Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
bab 11 :Dihadang


__ADS_3

...🍒Reading Books 🍒...


Setelah menyelesaikan ngajar mengajar di tempat musik,Stevani mengendarai motor nya dengan laju santay. Ia menelusuri jalan raya sambil melihat beberapa pedagang emperan menjual sesuatu.


Ia sempat melihat satu makanan yang ingin ia beli,yang tak lain adalah bubur sum-sum,dimana dulu ia pernah dibawakan oleh papanya waktu ia masih kecil,tapi sekarang ia tak mungkin lagi untuk mengingat masa itu.


"Buk beli tiga kotak ya buk" Ucapnya pada seorang pedagang bubur sum-sum.


pedagang itu,langsung mengambilkan dan mengisi kotak plastik yang ia gunakan dalam berdagang. Cukup lama Stevani menunggu dan akhirnya buburnya siap.


"Berapa buk" Tanyanya.


"20 ribu dek" Jawabnya.


"Ini buk" Ucapnya memberikan uang hijau.


"Makasih dek"


"Iya buk" Jawab Stevani dan langsung menerima plastik buburnya itu.


Stevani langsung melajukan motornya menelusuri jalan raya dengan kecepatan rata-rata, sebab saat ini azan magrib sudah berkumandang sehingga ia harus segera sampai dirumah dan melaksanakan kewajibannya.




Dijalan kosong,sudah menunggu 3 preman yang masing-masing dari mereka membawa senjata tajam. Mereka siap untuk menghadang seorang gadis yang saat ini menjadi targetnya.



Cukup lama mereka menunggu dan akhirnya mereka melihat motor yang mereka tunggu. Mereka langsung menghadang jalan motor itu sehingga motor itu berhenti tepat didepan mereka.



"Turun" Bentaknya



"Siapa kalian,saya tak ada urusan sama kalian ya" Ucap Stevani.



"Ada! jadi turun cepat" Ucap salah satu preman yang langsung menarik Stevani sehingga motor Stevani langsung menghantam jalan.



"Lepaskan" Ucapnya sambil menghempas tangan preman itu.



"Cukup cantik,sepertinya kita apakah ya bos" Ujar salah satu preman itu dan Stevani yakin bahwa bos nya berada ditengah diantara mereka.



Mereka langsung menyerang Stevani dengan cukup bruntal, Stevani yang belum memiliki sepenuhnya kemampuan beladiri,beberapa kali wajahnya ditonjok dan meninggalkan memar yang cukup membuat nya sedikit kewalahan.



"Hhhhh...kemampuan mu cukup hebat gadis,tapi kami bertiga dan kamu cuman sendiri maka patuh lah" Ucap bos dari preman itu yang langsung mendekat kearah Stevani yang sudah terduduk di aspal.



Stevani terus mundur kebelakang seiringan dengan langkah preman itu yang semakin mendekat.



*Srekk*...



"Sepertinya kalian butuh rok agar tau genre kalian masing-masing" Ucap seseorang pemuda yang saat ini sedang berada diatas motor.

__ADS_1



seseorang itu langsung menghalangi keduanya atau bisa dibilang ia berada ditengah-tengah. Pemuda itu langsung menjulurkan tangannya pada Stevani yang cukup malang.



"Hey anak muda,kau tak perlu ikut campur kita hanya ada urusan dengan tu cewek" Ucap preman itu.



"Aku punya hati jadi,kalian pada pergi atau berurusan dengan saya" Ucap Pemuda itu yang langsung membuka helemnya.



Dia Dimas Adi Winata,ia menarik tangan Stevani yang sudah menerima juluran tangan nya. Ntah lah saat ia melewati jalan,melihat gadis itu membuatnya ingin sekali menolongnya.



"Heh...jangan jadi pahlawan kesiangan,kalo nggak mau mati!" Ucap preman itu yang langsung melayangkan tinjunya namun langsung ditangkis oleh Dimas menggunakan helemnya.



"Akhh....kurang ajar langsung serang" Tintah bos preman itu dan kedua anak buahnya itu langsung melawan Dimas.



Menurut Dimas ini hanyalah sebuah pemanasan,karena ia sudah dilatih dengan melawan 20 bodyguard dengan tubuh yang kekar dalam sekaligus tanpa ampun,jadi melawan preman sampah an seperti ini adalah sangatlah mudah dengan beberapa menit saja.



"Bagaimana,kalian mau dibunuh atau pergi sekarang" Ucap Dimas yang sudah menang dari perkelahian itu tanpa terluka sedikit pun.



"Kau akan habis ditangan ku" Ucap bos preman yang langsung berlari kearah Dimas.




"Ampun! ampun,lepaskan kita" Ucap memohon bos preman itu.



"Pergi sekarang atau habis, cepat!" Ucap Dimas dengan membentak diakhir kalimat.



Ketiga preman itu langsung kabur dari hadapan Dimas dengan cukup tergesa-gesa. Sedangkan Dimas langsung menghadap Stevani yang menunduk takut dari jarak yang cukup jauh.



"Pakailah ini" Ucap Dimas memberikan jaketnya pada Stevani.



"Tak perlu aku juga memiliki nya" Tunjuk Stevani pada motornya yang terjatuh dan terdapat jaket juga disana.



Stevani tak mempedulikan Dimas,ia malah mendekat pada motor nya yang tergeletak diaspal. Sepertinya motornya saat ini rusak parah. Bubur yang ia beli sudah berserakan di aspal,tak sedikit pun tersisa.



"Sini aku bantu" Tawar Dimas lalu membantu Stevani menegakkan motornya.



"Terima kasih" Ucapnya dengan menundukkan kepalanya. Ia cukup sedih saat ini,dari motor sampai buburnya rusak dan ia harus mengatakan apa pada keluarganya nanti terutama pada Maya sang mama.


__ADS_1


"Siapa nama kamu" Tanya Dimas.



"Stevani" Jawabnya singkat.



"Nama aku Dimas Adi Winata,sini biar aku antar kamu pulang" Ujarnya menawarkan tumpangan pada Stevani.



"Tak perlu,motor ku masih bisa dihidupkan" Tolaknya.



"Baiklah,hidupkan kalo tak hidup bisa biar aku tumpang kan" Ucap Dimas yang masih kekeh dengan pendiriannya.



Stevani hanya diam,ia langsung menghidupkan motornya dengan starter. Beberapa kali ia coba tapi tetap saja motornya enggan untuk hidup.



"Ah...sial" Umpatnya.



"Sepertinya kamu harus bersama aku" Ucap Dimas yang langsung menarik Stevani.



Stevani langsung menurunkan standar motornya dan mengambil kunci motornya lalu mengikuti langkah Dimas yang membawa dirinya menuju motornya.



"Lepasin,kamu jangan pernah pegang-pegang aku" Peringatan Stevani yang langsung menghempas tangan Dimas.



"Oke! sekarang naik" Ucapnya yang mengangkat kedua tangannya didepan dada.



Stevani tetap diam,ia menatap curiga dan tajam pada Dimas yang bersikap baik padanya.



"Naiklah,aku masih ada urusan bukan cuman kau doang yang harus aku urus" Ujar Dimas yang langsung membuat Stevani langsung naik dengan muka kesalnya.



Stevani duduk dengan muka kesal dan bersidekap tangan didadanya dengan kesal.



"Pegangan lah,kamu nanti terjatuh" Ucap Dimas.



"Bodo amat" Acuh nya.



Dimas langsung gas dan rem secara mendadak sehingga membuat Stevani reflek memeluk Dimas.



"Seperti itu terus,jika kamu lepas aku turunin" Ucap Dimas dan tersenyum tipis dari dalam helemnya.


__ADS_1


Stevani hanya berdengus kesal karena ulah Dimas yang menurutnya sangat keterlaluan. Padahal mereka baru kenal mengapa cowok ini begitu sok akrab atau cowok ini memang Fredly pada semua orang,yang seperti ini harus segera di musnahkan.


__ADS_2