
...🍒Reading Books 🍒...
Sesampainya dirumah,ia masuk dengan perlahan melihat kanan kiri setiap sudut.
"Dari mana saja kamu Vani" Ucap Maya menatap dengan tajam kearah sang anak.
"Ma! Maafkan Stevani ya karena tak bisa menjemput mama" Ucap Stevani yang langsung menunduk pada sang mama.
"Kamu belum menjawab pertanyaan mama" Ucap Maya yang tegas.
Tak seperti biasanya sang mama begitu tegas padanya, Stevani langsung tersentak mendengar ucapan tegas mamanya.
"Stevani cuman istirahat ma tadi dirumah kok, jadi lupa jemput mama" Ucap Stevani yang masih terus-terusan menunduk.
"Mama tau kamu berbohong, tadi Eva menelpon mama bahwa muka mu lebam dan benar saja lihatlah wajahmu itu dan mama tanya pada bik asih dan bik cya kamu pulang atau tidak,mereka berkata tidak!" Ucap Maya yang membolak-balikkan wajah Stevani.
"Kamu dari mana Stevani! Jangan berbohong sama mama sayang" Ucap Maya yang masih mencerocos bagai kaleng rombeng.
"Aku tadi cuman kenak jambret aja ma tadi dijalan pas beli jajan" Ucap Stevani yang berusaha meyakinkan Maya.
"Seriusan sayang,kamu gak bohong kan" Ucap cemas Maya yang langsung membawa Stevani menuju sofa.
Stevani hanya mengikuti saja, ia tak ingin membuat mamanya kembali sedih karena hal sepele ini.
"Bik tolong ambilkan obat P3K dong" Teriak Maya dengan cukup keras.
"Siap nya" Ucap bik asih dari belakang.
Bik asih berlari dengan sedikit tergopoh-gopoh membawa kotak putih bertulisan P3K didepannya.
"ini nya, emangnya untuk apa nya" Tanya bik asih sambil memberikan kotak dari tangannya.
"Ini wajahnya! Tu lihat bik, masak anak gadis memiliki banyak luka diwajah! kan gak bagus" Ucap Maya sambil beberapa kali mengeluh.
"Hilang kok ma!" Ujar Stevani.
"Apanya yang hilang, kamu ini mama hukum baru tau" Kesal Maya.
"Kok bisa non mukanya kayak gitu" Tanya bik asih.
"Ini karena dijambret doang kok bik" Ucap Stevani yang sekali lagi berbohong.
"Ya tuhan ampuni lah dosaku yang sering berbohong ini" Batin Stevani
"Lah kok bisa! Yaudah mana jambretnya biar bibi yang hajar" Ucap bik asih dengan menggulung lengan bajunya keatas.
__ADS_1
"Eh bibi gak boleh gitu, apalagi jambretnya sudah aku gebukin kok" Ucap Stevani pada bik asih.
"Baiklah non" Ucap bik asih.
"Hmm...bau apa yak ini" Ucap Maya mencium bau yang beda.
"Astaga masakan bibi" Ucap bik asih yang langsung berlari menuju dapur.
Sedangkan ditempat,Maya dan Stevani hanya geleng-geleng melihat tingkah lucu bik asih. Mereka pun melanjutkan memasang obat ke luka Stevani.
"Stttssh" Ringisnya.
"Maaf mama ya sayang,sakit ya" Ucap Maya sambil menghembus luka Stevani yang terkena alkohol.
"Gak kok ma,cuman sedikit perih aja" Ucap Stevani dengan tersenyum.
"Baiklah,mama akan lebih baik lagi" Ucap Maya dan mulai lah ia kembali memakaikan obat di luka Stevani dengan perlahan.
Setelah selesai memakaikan obat di luka Stevani, ia pun izin kekamar untuk istirahat. Namun hal itu tak diperbolehkan oleh Maya, ia malah disuruh makan lebih dahulu baru boleh kekamar.
"Ma! Vani akan makan kok tapi gak sekarang" Rengek Stevani.
"Gak ada,sekarang ambil nasi atau mama suapin" Tegas Maya.
"Iya mama makan" Jawab Maya dan langsung mengambilkan nasi ke piring Stevani dan dirinya, tak lupa meletakkan lauk pauk didalam piring.
"Ma! sudah ma!" Ucap Stevani yang berusaha menahan mamanya agar tak memberikan begitu banyak lauk pauk.
"Oke deh,sekarang makan dan habisin! jika tak habis maka kamu akan kenak hukuman" Ucap Maya dengan penuh ancaman.
Stevani pun segera memakan dengan lahap agar mamanya sedang dan makanan itu cepat habis dan dirinya bisa langsung tidur di kamar.
"Pelan-pelan sayang" Ucap Maya memberikan minum.
Namun belum saja segelas air itu tegak dimeja, Stevani langsung mengambil air itu dan meminumnya dengan sangat terburu-buru.
"Huah....pedas" Ucap Stevani kepedasan.
Ia mengipas-ngipas lidahnya yang terasa panas karena sepertinya ia memakan satu buah cabe rawit.
"Kan sudah mama bilang pelan-pelan" Kesal Maya melihat tingkah anaknya itu.
"Tapi kok ada cabe rawit sih didalam mie goreng ini" Kesal Stevani membolak-balikkan mie yang ada di piring nya.
"Ya biar enak lah,kamu yang salah sendiri ngapain gak lihat-lihat" Ucap Maya
__ADS_1
"Uh untung cuman satu,kalo banyak gimana yak jadinya" Gumam Stevani.
"Yaudah sekarang kamu lebih hati-hati dalam makan! sekarang makan lagi gih" Ucap Maya dengan mengelus rambut anaknya.
Stevani pun melanjutkan makannya,ia lebih berhati-hati dan cabe rawit ia langsung sisihkan ditepi piring. Ia kembali memakan dengan lahap seperti tadi agar Maya tak merasa sedih.
"Aku udah siap makan, apa boleh pergi ke kemar ma?" Ucap Stevani yang saat ini dalam keadaan kekenyangan.
"Yaudah sana kamu pergi saja, nanti mama yang bersihin ini" Ucap Maya dengan membereskan piring kotor bekas makan.
"Tapi mama gak papa kan" Ujar Stevani yang sedikit tak enak hati.
"Tenang saja sayang,ini semua mama bereskan kamu gak perlu khawatir" Ujarnya menenangkan Stevani.
Stevani pun hanya mengangguk, lalu ia pergi meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar,Stevani langsung merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya. Ia meluruskan punggungnya yang terasa sedikit sakit dan perlahan menutup matanya.
Drrrttt..... drrrttt
Tiba-tiba handphone Stevani berbunyi, padahal ia baru saja menutup mata mengapa masih ada orang yang mengganggu ketenangan nya.
Stevani pun mengangkat panggilan telepon tersebut tanpa melihat nama yang tertera disana.
" Ku mohon lepaskanlah istriku" Ucap seorang pria tua dari seberang sana.
"Mengapa anda menelpon saya, saya bukanlah hakim" Ucap Stevani dengan tegas.
"Ku tau bahwa saat ini kau yang mengurung istriku, ku harap kau melepaskannya" Ucapnya lagi.
"Dari mana anda mendapatkan nomor saya" Ujar Stevani, ia pun langsung bangun dari baringan nyamannya.
"saya mengikuti istriku dan nomor ini aku dapat dari secarik kertas dibawah bantal" Ucapnya menjelaskan.
"Siapa istrimu" Ujar Stevani.
"Nila"
"Baiklah, dengan satu syarat kau dan istrimu harus menjauh sejauh mungkin dari ku dan jangan pernah sekalipun memperlihatkan wajah kalian" Ucap Stevani dengan suara penuh ancam.
"Ba-baik" Gugupnya.
"Oh iya, istri mu mungkin saya hukum dengan lima jari terpotong! apa anda begitu perhitungan" Tutur sadis Stevani dengan senyum smriknya.
"Ti-tidak" Ucapnya dan Stevani langsung mematikan panggilan telepon tersebut.
__ADS_1