
Mila memegangi kepalanya yang masih terasa pusing, sejenak ia teringat kembali percakapan antara juna dan hendra di luar mansion. Tanpa sadar ia pun mengusap perut nya yang rata dan meneteskan air matanya.
''Mengapa takdirku begitu sulit banyak hal buruk yang sering terjadi akhir-akhir ini, aku sudah berusaha semampuku untuk melupakan segalanya dan membuka lembaran baru. Namun mengapa semua yang ku lakukan seperti sia sia saja pada akhirnya aku akan merasakan terluka lagi. Kebahagiaan seakan menjauhiku dan enggan bersama dengan ku apakah aku tak pantas dengan itu semua."
"Mommy apa kau lapar?'' tanya Kenzo dengan wajah polosnya, saat melihat wanita yang begitu ia sayangi menangis sambil memegangi perutnya.
Mila melirik pada makhluk kecil yang selalu membuatnya tersenyum dan bersemangat untuk melewati hari harinya. ''Aku tahu dia bukan putra kandungku, tapi dialah yang selalu menguatkan aku di saat seperti ini.''
Mila tersenyum dan megelus pipi gembul kenzo dengan lembut. "Mommy apa aku yang sudah membuatmu kelelahan saat kita bermain di tempat wisata tadi.''
"Tidak nak, aku hanya sedikit pusing saja.''
"Kenz, keluarlah sebentar daddy ingin berbicara dengan dia sebentar!"
"Daddy bukan dia tapi mommy!'' protes Kenzo yang menatap tajam ke arah daddy nya.
"Iya, iya baiklah mommy. Apa kau senang?'' tanya Ravin yang mengacak-acak rambut keriting putranya dengan gemas.
"Aku senang, daddy lain hari aku ingin kita pergi bersama lagi.''
"Baiklah!''
''Mommy aku keluar sebentar ya,'' pamit Kenzo pada Mila yang kini sedang duduk di ranjangnya.
''Iya sayang!''
Suasana kini menjadi hening saat Kenzo keluar dari kamar Mila. Kini hanya ada Ravin dan Mila saja yang berada di ruangan itu.
''Minum obat mu dulu,'' ucap Ravin memecah keheningan di antara mereka. Ia menyodorkan segelas air dan obat pada Mila.
Mila pun menerima nya dan langsung meminumnya dengan cepat agar Ravin segera pergi meninggalkan nya di ruangan itu, namun ternyata apa yang ada di pikirannya itu tidak terjadi.
"Bagaimana apa kau sudah memikirkan tawaranku?'' pertanyaan Ravin membuat Mila hampir tesendat air yang sedang ia minum.
__ADS_1
''Apa?'' Tanya mila yang pura-pura tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Ravin saat ini.
"Aku tidak akan mengulangi kata-kata ku untuk kedua kalinya, aku yakin kau masih mengingat hal itu dengan sangat jelas." Ujar Ravin dengan nada dinginnya.
Perkataan Ravin bagaikan anak panah yang melesat tepat sasaran, Mila pun menghela nafas panjangnya dan menatap kearah pria yang sedang berdiri di hadapan nya. Ia pun mengingat kembali apa yang sudah Ravin katakan saat dirinya berada di rumah sakit saat itu.
Flashback.
Setelah menyelesaikan kesalah pahaman Ravin pada mila, kini mereka kembali diam membuat suasana di ruangan itu terasa sunyi dan sepi, tak ada yang mau memulai percakapan di antara mereka terlebih dahulu mereka masih sibuk dengan pikirannya masing masing.
"Mari kita Menikah!'' Aaak Ravin secara tiba-tiba. Setelah beberapa saat mereka terdiam dalam keheningan membuat Mila langsung menatap ke arahnya dengan penuh tanda tanya.
"Menikah?''
"Ya, demi putraku! aku harap kita bisa bekerja sama dengan hal ini. Aku akan memberikan mu semua pasilitas sebagai istri Ravindra, tapi kau hanya akan menjadi ibu dari putraku bukan istri sebenarnya Karena hanya ibu kandung Kenzo adalah wanita yang paling aku cintai saat ini dan selamanya."
"Bagi saya pernikahan adalah hal yang sakral tuan, saat ini saya tidak ingin menikah dengan siapa pun terlebih lagi jika masih ada wanita lain di hati anda. Saya tak ingin merasakan sakit hati untuk yang kedua kalinya." Tolak Mila tanpa berpikir panjang.
"Ya, lalu apa kata orang jika setelah kita menikah namun sang suami masih mencintai istri pertamanya. Lalu apa bedanya aku dengan pelakor dan satu lagi mereka pasti akan mengira aku hanya menginginkan harta mu saja tuan!''
''Jangan perdulikan mereka.'' Jawab Ravin dengan entengnya. "Ingat pikirkan kembali tawaranku dan aku akan mengurus hal yang lainnya.''
Setelah mengatakan hal itu Ravin pun keluar dari ruangan Mila, sedangkan Mila masih memikirkan apa yang di katakan oleh Ravin padanya.
Flashback End.
"Apa kau sudah mengingatnya?" tanya Ravin saat melihat Mila hanya diam saja dan terhanyut dalam lamunannya sendiri.
"Sudah aku katakan dari awal tuan aku tidak ingin menikah dengan siapapun. Pernikahan ku yang gagal menyadarkan diriku bahwa tanpa cinta dan kepercayaan hubungan akan berakhir begitu saja, dan meninggalkan luka yang begitu dalam. Dan karena hal itu aku tidak akan pernah mengawali semua hubungan apapun berdasarkan sebuah kebohongan dan hanya memikirkan kebahagiaan sesaat saja, aku mohon mengertilah diriku saat ini''
Mila mengungkapkan semua yang ada dalam hatinya pada Ravin dengan penuh kejujuran ia masih merasa trauma dengan sebuah hubungan yang begitu menyiksa hati dan pikirannya. Kini Mila memilih untuk hidup sendiri tanpa sebuah hubungan pernikahan terlebih saat Ravin melamarnya hanya untuk menjadikan nya hanya sebagai ibu pengganti dari putranya saja, Mila berpikir entah bagaimana kehidupannya nanti.
''Baiklah aku tidak akan memaksamu untuk hal ini.''
__ADS_1
"Kau tenang saja tuan aku akan tetap membantu mu menjaga putramu sampai dia mengerti apa arti sebuah hubungan. Mari kita berteman!'' Mila menyodorkan tangannya pada Ravin dengan senyuman penuh ketulusan.
[Mari kira berteman!]
Ucapan yang baru saja Mila lontarkan mengingatkan Ravin pada seseorang di masa lalunya. "Kenapa kata-kata itu mengingatkan aku pada seseorang?" gumam Ravin dalam hatinya.
Karena Ravin tak kunjung menjabat tangannya Mila pun kembali menarik tangannya dengan sedikit kecewa.
"Mommy!'' Kenzo datang menghampiri Mila dan Ravin yang sedang saling diam tanpa kata-kata yang mereka ucapkan.
"Mommy aku datang membawakan jus untuk mu grandma bilang kau akan merasa segar setelah meminum jus ini." Ucap Kenzo dengan wajah cerianya, menyodorkan segelas jus jeruk pada Mila.
"Terimakasih sayang.'' Dengan senang hati Mila pun menerima jus yang di berikan Kenzo padanya.
"Mommy aku membawa sesuatu untuk mu!"
"Apa itu?''
"Lihat ini aku membuat nya sendiri khusus untuk mu." Kenzo memperlihatkan hasil lukisannya beberapa hari yang lalu.
"Waw... Cantik sekali sangat luar biasa.'' Mila mulai meneteskan air matanya Karena merasa sangat terharu dengan apa yang Kenzo berikan padanya.
"Kenzo andaikan saja kau adalah putra kandungku mungkin aku akan menjadi ibu yang paling bahagia di dunia ini, tapi nyatanya hubungan kita hanya sebatas pekerjaan tapi walau begitu aku sangat bersyukur bisa mengenal bocah menggemaskan seperti mu.''
"Apa ini, tidak ada aku di dalamnya apa kau melupakan daddy mu ini Kenz?'' Ravin merasa tak terima dengan sikap putranya dengan gemas ia pun menggelitik perut sang putra hingga membuat Kenzo tertawa geli.
''Mommy tolong aku!'' pekik Kenzo meminta pertolongan.
"Tidak akan ada yang menolong mu Kenz!''
Tawa bahagia dari kamar itu pun terdengar sampai ke luar ruangan membuat para pelayan yang berada di sana pun ikut bahagia mendengarnya. Kini para pelayan mansion mulai berbisik bisik memulai sesi menggosipnya.
Bersambung...
__ADS_1