Setelah 11 Tahun Pernikahan

Setelah 11 Tahun Pernikahan
Bab 67


__ADS_3

Mila menarik sudut bibirnya saat melihat pria paruh baya yang bertubuh tegap dan masih terlihat tampan dengan sedikit kerutan di keningnya, kini sedang berjalan di atas karpet merah tersenyum dan mulai menghampirinya, rasa bahagia bercampur haru pun kini Mila rasakan dalam hatinya.


"Ayah," gumam Mila lirih menatap pria berjalan sangat lambat menurutnya. Dengan cepat Mila pun bersiap untuk menyambut kedatangan pria paruh baya itu dan bergegas akan menghampirinya. Karena Mila sudah tak sabar lagi untuk memeluk ayahnya yang selama ini menghilang entah kemana.


"Ayah, akhirnya aku menemukan ayah!"


Dengan senang hati Mila pun kini berjalan menghampiri sang ayah. Namun langkahnya terhenti saat melihat gadis kecil yang usianya hampir sama dengan Mia dan seorang wanita paruh baya kini berjalan menggandeng tangan sang ayah.


"Ini tidak mungkin! aku tidak mungkin salah mengenalinya. Walau banyak perubahan, tapi aku yakin dia adalah ayahku. Begitu juga dengan hatiku.'' Mila meremas gaunnya saat melihat pria yang di anggap sebagai ayahnya melewati dirinya begitu saja, mereka seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain.


Mila merasa sangat sedih dan terluka saat melihat itu semua di depan matanya sendiri. "Apakah selama ini ayah pergi tanpa kabar karena sudah menghianati ibu?'' Kini air mata Mila pun kini lolos begitu saja membasahi pipi mulusnya.


Dari tempat yang tidak terlalu jauh, Ravin melihat kesedihan istrinya, sama seperti Mila ia juga bisa merasakan apa yang sedang Mila rasakan saat ini.


"Juna kenapa kau mengundang pria itu juga?" Tanya Ravin dengan menahan segala emosi yang ada didalam hatinya, ia merasa sangat tidak terima melihat istrinya menangis sedih di hari bahagianya.


"Maaf tuan, tapi bukan saya yang mengundang tuan Bisma dan keluaganya. Mungkin mereka semua di undang langsung oleh nyonya besar." Sahut juna yang tak mau di salahkan.


"Selidiki semua tentang masalalu pria itu dan segera bawa padaku, ingat jangan sampai ada yang terlewatkan!''


"Baik tuan.'' Juna pun langsung berjalan pergi meninggalkan Ravin setelah mendapatkan perintah darinya. Sedangkan Ravin langsung berjalan menghampiri istrinya dengan raut wajah yang di buat setenang mungkin.


"Sayang ada apa?" Tanya Ravin yang pura-pura tidak mengetahui apapun.


"Hmm... Tidak ada apapun, owh iya dimana Kenzo." Mila langsung mengubah ekspresinya di hadapan Ravin. Ia tak ingin menghancurkan momen pernikahannya dan membuat suami barunya bersedih.


Ravin menghela nafasnya dan menatap wajah istrinya yang pura-pura terlihat baik baik saja di hadapannya. "Kenapa dia menyembunyikan semua kesedihannya sendiri?" Tanya Ravin pada dirinya sendiri.


"Ada apa?" Tanya Mila saat melihat suaminya hanya diam saja dan menatapnya dengan tatapan aneh. Ravin tak langsung menjawab pertanyaan istrinya, ia hanya mengenggam erat tangan Mila dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Kak, tolong jangan seperti ini. Aku sangat malu menjadi bahan tontonan para tamu,'' bisik Mila di samping telinga Ravin.

__ADS_1


"Kenapa harus malu, kita sudah menikah!'' Jawab Ravin dengan entengnya.


"Kenapa kau sama sekali tidak mengerti."


"Aku mengerti apapun yang ada di pikiranmu saat ini.'' Sahut Ravin dengan nada tegasnya.


"Apa?'' Tanya Mila dengan nada gugupnya saat melihat Ravin kini menatapnya dengan tatapan menyelidik.


"Lala kau itu istriku kenapa kau bersikap gugup seperti itu, kau terkesan seperti sedang menyembunyikan suatu hal yang besar dariku.'' Ucapan Ravin bagaikan anak panah yang menacap tepat sasaran.


Deggh...


"Tidak.. A. Aku tidak menyembunyikan apapun!'' Jawab Mila terbata bata, namun pandangannya kini tertuju pada pria paruh baya yang sedang asyik mengobrol dengan nyonya Renata.


"Kenapa? apakah ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu?'' Tanya Ravin yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh istrinya.


"Coba ceritakan apa yang sedang kau pikirkan saat ini''


"Ayah"


"Iya dia ada disana!" tunjuk Mila pada pria yang masih mengobrol dengan nyonya Renata.


"Kau pasti salah sayang, dia adalah tuan Bisma dan nyonya Tita dan putri ketiganya bernama Sesilia. Dia tidak mungkin ayahmu." Ucap Ravin menenangkan istrinya.


"Bisma. Tapi ayahku juga bernama Bisma''


"Benarkah!" Ravin merasa terkejut dengan penuturan istrinya.


"Apa yang aku pikirkan adalah benar adanya? apakah tuan Bisma sudah menghianati dua wanita sekaligus? tapi yang pernah aku dengar nyonya Tita juga pernah menikah dan memiliki seorang putra tapi, sampai saat ini tidak ada siapapun yang mengetahui identitas putranya." Ravin terhanyut dalam lamunannya sendiri.


"Kak kenapa kau diam saja, maaf jika aku membuat mu memikirkan hal yang mengganggu pikiranmu.'' Ucap Mila yang langsung menyadarkan Ravin dari lamunannya.

__ADS_1


"Jangan pernah berpikir hal seperti itu sayang, aku akan segera mencari tahu siapa pria itu"


"Jangan! itu tidak perlu." Sahut Mila dengan cepat.


"Kenapa?"


"Dia sudah bahagia, jadi biarkan saja begitu.'' Ucap Mila dengan pasrah.


"Tidak bisa! itu tidak boleh di biarkan apakah kau akan menyembunyikan hal ini dari adikmu. Dia juga berhak mengetahui keberadaan ayahnya.''


"Tapi,''


"Sudah jangan di pikirkan lebih baik kita mendekati mereka'' Ajak Ravin yang langsung memegangi tangan istrinya.


"Tidak aku disini saja,'' tolak Mila dengan cepat hatinya masih merasa begitu sakit saat mendapati kebenaran tentang ayah kandungnya kini sedang tertawa bahagia bersama dengan keluarga lainnya.


"Aku tidak menyangka ayah akan menghianati ibu sedalam ini, ia tega meninggalkan ibu demi wanita lain. Andaikan saja ibu masih ada di dunia ini, ibu pasti akan merasa sangat sedih dan kecewa melihat ayah bersanding dengan wanita lain. Sama seperti aku yang juga sangat kecewa pada ayah, yang aku tahu ayah adalah pria baik dan bijaksana tapi apa yang ku lihat saat ini tidak sama seperti yang aku nilai selama ini, ayah tega membohongi aku dan meninggalkan kami begitu saja, ayah juga tidak memikirkan perasaan Mia saat itu. Gadis kecil berumur satu tahun yang selalu menangis sepanjang hari mencari keberadaan sang ayah.'' Batin Mila.


''Mommy" Kenzo menarik gaun Mila untuk menyadarkan Mila, begitu juga dengan Ravin yang sejak tadi berbicara dengan istrinya namun tak ada jawaban apapun dari Mila.


"Iya! apa? maaf aku..''


"Jangan pernah memikirkan hal yang tidak penting!'' Ucap Ravin memperingatkan istrinya.


'Iya maaf"


"Kau tidak salah jadi berhentilah untuk meminta maaf''


Mila tersenyum menatap ke arah sang suami yang begitu perduli dengan dirinya, begitu juga dengan anak sambungnya yang kini berada dalam gendongan sang daddy.


"Terimakasih, aku sangat beruntung memiliki kalian berdua." Ucap Mila dengan suara tercekat menahan tangisnya dan langsung memeluk Ravin dan Kenzo secara bersamaan.

__ADS_1


"Mommy, daddy lah yang harus berterimakasih padamu karena sudah mau menjadi istrinya.'' Sahut Kenzo dengan polosnya, membuat Mila dan Ravin pun tertawa kecil saat mendengar celotehan bocah menggemaskan itu. Namun aktifitas mereka terhenti saat mendengar suara seseorang yang kini berada tepat di belakang Mila.


Bersambung..


__ADS_2