
Mia meremas tangannya dan menghampiri Hendra yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. ''Hey, kau sedang apa kau disini? apakah belum cukup bagimu untuk mengganggu kebahagiaan kakakku?'' Tanya Mia dengan nada ketus dan raut wajah tidak sukanya menatap pada pria yang pernah menjadi kakak ipar favoritnya.
Hendra menatap wajah mantan adik iparnya dengan raut wajah sedih dan penuh penyesalan. "Aku Tidak akan mengganggu kakakmu lagi, tapi aku hanya ingin memberikan ini sebagai kenang-kenangan dariku.'' Hendra menyodorkan sebuah kotak hadiah pada Mia, namun Mia tak mengambil kotak hadiah yang di berikan Hendra padanya.
"Kau itu pura-pura bodoh atau memang sangat bodoh? tuan Ravin memiliki seganya, dan mana mungkin dia mengijinkan kakakku menerima hadiah dari mantan suaminya." Ucap Mia dengan tersenyum sinis melihat kotak hadiah yang di sodorkan Hendra padanya.
"Kau benar Mia.'' Hendra kembali menarik tangannya dan pergi begitu saja tanpa mengatakan hal apapun lagi pada Mia.
"Dasar Pria tidak waras, puas sekali aku melihat wajah penuh penyesalan nya, Itulah akibatnya jika selalu menuruti ego dan nafsu belaka." Mia tersenyum smirk menatap ke arah Hendra yang semakin menjauh darinya.
''Kau ikutlah dengan ku'' Ucap Erik yang datang secara tiba-tiba mengejutkan Mia dari aktifitas nya mengumpat Hendra.
"Kau lagi, kau lagi. Aku bosan melihatmu yang selalu ada dimana-mana, aku juga heran kenapa kau selalu mengikutiku apakah kau mulai tertarik padaku? sebaiknya kau urungkan saja niatmu. Karena kau bukan tipe pria idamanku.'' Ucap Mia dengan ketus pada Erik yang menatapnya dengan raut wajah tanpa ekspresi.
"Sepertinya anda adalah wanita yang penuh percaya diri sekali nona, tapi sayangnya kau juga tidak masuk kriteriaku. Apa yang bisa aku lihat darimu.'' Erik tersenyum mengejek saat memindai Mia dari atas sampai bawah.
Mia langsung menutupi dadanya saat melihat Erik yang kini sedang menatapnya dengan tatapan mengejek. "Dasar otak mesum!" Pekik Mia yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Erik yang masih berdiri di tempatnya.
"Gadis koyol yang aneh.'' Gumam Erik lirih,
*
*
Di mansion utama, semua para pelayan dan para pengawal sedang menghiasnya dengan berbagai macam bunga segar, untuk menyambut kedatangan pengantin baru sesuai dengan intruksi Juna.
"Ada acara apa ini?'' Tanya nyonya Renata, yang baru kembali dari luar untuk mengajak cucu kesayangan nya agar tidak terus bersedih menunggu kedatangan Mila.
"Untuk menyambut pengantin baru nyonya besar. '' Sahut salah satu pengawal Ravin menjelaskan.
"Pengantin, siapa yang menikah!" Ucap nyonya Renata dengan nada terkejut nya.
"Tuan muda dan nona Mila nyonya,''
__ADS_1
"Apa?'' Nyonya Renata semakin terkejut di buatnya saat mendengar ucapan dari pengawal itu.
"Anak itu selalu saja melakukan apapun sesuka hatinya. Kenz apa kau mendengar nya mommy dan daddy mu kini sudah menikah, sekarang mila sudah sah menjadi mommy mu'' Ucap nyonya Renata yang langsung menggendong cucu kesayangan nya.
"Benarkah grandma.'' Sahut Kenzo dengan wajah penuh semangat nya.
"Benar sayang, kita tunggu sampai mereka datang oke''
"Oke grandma" Kenzo merasa sangat bahagia setelah mendengar penjelasan grandma nya.
''Aku harus memberikan hadiah untuk mommy karena sudah mau menikah dengan daddy." Kenzo langsung berlari ke kamarnya untuk mencari sesuatu yang pantas untuk diberikan pada mommy baru nya.
Sedangkan nyonya Renata langsung menelpon wedding organizer untuk mendekor mansion utama dengan sangat mewah, tak hanya itu nyonya Renata pun langsung mengundang keluarga besarnya beberapa pembisnis dan teman dekatnya.
''Pak Lim apa semuanya sudah selesai, jangan lupa siapkan jamuan yang istimewa untuk tamu VIP.''
"Baik nyonya'' Pak Lim pun langsung pergi untuk menjalankan tugas nya dari nyonya Renata.
Nyonya Renata mengehela nafas lega saat mendengar pernikahan putranya, ''Akhirnya Ravin mau menikah lagi dan mengabulkan permintaan putranya." Nyonya Renata sangat bersyukur dengan keputusan putranya ia pun tersenyum penuh kebahagiaan dan mulai memberikan intruksi pada para pendekor ruangan.
*
*
Kini Mila dan Ravin baru keluar dari kantor catatan negri sipil. saat ini mereka sudah sah menjadi suami istri, Mila menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, ia menatap lekat pada buku nikah yang ada di tangannya saat ini.
"Sekarang aku sudah menjadi istri dari teman masa kecil ku ayah, sudah sangat lama aku tidak bertemu dengan mu dimana kau berada sekarang? apakah kau baik-baik saja atau kau," Mila berhenti menerka-nerka apa yang ada dalam pikirannya saat ini saat mendengar suara pria yang sudah sah menjadi suaminya beberapa menit yang lalu.
"Apa yang seda kau pikirkan saat ini?" Tanya Ravin penuh selidik.
"Tidak ada'' Jawab Mila singkat.
"Jangan berbohong padaku Lala, aku bisa melihat raut wajahmu saat ini. Apakah kau menyesal sudah menikah dengan ku dan.. ?''
__ADS_1
"Tidak bukan itu!'' Mila langsung menyangkalnya dengan cepat saat mendengar pertanyaan Ravin padanya saat ini.
"Lalu?''
"Aku hanya.. ''
"Tuan semuanya sudah siap kita berangkat sekarang juga.'' Ucap Juna yang langsung memotong ucapan Mila saat ini.
"Tunggu sebentar. Teruskan!" Ravin langsung menatap ke arah istrinya yang kini sedang menunduk di hadapannya.
"Kau adalah nyonya muda Adyaksa jangan pernah menundukan kepalamu di hadapan siapapun'' Ucap Ravin pada istrinya.
"Maaf''
"Kau tidak salah apapun jangan meminta maaf padaku, jadi apa yang sedang istriku pikirkan saat ini?" Tanya Ravin sambil membelai rambut istrinya.
Mila menghela nafasnya secara perlahan dan menatap ke wajah tampan suami barunya. ''Aku hanya merindukan ayah saja'' Ucap Mila singkat.
"Pria itu, haruskah aku mengatakan nya pada Lala saat ini? tidak dia pasti tidak akan menerimanya dan sudah di pastikan hari pernikahan kami akan hancur.'' Ucap Ravin dalam hatinya.
"Jangan terlalu di pikirkan semuanya akan baik-baik saja, aku akan berusaha untuk mencari keberadaan ayah mu nanti.'' Ucap Ravin yang langsung memeluk istrinya dengan sangat erat untuk menyalurkan kekuatan padanya.
"Terimakasih'' Jawab Mila lirih dan langsung mendapatkan cubitan kecil di hidung mancungnya.
" Tidak ada terimakasih untuk cinta kau adalah istriku apapun yang aku lakukan semuanya untuk kebaikan kita berdua, jadi sayang ayo kita pulang aku sudah menyiapkan kejutan istimewa untukmu.'' Ucap Ravin yang langsung menggendong tubuh ramping istrinya ala bridal style di hadapan para pengawalnya.
"Turunkan aku, aku sangat malu sekali.'' Bisik Mila di samping telinga Ravin.
"Kenapa harus malu mereka tidak melihat kita.'' Jawab Ravin dengan bentengnya.
"Kalian jangan melihat nya'' Perintah Ravin pada anak buahnya, dan langsung di turuti oleh para pengawal yang ada di sana.
"Beginilah kalau tuan muda jatuh cinta," gumam Juna lirih dan masih dapat di dengar oleh Mila.
__ADS_1
Bersambung