Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 40: Keluarga Erlangga


__ADS_3

...🍒Reading Books 🍒...


Mereka berempat berjalan memasuki mall. Dengan gaya mereka yang cukup elegan, perhatian terus bertujuan pada mereka.


"Beli lah semua yang kalian mau" Ujar Stevani.


"Serius nih, kalo habis duit kamu kita gak tanggung jawab" Ucap Gaby dengan senang hati.


"Tak masalah, kita harus sesekali menghabiskan uang" Ujarnya memperlihatkan kartu hitam yang membuat mata mereka bertiga berbinar-binar.


"Siap! laksanakan!" Serentak mereka.


Mereka pun bergegas berjalan menuju setiap toko yang ada disana, dari toko baju sampai alat kecantikan meski Cio hanya sebagai pelindung tiga cewek.


Didalam toko baju, mereka memilih baju tidur couple dan juga baju kaos yang sama. Mereka disana memilih semua yang menurut mereka cukup bagus dan semua akan dibayar dengan satu kartu hitam.


Srekk


Satu gesekan kartu di toko baju, mengeluarkan uang 100 juta.


Srekk


Satu gesekan kartu di toko sepatu dan perhiasan, mengeluarkan bajed sebanyak 200 juta.


Srekk


Satu gesekan kartu di toko make up,mengeluarkan uang hanya 50 juta saja.


Sreekk


Satu gesekan kartu di toko parfum, mengeluarkan uang 300 juta.


Sreekk


Satu gesekan kartu lagi di toko skincare dan produk yang mempercantik wajah, mengeluarkan uang 150 juta.


Setelah melakukan semua itu, mereka sudah letih karena terus berjalan sepanjang perjalanan mengelilingi mall.


"Sudah cukup, aku gak sanggup bawa nih barang lagi" Ucap Zixi.


"Udahlah, kita pergi makan yok! kan sudah malam" Ucap Cio.


"Oh benarkah, sebentar aku pengen ngabarin orang rumah" Ucap Stevani datar dan langsung pergi berjalan cukup jauh dari duduk mereka semua.


Setelah cukup jauh dari teman-teman nya, ia pun menelpon sang mama dari nomor ponsel rumah agar lebih cepat untuk tersambung.


Baru saja Stevani mau menekan tombol nomor, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan tertera lah nama sang mama yaitu Maya.


"Hallo ma" Ujar Stevani.


"Sekarang jam berapa? Apa kamu lupa dengan jalan rumah?" Kesal Maya dari layar ponsel.


"Itu ma, Stevani lupa meminta izin!" Jelas Stevani yang merasa cukup bersalah.

__ADS_1


"Sekarang kamu dimana, udah jam berapa ini? Kamu masih saja berada diluar" Ucap Maya dengan nada marahnya.


"Maa! aku izin nginap dirumah teman ma" Rengek Stevani.


"Gak ada, sekarang pulang" Bantah Maya.


Stevani pun berusaha membujuk sang mama dan akhirnya ia diizinkan, namun tiba-tiba seorang anak kecil menghampirinya dengan memanggil nya sebutan mama.


"Mama! Bantulah aku..." Ucap seorang anak kecil yang menarik baju Stevani dengan tangan kecilnya itu.


"Ha mama?" Bingung Stevani.


"Apa maksudnya Stevani!!! Kenapa ada suara anak kecil yang memanggil dirimu mama!!!" Teriak Maya dari balik ponsel.


Stevani pun langsung limbung, dimana ia kini berada di situasi yang tak ia ketahui. Ia ingin menjelaskan namun mata bulat anak kecil ini membuatnya susah untuk menjelaskan.


"Mama....." Ucap lembut sekali lagi anak kecil itu


Stevani pun langsung mematikan sambungan telepon itu, ia berjongkok didepan anak kecil tersebut dan tersenyum.


"Jangan berbohong dengan memanggil ku mama" Bisik Stevani dengan datar.


"Bekerja samalah dengan ku kakak! dia seorang yang jahat ingin menjualku" Bisik anak kecil tersebut.


Stevani sempat terkejut, seorang anak kecil begitu tenang dalam menghadapi orang dewasa tanpa ada raut wajah selain berpura-pura.


"Baiklah"


"Ini anak ku, kau mau apa" Ucap Stevani dengan mata yang tajam.


"I itu! Maaf!" Ucap pria tersebut dan langsung pergi berlari meninggalkan mereka berdua dengan rasa takut.


Stevani pun langsung menurunkan anak kecil tersebut, ia berjongkok didepan anak kecil tersebut.


"Siapa nama mu?" Tanya Stevani.


"Aku Devan Erlangga" Jawabnya tanpa ada rasa takut.


"Kemana orang tua mu?" Tanya Stevani lagi.


"Aku tak tau, tapi bisa kah aku meminta tolong kepadamu untuk mencari kakakku" Ucap Devan.


"Kau cukup pintar dalam berbicara, sepertinya kau bukan lah orang biasa" Ujar Stevani menatap pakaian yang dipakai oleh Devan.


"Aku sama sepertimu,manusia! jadi jangan beranggapan bahwa aku ini bukan orang biasa" Ucapnya dengan tatapan yang pasti.


Stevani cukup memahami, bahwa anak kecil yang memanggilnya mama itu adalah orang yang berpengaruh dan tidak biasa, terlihat dari cara bicaranya dan gaya pergerakan tubuhnya saat berbicara sangat elegan. seperti seorang bangsawan.


"Baiklah, ikutlah dengan ku" Ujar Stevani.


Anak kecil itu pun mengangguk, lalu ia berjalan beriringan dengan Stevani disampingnya tanpa berpegangan tangan sedikitpun.


"Siapa nama mu kak cantik?" Tanyanya, seketika Stevani pun berhenti dan menatap Devan dengan wajah yang sulit diartikan

__ADS_1


"Baiklah, sepertinya kamu tak ingin...."


"Namaku Stevani Carolina dan kau bisa bisa panggilku dengan Stevani" Potong Stevani.


"Aku lebih suka memanggil mu Carolin! Apa kau keberatan?" Ujarnya menatap penuh tanya.


"Terserah!" Ucap Stevani datar.


Mereka berdua menghampiri berkumpulnya ketiga teman Stevani, terlihat tatapan penuh tanya dari mereka semua saat melihat ada seorang anak kecil disamping Stevani.


"Anak siapa yang kamu ambil Stevani" Tanya Gaby.


"Anak hilang" Acuh Stevani.


"Aku bukan anak hilang, sebaiknya kak Carolin berkata yang lainnya" Bantah devan.


Mereka semua sempat tercengang dengan gaya dan cara bahasa yang digunakan anak kecil disamping Stevani, sedangkan Stevani hanya acuh tak acuh dengan keadaan.


"Kamu culik dari mana nih anak sampek cara bahasa dan gerakannya elegan?" Tanya Zixi.


Stevani tetap diam, ia memilih memainkan handphonenya dari pada menjawab pertanyaan yang membutuhkan tenaga.


"Siapa nama mu?" Tanya Cio.


"Devan Erlangga" Jawabnya datar.


"Seperti tak asing! apa kau adik seorang pengusaha muda yang bernama Vicky Erlangga?" Tanya Zixi mengingat suara tv yang ia tonton tadi pagi.


"Ya" Ucap Devan.


Tiba-tiba segerombolan orang dengan baju formal hitam dan kacamata menghampiri mereka, segerombolan orang tersebut langsung berbaris dan membelah tengah, lalu jalan seorang pria dengan wajah datar dan langsung menarik Devan.


"Apa sudah selesai bermainnya!" Ucap datar pria tersebut.


Pria tersebut menarik dengan kasar tangan Devan dan orang yang melakukannya diyakini itu adalah Vicky Erlangga. Tuan muda dari keluarga Erlangga yang orang tuanya mati karena kecelakaan mobil.


"Jangan terlalu kasar" Ucap datar Stevani dengan tatapan tajam.


"Jangan urus urusan ku" Sarkasnya.


"Tuan Erlangga yang terhormat, seharusnya anda belajar caranya lemah lembut bukan!" Sinis Stevani.


Terlihat wajah Vicky yang memerah karena baru kali ini mendapat sindiran langsung dari wajahnya didepan banyak orang.


"Jangan main-main sama saya nona, anda seharusnya tidak mengusik orang yang salah" Ucap Vicky dengan tangan yang sudah mengepal.


"Oh baiklah, tapi aku tak suka orang yang kasar dengan seorang anak kecil" Balasnya.


Vicky langsung sedikit mendorong Devan kearah bodyguard nya, ia berjalan mendekat kearah Stevani dan menatap dengan wajah yang memerah.


"Aku tak membutuhkan seseorang seperti dirimu untuk menyukaiku" Ucapnya dan langsung memberi kode lambaian tangan agar segera pergi.


Vicky dan beberapa orang bodyguard itu pergi meninggalkan mereka dengan membawa Devan yang digendong oleh salah satu bodyguard tersebut.

__ADS_1


__ADS_2