendunya.
__ADS_1
"Sudahlah yang lalu biarlah berlalu, ini sudah jalan takdir dari yang maha kuasa jangan terus menyalahkan dirimu sendiri.''
"Kesalahan ku sangat patal bu, aku membuang berlian demi sebuah batu keril itu adalah hal yang sangat bodoh dan satu lagi entah ada dimana wanita itu sekarang! Jika aku bertemu dengan nya aku akan membalaskan semua rasa sakit dan penderitaan yang sudah aku alami.'' Ucap Hendra dengan kilatan kemarahan di matanya.
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, kamu masih sakit dan perlu istrahat yang banyak sekarang tidurlah dan lupakan semua masa lalu yang buruk dan mulailah dengan hidup yang baru.'' Ucap bu Isna menasephati putranya.
*
*
Di mansion utama. Setelah serangkaian acara selesai kini para tamu undangan pun mulai pergi meninggalkan tempat itu secara bertahap. Sedangkan Mia masih mencuri pandang pada Erik yang kini tengah mengobrol serius dengan Juna.
Semua itu tak luput dari pandangan Riri, ia berpikir bahwa yang sedang Mia pandang saat ini adalah Juna karena beberapa bulan yang lalu saat ia hadir di acara tujuh bulanan kehamilan Mila, ia melihat Juna tengah menggandeng Mia dengan begitu mesra.
"Apakah Juna sudah melupakan aku? ini memang bukan salahnya, ini salahku karena telah melukai hati dan perasaannya bahkan aku juga sudah melukai harga dirinya saat itu. Maaf Juna maafkan aku.'' Batin Riri menangis merasa sangat sesak namun itulah jalan yang ia pilih sendiri ada banyak alasan hingga Riri memilih mengakhiri hubungannya bersama dengan Juna.
Sedangkan Juna yang merasa dirinya di awasi pun langsung memindai seluruh ruangan itu dan mendapati Riri yang memandang nya dengan tatapan yang sulit di artikan, begitu juga dengan Mia yang menatap ke arahnya sambil tersenyum manis.
"Kenapa waktunya pas sekali, apakah Mia sengaja untuk memanas manasi Riri?'' tanya Juna pada dirinya sendiri. Kini ia pun membalas senyuman Mia dengan kedipan matanya untuk menggoda Mia.
Erik yang melihat apa yang di lakukan Juna pun langsung memandang ke arah yang sama. ''Owh jadi mereka sudah mulai menjalin hubungan lebih dekat! syukurlah kalau begitu gadis konyol itu tidak akan pernah mengganggu ketenangan ku lagi karena sudah ada Juna yang mengatasinya.'' Batin Erik.
Kini Erik pun mulai mempelajari apa yang sudah di perintahkan Ravin padanya dan tak memperdulikan apa yang terjadi di sekitarnya saat ini.
Bersambung..
__ADS_1