
...🍒Reading Books 🍒...
Keesokan harinya.
Stevani merasakan kepalanya yang sakit, ia beberapa kali mengerjapkan matanya.
"Aww..." Ringisnya
Ceklek
Pintu terbuka, terlihat seseorang masuk kedalam ruangan dengan masker dan topi yang masih melekat.
Orang itu membuka semua yang menutupi wajah dan kepalanya, lalu ia berbalik menatap Stevani.
Stevani menatap orang itu dan betapa terkejutnya bahwa orang itu adalah Dian, kakak tirinya.
"Kamu kok bisa disini?" Terkejut Stevani yang langsung mundur.
"Gak ada, aku cuman nolong el waktu itu!" Ucap Dian datar.
"Kamu gak ngelakuin apa-apa kan?" Tanya panik Stevani dengan memeriksa seluruh perlengkapan yang ia kena.
"Menurut kamu!" Ucap Dian yang penuh ambigu.
Stevani langsung panik, bertapa terkejut nya ia bahwa baju yang ia kenai bukanlah baju saat ia pergi.
"Kamu!!!" Tunjuknya yang sudah sangat panik.
"Hhhhh...tenang aja keles, bukan aku yang tukar tapi pelayan hotel ini kemaren!" Tawa Dian yang pecah.
Dian menyusun makanan di meja, sarapan hari ini adalah bubur yang ia beli di restoran hotel.
"Terus kamu tidur?" Tanya Stevani yang masih belum lega.
"Aku pesan kamar dua kok." Jawabnya.
"Cepatlah, nanti bubur ini akan dingin bila dibiarkan!" Ajak Dian yang sudah siap menyiapkan bubur kedalam mangkok.
Stevani pun mendekat, ia menatap dengan lekat mata Dian dengan penuh curiga.
"Aku gak kasih kamu racun! Yaelah, tenang aja kale!" Ucap Dian dengan gaya bicara yang sudah seperti anak nakal.
"Oke!" Singkat Stevani.
Mereka pun makan dimeja yang sama, bubur yang hangat dapat dinikmati oleh mereka di pagi yang dingin seperti ini.
"Kamu gak sekolah lagi?" Tanya Stevani.
"Udah tamat!" Jawabnya singkat.
"Lah masih ada tiga bulan lagi loh!" Ucap Stevani yang kaget.
"Aku minta mempercepat tamat, soalnya aku masih ada sesuatu urusan!" Jawabnya menjelaskan.
Stevani hanya manggut-manggut, ia tak terlalu mementingkan penjelasan Dian, tetapi yang ia pentingkan adalah bubur ini dapat mengisi perutnya yang lapar.
"Habisin lah ini, aku udah kenyang!" Ucap Dian yang langsung bangkit dari duduknya.
Dian seakan tau bahwa Stevani masih merasa lapar, sehingga hanya satu suap saja sudah mengatakan kenyang.
"Kamu yakin, aku sih gak akan malu!" Tanya Stevani menyakinkan.
"Ya!" Jawabnya singkat dan langsung pergi meninggalkan kamar hotel Stevani.
Stevani tak mempedulikan kepergian Dian, ia langsung memakan bubur sisa Dian agar perutnya terisi dengan kenyang.
Stevani pun sudah segar setelah membersihkan diri, Dian sudah menyediakan baju untuknya sehingga ia tidak perlu memakai baju yang ia pakai semalam.
"Mau pulang?" Tanya Dian saat melihat Stevani yang celingukan.
__ADS_1
"Kamu mau nganterin aku?" Tanyanya.
"Gak mungkin aku tahan anak gadis orang bukan!" Ucap Dian dengan candaan.
"Iyalah, cepet ah aku mau pulang!" Ketus Stevani.
"Dasar!" Ucap Dian dan segera bersiap-siap untuk mengantarkan Stevani.
Mereka berdua pun berjalan menuju lift, Mereka turun langsung menuju parkiran agar tidak membutuhkan waktu lama.
"Jangan lupa bayar uang hotel!" Ucap Dian saat sedang berjalan masuk kedalam mobil.
Stevani hanya tampak kesal, ternyata kebaikan Dian tidak cuma-cuma.
"Iya, kirim no rekening!" Ucap Stevani memberikan handphonenya.
Dian mengambil ponsel Stevani dan mengetik Beberapa nomor didalam ponsel Stevani.
"Ini!" Ucap Dian memberikan kembali ponsel Stevani.
"Aku hanya mau cas!" Jawab Dian dan langsung melajukan mobilnya keluar dari parkiran.
Stevani hanya diam, ia menatap kearah jendela mobil Menatap keramaian lalu lintas.
Sesampainya dirumah, Stevani langsung keluar dari mobil Dian. Ia berdiri menunggu mobil Dian pergi meninggalkan per-karangan rumahnya.
"Masuklah dulu!" Ucap Dian yang menurunkan kaca mobilnya.
"Gak apakah?" Tanya Stevani seakan anak kecil.
Dian pun turun dari mobilnya, ia merasa sangat gemas dengan ekspresi yang diperlihatkan wajah Stevani.
"Dasar!" Ucap Dian dengan mencubit hidung Stevani.
" Iss...sakit!!" Kesal Stevani dengan mengusap hidungnya yang sakit.
"Jangan terlalu lucu, aku takut orang banyak suka!" Ucap Dian dengan mengusap rambut Stevani.
__ADS_1
"Apaan sih! Kamu bukan siapa-siapa aku!" Ucap Stevani dengan menepis tangan Dian.
"Suatu saat pasti!" Ucap Dian dan langsung pergi masuk kedalam mobilnya.
Dian pun melambaikan tangannya, ia langsung pergi meninggalkan Stevani yang tegak berdiri ditempat.
Stevani hanya menatap kepergian Dian, setelah itu ia masuk kedalam rumahnya.
Saat ini ia masih berharap bahwa mamanya belum pulang dari acaranya. Stevani perlahan masuk kedalam rumah, ia melihat kanan kiri untuk memastikan keadaan.
Setelah terlihat kosong, Stevani langsung menjijit dengan berlari menuju tangga rumahnya.
"Dari mana saja kamu Stevani?!!" Tanya Maya saat melihat sang anak.
"Itu..."
"Kamu gak pulang dari semalam bukan!" Sela Maya.
"Maaf ma!" Ucap Stevani yang merasa bersalah.
"Sekarang jawab mama, kemana saja kamu semalam?" Tanya Maya dengan melipat tangan didada.
"Kerumah teman! Iya kerumah teman ma!" Jawabnya yang gugup.
Tak mungkin kan Stevani mengatakan bahwa ia semalam pergi ke bar dan menginap di hotel.
"Seriusan?" Tanya Maya dengan memastikan.
"I iya ma!" Gugupnya.
Maya terus menatap tajam Stevani, Maya menatap dari atas sampai bawah pakaian yang dipakai Stevani dan wajah Stevani.
Sedangkan Stevani terus berkeringat, ia cukup takut ketahuan berbohong, terlebih tatapan mata sang mama yang begitu tajam menatapnya.
"Sudahlah, pergilah ke kamar mama mau masak dulu!" Ucap Maya yang langsung melongos pergi meninggalkan Stevani.
Stevani tampak lega setelah sang mama pergi, ia menghembuskan nafas lega.
Stevani pun berlari menaiki tangga, ia ingin melanjutkan tidurnya karena kepalanya yang masih sakit.
__ADS_1