
Hari ini adalah hari yang cukup panjang bagi Juna karena harus menuruti segala yang di perintahkan oleh big bosnya, hingga ia terpaksa bekerja hingga larut malam. Dan sampai tertidur di ruangan nya sendiri.
"Ini semua karena mood tuan muda yang sedang tidak baik-baik saja hingga aku terpaksa tidak pulang ke apartemen dan menginap di sini" Ucap Juna saat ia terbangun di pagi hari dan mendapati dari nya masih berada di ruangan kerjanya. Begitu juga dengan Ravin, Karena kesal ia melampiaskan semuanya pada pekerjaan hingga lupa pulang.
Sedangkan Mila tengah sibuk berkutat dengan pekerjaan nya di dapur, ia menyiapkan sarapannya untuk adiknya, Karena Ravin membebaskannya beberapa hari untuk beristirahat memulihkan kesehatannya. Membuat Mila masih sedikit ragu untuk datang kembali ke mansion dan mulai kembali bekerja seperti biasanya.
"Kak apa hari ini kau akan pergi bekerja?" Tanya Mia saat menyuapkan nasi ke dalam mulut nya.
"Entahlah, kakak tidak tahu" Jawab Mila sekenanya.
"Apa kakak tidak merindukan bocah menggemaskan itu"
"Dek apa kamu mengusir kakak, kenapa seperti tidak suka kakak berada di sini bersama dengan mu" Ucap Mila tiba-tiba dengan menatap penuh kecurigaan pada sang adik.
"Bukan begitu kak, aku hanya bertanya saja kenapa kakak berpikir sampai sejauh itu. Lagi pula kakak akan berada di rumah sendirian karena aku ada tugas camping ke puncak hari ini"
"Mendadak sekali dek"
"Tidak kak, hanya saja aku tidak mengatakan hal ini padamu sejak awal''
Mila hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti. ''Pergilah dan hati-hati tetap jaga kesehatan dan jaga diri" Ucap Mila memperingatkan adiknya.
"Siap kak bos'' Jawab Mia dengan penuh semangat memberikan hormat pada kakak nya.
"Kau ini" Mila menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol sang adik yang selalu menjaga dan menemaninya selama ini.
"Aku hampir terlambat kak, aku pergi sekarang ya dahh.... " Mia dengan cepat membawa tas ranselnya dan meninggalkan Mila di rumah itu sendirian.
"Hati-hati ingat pesan kakak." Ucap Mila mengingatkan adiknya kembali.
__ADS_1
"Iya kak, kau tenang saja'' Sahut Mia yang langsung pergi melesat setelah mengambil ayam goreng yang ada di meja dan memakanya dengan sedikit berlari.
"Dasar gadis konyol" Mila menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh sang adik yang terkadang masih ke kanak-kanakan seperti itu.
"Rumah ini sepi sekarang." Ucap Mila lirih dan matanya pun tertuju pada foto keluarga yang menghiasi ruang tamu nya.
"Ayah, ibu lihatlah putri kecil kalian yang manja itu kini sudah tumbuh dewasa dan selalu menasihatiku seperti orang dewasa, andai saja jika ayah dan ibu masih ada disini.'' Ucap Mila lirih, dengan wajah sendunya Mila terus berbicara panjang kali lebar pada potret kedua orang tuanya.
Tanpa ia sadari kini air matanya pun mengalir begitu saja, ia sangat merindukan sosok kedua orang tuanya. Sosok ibu yang lemah lembut dan penyayang serta ayah yang tegas dan bijaksana.
Kini pandangan Mila terhenti pada sebuah laci yang sedikit terluka di ruangan itu, dan memperlihatkan sedikit amplop coklat yang tersimpan disana. "Apa ini?" Tanya Mila dalam hatinya.
Mila mengambil amplop tersebut dan menatapnya dengan seksama. ''Seperti nya aku pernah melihat ini sebelumnya, ya aku ingat pada hari itu Mia langsung mengambil nya dan mengatakan ini adalah tugas kelompoknya. Tapi mengapa masih ada disini? jelas ini amplop yang sama''
"Apa aku harus membuka dan melihat isinya, tapi itu sangat tidak sopan terlebih Mia tak ada disini, tapi apa salahnya aku hanya melihat nya sebentar kan" Ucap Mila pada dirinya sendiri.
"Iya tunggu sebentar. Ya ampun siapa yang datang mengejutkan ku saja.'' Ucap Mila yang langsung mengembalikan amplop tersebut ke tempat asalnya.
Suara ketukan pintu terus terdengar membuat mila dengan cepat menyimpan berkas tersebut dengan asal saja. ''Tunggu sebentar" Dengan cepat Mila pun menghampiri pintu dan membuka nya.
Ceklek
"Selamat siang nona, saya adalah utusan tuan kecil datang untuk menjemput anda" Ucap seorang pria yang bertubuh tegap memberikan hormat pada Mila. Membuat Mila sedikit kikuk di buatnya.
"Baiklah tunggu sebentar" Ucap Mila yang langsung kembali masuk ke dalam rumah sederhananya.
"*H*aruskah aku kembali ke tempat itu lagi, lalu bagaimana bila nanti aku bertemu dengan tuan muda. Dan bagaimana jika dia mempertanyakan hal itu lagi."
"Apa benar tuan kecil yang menyuruh kalian untuk datang kemari?" Tanya Mila dengan sedikit gugup.
__ADS_1
"Iya nona tuan kecil sedang menunggu kedatangan anda di mansion.''
Mendengar jawaban dari pria yang di tugaskan untuk menjemputnya Mila pun bernafas lega. "Tunggu sebentar" Ucap mila yang langsung mengunci pintu rumahnya.
Dan bergegas akan pergi meninggalkan kediamannya, namun langkah nya terhenti saat melihat beberapa tetangga nya sedang menatap aneh ke arah nya.
Bisik-bisik mereka pun terdengar sampai ke telinganya, Mila menghela nafas panjangnya. "Selalu saja seperti itu" Gumam Mila lirih.
"Anda tidak perlu khawatir nona biar kami yang mengurus mereka'' Ucap salah satu pengawal itu.
"Jangan. Tidak perlu berbuat apapun, biarkan saja mereka berbicara sesuka hatinya, lebih baik kita cepat pergi menemui tuan kecil.'' Sahut Mila mengalihkan perhatian para pengawal itu.
Dan akhirnya mobil yang membawa Mila pun pergi melesat meninggalkan halaman rumahnya, dan semua itu tak luput dari pandangan seseorang yang sedang mengintai rumah itu.
''Ck ck.. Aku tidak menyangka kini dia sudah menjadi simpanan om-om" Ucap nya dengan nada sinis.
''Aku harus bisa masuk ke dalam rumah itu aku yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari ku, dan aku yakin aku bisa menemukan petunjuk dimana diana berada saat ini''
Hendra melihat sekeliling rumah itu kini nampak sepi dan sangat memudahkan dia untuk segera beraksi, "Aku tahu ini tidak benar, tapi aku yakin apa yang aku lakukan ini tidak salah karena aku hanya mencari bukti keberadaan istri dan anakku saja. Dan aku yakin gadis tengil itu tahu sesuatu tentang keberadaan diana, itu semua terlihat jelas dari nada bicaranya yang begitu angkuh saat di rumah sakit itu.''
Dengan lihai hendra mulai melakulan aksinya untuk membuka pintu rumah itu dengan paksa, dan ia pun akhirnya berhasil. Dengan cepat Hendra pun masuk ke dalam rumah itu dan menatap foto mantan mertuanya.
"Maafkan aku ayah ibu, aku melakukan ini Karena aku hanya menginginkan keturunan saja umurku sudah matang. Aku malu selalu menjadi bahan candaan bagi teman-temanku Karena tak kunjung memiliki anak bahkan mereka ragu dengan kemampuan ku, aku sangat mencintai putri kalian tapi aku... ''
Hendra terduduk lemah ia tak kuasa untuk tetap mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan mantan istrinya, Hendra pun tak memungkiri bahwa ia masih sangat mencintai mila sampai saat ini namun ia menyembunyi kan perasaanya. Karena terlalu terobsesi dengan anak yang sedang di kandung oleh diana istri kedua nya.
Saat Hendra akan kembali berdiri namun kepalanya tak sengaja terbentur laci yang tidak tertutup rapat, "Sial" Kesal Hendra, namun kini pandangan nya terhenti pada sebuah amplop yang terongkok di dalam nya. Dengan cepat hendra pun mengambil dan perlahan membuka amplop tersebut.
Bersambung
__ADS_1