Setelah 11 Tahun Pernikahan

Setelah 11 Tahun Pernikahan
Bab 87


__ADS_3

Erik menatap seluruh tubuhnya. Ia bernafas lega saat melihat dirinya dan Mia masih berpakaian lengkap dan berusaha mengingat kembali kejadian semalam. Erik mendengus kesal saat mengingat beberapa adegan konyolnya semalam menari bersama dengan Mia.


''Harusnya aku tidak minum semalam, selama ini hanya Arga dan beberapa pengawal lain yang tahu kebiasaanku saat mabuk. Tapi sekarang dia juga tahu tentang hal ini.'' Ucapnya lirih menatap wajah pulas Mia yang tertidur nyaman menjadikan lengannya sebagai bantal.


Namun suara bel berbunyi nyaring memekakan telinga, mengejutkan Erik dari lamunannya ''Siapa yang datang di pagi buta seperti ini?'' sekilas Erik menatap jam yang menempel di dinding. Kini tatapannya tertuju pada Mia yang tertidur pulas di sampingnya.


Erik terbangun dan menarik tangannya dengan sangat kasar membuat Mia terbangun dari tidurnya karena terkejut.


"Apa yang kau lakukan Erik?'' tanya Mia pada pria yang kini berjalan keluar dari kamarnya. Mia merasa kesal karena Erik sudah mengganggu tidur nyamannya dan tak menjawab pertanyaan nya.


"Dasar singa kutub! untung cinta kalau tidak sudah ku lempar kepalanya itu dengan bantal ini." tukas Mia yang memukuli bantal dengan dangat brutal. Namun detik berikutnya ia kembali teringat saat tengah malam tadi ia pindah ke kamar Erik karena tak bisa tidur sendirian di kamar asing.


Mia menepuk keningnya dan menggigit bibirnya sendiri saat mengingat apa kesalahan nya saat ini. "Bodoh! dia pasti berpikir hal yang tidak tidak tentangku" pekiknya lirih Mia merasa sangat malu dengan ulahnya sendiri dan kembali menyelimuti seluh tubuhnya kembali.


"Dimana Mia?'' tanya Mila tanpa basa basi saat Erik membuka pintu apartemen itu dan langsung menerobos masuk sebelum Erik menjawab nya.


"Selamat pagi tuan muda!'' sapa Erik sedikit membungkukan badannya seperti biasa saat ia masih menjadi pengawal kepercayaan Ravin.


"Apa yang kau lakukan? kau adalah seorang tuan muda, jangan membungkukan tubuhmu seperti tadi. Kita setara Erik!'' Ravin menepuk pundak Erik perlahan sebelum ia menghampiri sang istri.


Namun langkahnya terhenti saat mengingat sesuatu dan kembali menatap Erik yang masih berdiri tempatnya. ''Belajarlah bagaimana menjadi tuan muda yang bersikap layaknya bangsawan agar terlihat berwibawa, karena kelak kau akan sering bertemu dengan para bangsawan dan para pembisnis dari berbagai negara." Ucap Ravin menasihati.


"Baik tuan saya akan terus belajar seperti yang anda katakan!'' sahut Erik dengan mantap.


Berbeda dengan Ravin dan Erik, dua wanita dengan usia yang tak berbeda jauh kini saling menatap dengan tatapan yang berbeda.


"Dek!'' Mila mulai membuka suara, namun dengan cepat Mia menaikan satu tangannya tanda ia tak ingin mendengar apapun dan menatap sang kakak dengan wajah kecewanya.

__ADS_1


''Cukup kak, aku tidak ingin mendengar ucapan apapun lagi saat ini jika kedatangan mu hanya untuk membujukku menerima putri penghianat itu.'' Ucap Mia tanpa melihat ke arah sang kakak, namun Mila yang langsung duduk di samping sang adik dengan rasa bersalahnya.


"Kalau kakak diam, mana mungkin kamu tahu ceritanya dek!'' seru Mila yang mulai memeluk adiknya dengan erat.


"Benar juga sih apa yang kakak bilang tadi, kalau aku tak mendengar ceritanya mana mungkin aku tahu bagaimana cerita itu? batin Mia meronta jiwa keponya mulai terombang ambing namun ia masih tetap pada pendiriannya.


"Kakak pergilah aku sedang tidak ingin di ganggu saat ini.'' Ucap Mia yang langsung melepaskan pelukan sang kakak.


"Yakin nih nggak mau denger cerita nya dek?" tanya Mila yang sedikit mendesak sang adik.


"Nggak perlu!'' seru Mia sambil menganggukan kepalanya.


Mila menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol dan sedikit kekanakan adiknya, ''meskipun umurnya sudah menginjak dua puluh lima tahun, tapi jika di jejerkan dengan Kenzo mereka sama saja.'' Mila terkekeh geli dalam hatinya.


"Oke lah kalau begitu! kakak pulang dulu Kenzo pasti sudah menunggu kakak.''


"Pergilah!'' usir Mia dengan cepat.


''Lima, empat, tiga, dua, sa_''


"Apa kau tidak mau membujukku kak? Agghh kau itu sangat menyebalkan andai saja ibu masih ada akan aku adukan semua ini padanya.'' Ucap Mia dengan wajah kesalnya.


Mila tersenyum samar saat mendengar umpatan adiknya. "Maaf," Mila berbalik menatap sang adik dan memeluk nya kembali dengan sangat erat.


"Mia kakak melakukan hal ini, karena kakak ingin dia merasakan apa yang pernah kita rasakan dulu kakak juga tak sudi membantu nya begitu saja, memangnya dia pikir siapa dirinya enak saja mebcari kita saat mereka dalam keadaan terjepit." Ujar Mila menjelaskan.


"Apa maksud kakak?" tanya Mia dengan wajah bingungnya.

__ADS_1


"Kakak akan memberikan pelajaran berharga untuk gadis serakah seperti dia, bukankan menjatuhkan orang yang sedang terbang tanpa persiapan itu lebih mudah?'' sahut Mila membuat Mia bertambah bingung dengan ucapan yang seperti teka teki menurutnya.


"Sudah cukup jangan buat aku bingung kak, katakan saja inti dari cerita itu!"


''Oh adikku yang manis ini sangat tidak sabaran sekali, baiklah dengarkan baik baik dan jangan menyela sebelum kakak selesai."


"Iya iya ayo cepat ceritakan!'' seru Mia yang sudah tidak sabaran dan sangat penasaran dengan apa yang sedang di rencanakan oleh kakak dan kakak iparnya itu.


Kini Mila pun mulai menceritakan dari awal Sesilia datang padanya hingga ia dan Ravin mulai merencanakan hal besar untuk membuat Sesilia senang dan merasa dirinya menang, Mila terus menceritakan apa saja yang ia ketahui pada sang adik.


"Kau sudah melakukan hal yang benar kak, tapi aku masih kesal denganmu kenapa kau tidak memberi tahu aku sejak awal dan kakak ipar dia sangat menyebalkan dia jahat sekali sudah membuatku menangis.'' Mia mulai mengerucutkan bibirnya dan memeluk Mila dengan manja.


"Maaf.''


"Kak?''


"Hmmm''


"Lalu bagaimana anak penghianat itu sekarang?" tanya Mia penasaran.


"Entahlah, hanya Kak Ravin yang tahu soal itu.''


Di tempat Lain. Sesilia merasa sangat ketakutan saat dirinya harus berhadapan dengan beberapa gigolo suruhan Juna. Ya Juna dan Ravin sudah memberikan pelajaran berharga untuk gadis serakah seperti Sesilia agar dia jera dan mulai berpikir ulang jika untuk memanfaatkan keluarga Adyaksa apalagi jika menyankut istri kesayangan Ravindra Adyaksa.


"Bagaimana apa kau suka dengan hadiah dari tuan Ravin?" tanya Juna menatap sinis pada gadis angkuh dan sombong itu kini berdiri dengan wajah penuh ketakutan.


"Ja.. Jangan lakukan ini padaku aku mohon, aku akan meminta maaf pada tuan dan nyonya Adyaksa tapi jangan lakukan hal ini padaku aku mohon." Sesilia milai bersimpuh di kaki Juna dengan wajah memelasnya.

__ADS_1


Juna tersenyum smirk menatap jijik pada wanita yang tengah bersujud di bawah kakinya. "Hey kalian lakukan pekerjaan mu, aku tahu ini bukan yang pertama kalinya untuk wanita itu!" perintah Juna yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Sesilia dan tiga gigolo.


Bersambung...


__ADS_2