
...🍒 Reading books 🍒...
Masih berada di dalam ruangannya, kini ia sedang mendengarkan penjelasan dari sekretaris nya.
"Perusahaan ke lima ini adalah perusahaan yang baru bangun 4 bulan yang lalu, namun perkembangan nya sangat pesat!" Jelas Resa.
Stevani hanya mengangguk paham, diantara perusahaan yang dipilih oleh sekretaris nya itu cuman 3 perusahaan yang menurutnya memenuhi syarat dirinya, namun demi mencukupi 5 dirinya membiarkan dua itu agar ikut berkerja sama dengannya jika 5 perusahaan itu berkenan.
"Bagaimana menurut anda buk?" Tanya Resa yang sudah selesai menjelaskan.
"Baiklah, kita akan mulai berkerja sama dengan iklan agar kita tau dengan perusahaan mana harus melanjutkan kerja sama!" Ucap Stevani.
"Tapi iklan meskipun terlihat kecil namun dana nya besar buk, bagaimana kita lakukan kerja sama dengan dua perusahaan terpilih dari anda dulu!" Ucap Resa menjelaskan agar Stevani tak salah mengambilkan keputusan.
"Baiklah, perusahaan kedua dan ke tiga saja! Kita akan mulai dengan iklan yang lebih menggunakan dana murah!" Ucap Stevani dan Resa pun mengangguk paham.
Ia cukup lebih mudah menjelaskan dengan sikap tenang Stevani yang selalu mendengarkan pendapat orang lain, Resa yang pengalaman menjadi sekretaris dan bos nya adalah pemuda yang labil, membuatnya ikut kewalahan dalam menangani sikap dan tindakan dari bos mudanya itu.
Jadi ia cukup bersyukur karena Stevani yang cukup bisa diandalkan dan pengertian, meski resa tau perusahaan ini sudah menjadi milik Stevani seutuhnya.
"Akan segera saya siapkan semua berkasnya, besok kita akan mulai mengirimkan berkas kerja sama dengan perusahaan yang anda pilih!" Ucap Resa sambil mengambil kembali beberapa lembar data berupa perusahaan kecil yang ia cari.
"Oke, pergilah!" Titah Stevani.
Resa pun pergi meninggalkan ruangan Stevani dengan segera, sedangkan Stevani ia memutuskan mengecek ponselnya yang mungkin saja ada yang penting.
Saat ia melihat dengan teliti, ia melihat beberapa pesan dari para sahabatnya yang membuatnya sedikit bingung.
"Florence sudah datang menyerang, beberapa serangan membuat 20% data hilang, segeralah datang dan mengambil kembali data yang dicuri!"
Pesan itu membuat Stevani mengerutkan keningnya, ia pun dengan segera bangkit dari duduknya dan sedikit berlari keluar ruangan.
Berjalan tergesa-gesa menuju lift, lantai tertinggi ruangannya membuatnya sedikit lama untuk sampai ke lobi bawah.
Lift pun berhenti, ia pun segera keluar dari lift dan berjalan cepat melewati beberapa orang yang menyapanya.
Segera mengambil mobil dan melajukannya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia tak ingin para sahabatnya itu mengira bahwa ia begitu tak mempedulikan mereka karena hanya ia tak membalas pesan yang sudah dari kemaren mereka kirimkan.
Begitu memakan waktu, jarak perusahaan dan tempat markas nya memiliki jarak yang jauh.
Satu jam kemudian....
Ia pun sampai di markasnya, dengan tergesa-gesa ia langsung mendobrak pintu dan sedikit berlari. Terlihat semua orang yang fokus langsung menatapnya dengan wajah yang lega.
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang Stevani, sekarang kita semua lega!" Ucap Zixi dengan wajah yang mulai lega.
"Sekarang bantulah kita!" Ucap Gaby yang sudah kesusahan melawan virus yang diberikan oleh Florence pada sistim mereka.
"Mana anggota kita semua, apa guna mereka hingga kalian begitu kewalahan!" Ucap Stevani dengan nada yang sedikit marah.
"Mereka semua tidak mengerti dengan virus yang diberikan oleh Florence pada kita, sehingga mereka tak ikut membantu kita!" Ucap Cio menjelaskan.
"Sial, dasar tak berguna!" Umpat Stevani dengan segera menduduki bangku yang berada disamping Cio dan mengetik sesuatu kode yang sangat susah.
Stevani bertarung, ia dan Florence saling mengirimkan virus dan bahkan saling mendorong virus sampai diantara akhirnya komputer mati.
"Ah sial, kurang ajar Florence awas kalian!" Kesal Stevani dengan menumbuk di udara.
"Sabarlah, sekarang seluruh komputer kita error jadi kita akan mulai nanti malam!" Ucap Cio menenangkan Stevani.
"Bersihkan semua virus yang ada di komputer, aku akan membuat virus untuk melawan mereka!" Ucap Stevani dengan langsung berjalan tergesa-gesa.
Mereka semua hanya mengangguk tanpa ada yang ingin bertanya, saat melihat wajah Stevani saja yang marah sudah membuat mereka cukup takut dengan amukan Stevani pada mereka semua.
Sedangkan ditempat yang berbeda, seorang pria dengan senyum kemenangan dan tawa yang sangat keras sehingga membuat seisi ruangan penuh tawanya.
"Kau akan tau karena telah menolak ku Stevani! Hahahaha.....!" Tawa nya yang menggelegar.
Kue pelangi dan kue krim menjadi sangat diminati, selain sebagai menu utama, rasanya sangat mendukung untuk menjadi salah satu kue yang diminati oleh pelanggan.
"Rame ya!" Ucap bangga Eva.
"Iya ya, padahal baru buka loh!" Ucap Maya menatap ke seluruh ruangan yang tak terlalu besar.
"Semoga lancar terus dan sukses!" Eva berdoa yang terbaik untuk toko nya ini, meski masih kecil namun ia sangat bangga membuka usaha dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
Mereka berdua kembali sibuk melayani para tamu, seperti menjawab pertanyaan para pembeli atau mengambilkan kue yang harus di bungkus.
"Hallo nyonya, apakah ada menu yang paling enak disini?" Tanya seorang pria dengan suara bariton nya.
Maya yang sibuk menyusun kembali kue yang sempat di perlihatkan pada pelanggan, kini ia membalikkan tubuhnya untuk memastikan seseorang yang berbicara padanya.
"Ah iya, ada apa tuan?" Tanya sopan Maya meski terlihat pria itu terlihat lebih muda darinya.
"Apa kue yang paling enak disini?" Tanya pria itu kembali.
"Saya memiliki kue pelangi dan kue krim sebagai menu utama, apakah kue yang akan anda pilih?" Tanya Maya dengan memperlihatkan kue yang di susun di lemari kaca.
"Beri aku dua kue itu, apakah disini bisa membayar pakai kartu? Saya tidak membawa uang kas sedikit pun!" Ucap pria itu menjelaskan.
"Oh bisa tuan, silakan anda pergi ke tempat kasir yang berada disana!" Maya menunjuk kearah tempat kasir dimana yang menjaga adalah salah satu karyawan nya.
Pria itu berjalan kearah kasih, sedangkan Maya mempersiapkan kue yang akan dibungkus bersama dengan karyawan nya.
"Makasih telah datang disini tuan, jangan lupa kasih bintang 5 untuk toko ini!" Ucap Maya pada pria itu sambil memberikan dua kotak kue yang telah dikemas.
"Baiklah nyonya, makasih telah memberikan pelayanan yang baik untuk saya!" Ucap pria itu menerima salah satu kue dan satu kue dibantu oleh supirnya.
__ADS_1
Segera mobil itu melaju meninggalkan toko Maya dan Eva. Kini Maya menjadi sangat bahagia, bukan karena ada pria tampan datang tapi karena toko nya itu sudah pernah dimasuki oleh orang yang sepertinya berpengaruh.