Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 59: Melakukan kerjasama.


__ADS_3

...🍒 Reading books 🍒...


Di perusahaan, kini Stevani sudah siap untuk pergi ke perusahaan PT Wijaya, disina ia akan mengajukan kerja sama pada perusahaan itu.


Dengan langkah yang berwibawa ia berjalan bersama sekretaris nya melewati para karyawan yang menyapanya dengan ramah dan sopan.


"Siapkan semuanya, aku tak ingin ada kekurangan!" Ujar Stevani dengan wajah datarnya.


"Sudah saya siapkan dan anda hanya tinggal membuat persiapan sendiri untuk berhadapan langsung dengan tuan Wijaya!" Jawab Resa memberikan map ke tangan Stevani.


Stevani hanya diam, ia masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan dan pintu yang sudah dibuka oleh sekretaris nya lebih dulu.


"Silakan bu!" Ucap ramah Resa.


"Lain kali panggil saya nona, karena saya belum menikah!" Peringatan Stevani pada Resa.


"Baik!"


Pintu mobil pun tertutup, kini Resa memutari mobil dan duduk di depan, lalu mobil itu pun laju meninggalkan perusahaan.


Didalam perjalan, Stevani tetap berusaha memahami isi kerja sama yang akan diajukan, ia membaca beberapa kali dan akhirnya ia paham dengan isi kontrak.


"Kasih aku laptop!" Ucap Stevani.


Dengan segera Resa memberikan laptop yang ntah sejak kapan disiapkan nya. Dengan segera Stevani mengambil laptop itu dan membukanya.


Ntah apa yang dilakukan Stevani, namun terlihat dari gurat wajahnya yang tegang dan tangan yang cepat, menandakan bahwa Stevani seperti ada masalah dalam laptop hingga begitu fokus.


"Anda kenapa nona? Apa ada yang bisa saya bantu urus?" Tanya nya saat melihat wajah Stevani yang begitu tegang.


"Tak perlu, kamu cukup hanya pelajarin ini kontrak!" Stevani memberikan kontrak yang ia baca pada Resa, namun masih tetap fokus dengan laptopnya.


Selama setengah jam lamanya, Stevani pun berhenti memainkan laptop dan tersenyum lega dengan menutup laptopnya.

__ADS_1


"Kau terlalu menganggap ku remeh Florence" Batin Stevani dengan senyum smriknya.


"Sudah sampai nona, silakan!" Resa segera membuka pintu mobil dan ntah sejak kapan ia bisa dengan cepat berada disana.


"Kau sungguh profesional!" Puji Stevani dan Resa hanya menunduk berterima kasih.


Stevani pun keluar dari mobil nya, mereka berdua berjalan bersama untuk memasuki lobi perusahaan.


"Permisi, saya dari perusahan STV MNCTV ingin bertemu dengan pak Wijaya, presidir perusahaan kalian!" Ucap Resa dengan sopan kepada represionis yang menjaga disini.


"Apakah sudah membuat perjanjian nona?" Tanyanya dengan mengecek daftar pertemuan perusahaan.


"Seharusnya sudah!" Jawab Resa.


Stevani menunggu di sofa yang disediakan, sedangkan resa mengatur pertemuan hari ini.


Setelah Resa selesai berbincang-bincang, ia pun menghampiri Stevani yang duduk dengan mata tegasnya.


"Ayo nona, semuanya sudah siap!" Ucap Resa dan Stevani dengan segera bangkit dari duduknya.


Pria itu terus memasang muka datar nan dinginnya, namun hal itu tidak membuat Stevani menggubrisnya atau pun memulai pembicaraan.


Ruangan pak Wijaya berada di lantai 7 perusahaan, dimana lantai itu adalah lantai tertinggi yang mengharuskan mereka harus menggunakan lift agar cepat sampai.


Sesampainya didepan pintu depan ruangan, segera pria itu mengetuk pintu dan masuk setelah mendengar arahan dari dalam ruangan.


Ruangan yang cukup mewah dengan interior modern, sempat membuat Stevani kagum namun hal itu mampu ia bendung dan kembali dalam mode datar.


"Silakan duduk nona Stevani!" Ujar pak Wijaya yang menyambut Stevani.


Stevani hanya mengangguk, mereka pun duduk berhadapan dengan pak Wijaya. Keduanya sempat saling diam sesaat sampai pada akhirnya Resa mengambil alih untuk berbicara.


"Permisi pak, bisa kah saya menjelaskan maksud kedatangan kami!" Basa basi Resa.

__ADS_1


"Silakan, aku tau maksud kalian tapi saya tunggu kalian berbicara!" Ucap pria itu.


"Baiklah, saya langsung to the point saja, disini kami ingin melakukan kerja sama dengan anda pak..." Ucap Resa yang to the point dengan tatapan yang serius.


"Biar saya menjelaskan, karena disini saya juga belajar!" Stevani mengambil alih dalam pembicaraan.


"Anda cukup memiliki semangat berbisnis, sehingga membuat saya cukup kagum! Baiklah katakanlah performance mu untuk menjelaskan nya!" Ujar kagum pak Wijaya.


"Bacalah dulu isi kontrak ini dan akan saya jelaskan secara bersamaan!" Stevani pun memberikan map kontrak yang berada ditangan Resa.


Pak Wijaya mengambil map itu dan perlahan membaca sambil mendengarkan Stevani menjelaskan point-point dalam kontrak.


"Anda akan mendapat keuntungan 20% dari iklan atau pun perfilman lainnya yang membutuhkan kerja sama perusahaan anda dan kerja sama akan berlangsung selama 5 tahun!" Jelas Stevani pada point yang begitu orang lain suka dalam bekerja sama.


Pak Wijaya hanya mengangguk paham, ia membaca dengan teliti dan memahami isi kontrak, dari awal pak Wijaya sudah kagum dengan ketegasan gadis muda didepannya itu dan saat ini ia menguji gadis itu dengan cara begini.


"Jadi menurut anda bagaimana tuan?" Tanya Stevani yang sudah selesai menjelaskan panjang lebar.


"Baiklah akan saya tanda tangani!" Pak Wijaya mengambil pulpen yang sudah disediakan, ia menandatangani surat itu dengan coretan tangannya sehingga terjalinlah kerja sama antara kedua perusahaan.


"Terima kasih telah berkerja sama dengan saya, semoga anda selalu sukses tuan!" Ucap Stevani senang namun hal itu ditutupinya dengan senyumnya yang lebar.


"Baiklah, bagaimana kalo kita makan siang dulu, bukankah sudah waktunya makan siang..." Ajak pak Wijaya dengan ramah.


"Baiklah dan saya sepertinya merepotkan Anda untuk mencari cafe yang enak untuk kita duduk!" Ujar segan Stevani.


"Oh tidak masalah, hal itu cukup mudah bagiku!" Ucapnya.


Dan mereka secara bersamaan keluar dari ruangan CEO dengan pak Wijaya dan Stevani yang berbicara tentang berbagai hal yang dipertanyakan oleh pak Wijaya.


Terlihat keduanya sangat akrab dan cocok dalam lawan berbicara, sedangkan dibelakang Resa dan sekretaris pak Wijaya hanya diam tak bersuara.


Semua mata tertuju pada Stevani dan pak Wijaya, mereka berdua seakan serasi seperti anak dan bapak. Sikap ramah pak Wijaya memang sudah cukup terkenal, sehingga mereka berdua dengan cepat saling mengenal dan akrab.

__ADS_1


Wijaya fedwan, seorang pengusaha yang berumur 50 tahun setara dengan Elang Ziegler, Merintis perusahaan dari nol berumur 30 tahun meski hanya memiliki keahlian sedikit berbisnis dan memiliki seorang istri dengan dua anaknya. Memiliki sifat yang ramah, sopan dan mudah akrab, sehingga cukup banyak perusahaan yang menyukainya sehingga perusahaan tetap bangkit sampai sekarang.


__ADS_2