
Mila menghentikan langkah kakinya secara mendadak, begitu juga dengan Mia. Namun Mia berpikir bahwa ia sudah di bebaskan oleh sang kakak, tapi nyatanya Mila mencengkram tangannya dengan erat membuatnya sedikit terkejut dengan sikap kakaknya.
''Kak apa yang kau lakukan sakit tahu!" Seru Mia yang langsung berusaha melepaskan genggaman tangan sang kakak.
"Untuk apa anda kemari?'' Tanya Mila dengan nada ketusnya.
"Kakak ini bagaimana.. '' Mia langsung menghentikan ucapanya saat sang kakak melepaskan genggamannya dan menghampiri seorang pria paruh baya di depan pintu rumahnya.
"Siapa pria tua itu, jangan-jangan kakak selingkuh. bodoh kau Mia, mana mungkin kakak selingkuh dengan pria beruban seperti itu, jelas kakak ipar lebih tampan tapi sayang kaya kanebo kering. Kaku!'' Mia terus menggerutu tidak jelas dan menerka-nerka apa yang sedang terjadi saat ini.
''Hah biarkan saja kakak dengan urusannya sendiri, yang penting aku aman dan bebas sekarang.'' Dengan cepat Mia pun bergegas pergi meninggalkan sang kakak, namun langkahnya terhenti secara mendadak saat sang kakak memintanya membereskan semua pakaian nya ke dalam koper.
"Tapi kak, kita akan kemana?'' Tanya Mia dengan wajah bingungnya.
''Jangan banyak bertanya Mia sekarang turuti saja perintah kakak.'' Ucap Mila dengan sedikit menaikan intronasi suaranya.
Dengan perasaan kesal Mia pun pergi dari tempat itu dan menuruti perintah sang kakak, karena ia tahu saat ini kakaknya tidak baik-baik saja setelah bertemu dengan pria tua yang masih berdiri di depan pintu rumahnya.
''Sebenarnya siapa pria itu? Kenapa kakak terlihat marah sekali saat berbicara dengan pria tadi.''
Berbeda dengan Mia yang merasa sangat penasaran, Mila merasa sangat kesal saat melihat tuan Bisma datang ke rumahnya secara tiba-tiba.
"Tuan Davis untuk apa anda datang kemari? aku sedang bertanya padamu bukan pada patung, jadi jawablah apa yang sedang aku tanyakan padamu!''
Setelah lama terdiam, kini tuan Bisma pun menatap ke arah putrinya dan akan berjalan menghampiri Mila untuk meminta maaf. Namun dengan cepat Mila memundurkan langkahnya.
''Lala maafkan papa, selama ini papa sudah meninggalkan kalian. Papa mohon tolong bantu papa untuk membujuk tuan Ravindra agar membantu perusahaan papa yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.''
''Papa? maaf tuan Davis saya tidak mengerti dengan apa yang anda katakan. Dan satu lagi ayah saya sudah tiada saat saya berusia enam tahun." Ucap Mila tanpa melihat ke arah sang ayah, Mila merasa sangat kecewa saat ayahnya datang hanya untuk meminta bantuan padanya.
__ADS_1
"La. Papa tahu papa salah, karena selama ini papa sudah meninggalkan kalian tapi papa terpaksa sayang, karena itu semua demi keamanan kalian. Papa mohon mengertilah nak.''
"Omong kosong!" Mila mendengus kesal, menatap penuh kemarahan pada pria paruh baya yang mengaku sebagai papa padanya.
"Kau sudah melupakan segalanya tentang kita ayah,'' gumam Mila lirih namun masih dapat di dengar oleh tuan Bisma.
''Maaf'' hanya kata itu yang mampu tuan Bisma ucapkan saat ini.
''Tuan sebaiknya anda pergi dari rumah ku sekarang juga.'' Usir Mila tanpa menatap ke arah tuan Bisma.
"Lala papa tahu papa salah, papa mohon berikan satu kesempatan saja untuk papa memperbaiki kesalahan papa. Papa sangat menyesal sudah pergi meninggalkan kalian disini, tapi mengertilah papa melakukan semua ini untuk kebaikan kalian semua.'' Tuan Bisma menekuk kedua lututnya memohon pada putri yang selama ini ia sia-siakan. Namun siapa yang tahu apa yang ada dalam hati dan yang di ucapkan jauh berbeda.
"Aku harus bisa meluluhkan hati Lala, agar aku bisa mendapatkan bantuan dari tuan Ravindra. Ini semua ku lakukan untuk keamanan bisnisku yang sedang bermasalah saat ini, aku harap gadis ini mau membantuku untuk membujuk suaminya.'' Ucap tuan Bisma dalam hatinya, karena niatnya menemui Mila hanya untuk kepentingannya sendiri.
Mendengar ucapan sang ayah membuat hati Mila merasa tersentuh, karena Mila memang punya hati yang mudah memaafkan seseorang. Mila menghela nafasnya secara perlahan melihat ke arah pria paruh baya yang kini tengah memohon padanya.
Ada rasa kasihan di hati Mila saat melihat sang ayah menatapnya dengan wajah penuh penyesalan. Namun Erik datang di waktu yang tepat bersama dengan beberapa anak buahnya.
"Tunggu aku akan mengajak Mia terlebih dahulu.'' sahut Mila yang langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Lala,'' panggil tuan Bisma, namun Mila tak menghiraukan panggilan sang ayah.
"Sial ini tidak boleh terjadi.'' Umpat tuan Bisma yang langsung berdiri menatap penuh emosi pada para pengawal itu, dan kini pandangannya tertuju pada Erik yang juga menatap dirinya dengan sangat tajam.
"Kenapa kau menatapku seperti itu pak tua?''
"Kau, berani sekali kau berkata tidak sopan padaku. Apakah kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah..''
"Erik tolong bawakan koper Mia.'' Ucap Mila yang langsung menghentikan ucapan sang ayah, Mila tak ingin siapapun tahu tentang masalalu dirinya yang begitu menyedihkan di ketahui banyak orang, terlebih lagi dengan sang adik yang kini berada di sampingnya.
__ADS_1
"Kak sebenarnya siapa pria tua itu?'' tanya Mia sedikit berbisik pada Mila.
"Bukan siapa-siapa, Ayo ikut dengan kakak.''
"Tapi kak kita akan kemana?''
"Lala tunggu papa belum selesai berbicara denganmu.'' Ucap tuan Bisma yang sedikit berteriak memanggil putrinya.
Deghh..
"Papa? siapa pria itu kak kenapa dia menyebut dirinya dengan sebutan papa?''
"Itu tidak penting dek, sekarang ikut kakak ke klinik untuk memeriksa keadaan mu''
''Kak kau punya hutang penjelasan padaku!" seru Mia, namun Mila hanya diam saja dan tak ingin menceritakan hal apapun tentang ayahnya.
"Kenapa semua ini harus terjadi padaku, di saat aku ingin melupakan segala kesedihan dalam hatiku, namun selalu saja ada hal yang bisa membuat luka ku semakin dalam dan semakin perih ku rasakan. Sekarang aku harus mengatakan apa pada Mia, dia tidak mengetahui apapun tentang ayah. Tapi apakah aku harus mengatakan hal yang sejujurnya pada Mia? bagaimana reaksinya nanti? Mia pasti akan merasa sangat kecewa pada ayah, walau tidak ada kata mantan ayah di dunia ini tapi aku berharap tidak ingin mengenal ayahku lagi."
"Kak apa kau baik-baik saja? apa yang sedang kau pikirkan dan ayo ceritakan padaku siapa pria tadi?
"Mia bisakah kita tidak membahas tentang itu lagi, kakak mohon dek.''
"Tapi aku sangat penasaran dengan pria tua itu kak? dan kenapa kakak juga menyuruhku untuk membawa semua pakaianku.''
"Jangan memikirkan hal yang tidak penting Mia, iya kakak lupa mengatakan sesuatu padamu. Mulai saat ini kakak sudah membelikan sebuah toko untuk mu disana juga sudah ada pasilitas memasak dan kamar tidur jadi kamu tidak perlu bingung untuk mengurus bisnis online mu. Lagi pula rumah lama sudah sangat tua dan lapuk kakak khawatir terjadi sesuatu padamu.
''Terimakasih kak kau yang terbaik, tapi apakah ini tidak berlebihan kak. Kau pasti sudah menguras habis uang tabunganmu kan!"
"Itu tidak masalah kau adikku satu satunya apapun akan aku lakukan untukmu.'' Kini kakak dan adik itu pun kini saling berpelukan. Dan semua itu di saksikan langsung oleh Erik melalui kaca spion mobil yang sedang di kendarainya.
__ADS_1
Bersambung..