Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 48: Kejutan untuk Maya


__ADS_3

...🍒Reading Books 🍒...


Maya pun mengumpulkan sebanyak-banyaknya napas lalu dihembuskan ke lilin.


"Aku mencintaimu!" Ucap Maya dengan memeluk Elang.


"Aku juga mencintai dan menyayangi mu sayang" Ucap elang membalas pelukan Maya meski tangannya yang satunya digunakan untuk memegang kue.


"Ehemmm..." Deheman keras Stevani membuat suasana yang harmonis tersebut langsung buyar.


Sepasang suami istri tersebut menatap Stevani dan kemudian mereka tertawa dengan keras.


"Maaf sayang, mama khilaf!" Ujar Maya dengan pipi yang merona.


"Kamu gangguin orang aja!" Ucap Elang yang masih dengan tawa nya


"Yaelah! Aku masih ada loh pa, kalo berduaan gak papa deh peluk-pelukan, sekarang kan ada aku! Jadi kalian dilarang bermesraan" Kesal Stevani.


"Iya deh iya! Yaudah yok kita potong kue nya yok..." Ajak Gilang menarik tanga sang istri.


Maya pun mengikuti Elang, ia duduk di sofa bersamaan dengan suami dan anaknya. Ia memotong kue itu dan meletakkannya dipiring kecil.


"Satu suapan untuk papa...aaaa" Ucap Maya menyuapkan suaminya.


Elang pun mengucap bismillah dan lalu memakan suapan kue yang diberikan suaminya. Kini Stevani yang akan disuapi oleh Maya.


"Satu suap untuk anak gadis mama yang tersayang..." Ucap bahagia Maya menyuapkan Stevani.


Stevani pun menerima suapan itu, ia merasa ikut bahagia. Ini adalah suasana keluarga yang ia impikan pada keluarga nya dulu, namun sekarang ia sudah sadar diri bahwa itu tak akan mungkin.


"Ini untuk mama, semoga suka dan Stevani menyayangi mama!" Ucap Stevani memberikan satu kado.


"Makasih sayang... muach" Ucap Maya dengan mengecup pipi Stevani.


"Bukalah ma, sebenarnya aku memiliki banyak hadiah! bentar Stevani bawakan!" Ucap Stevani yang langsung berdiri dan pergi meninggalkan ruang tengah.


Cukup lama Maya menunggu dan akhirnya Stevani datang dengan satu kado yang lebih besar dari yang ia pegang. Namun bukan hanya Stevani yang datang, bahkan beberapa orang datang dengan membawa banyak kado.


"Apa kamu borong semua mall sayang, bahkan satu ruangan ini hampir penuh dengan kado mu!!" Terkejut Maya saat melihat semua kado yang dibawa oleh Stevani.


"Sebenarnya ini masih separoh ma! Mari deh, coba lihat keluar!" Ucap Stevani menggandeng lengan mamanya.


Maya pun mengikuti apa yang diminta sang anak dan bertapa ia terkejut, anaknya membawa sebuah mobil untuk mengangkut sebuah hadiah yang begitu banyak.


"What!! kamu mau membuat mama gempor karena membuka semua ini sayang!!!" Kesal Maya dan juga syok.


Bagaimana tidak syok, Stevani membawakan kado yang hampir penuh dalam ruangan dan malah ditambah dengan mobil kijang pengangkut barang yang penuh dengan kado yang berbungkus.


"Hehehe.... aku tak tau apa yang mama suka, jadi aku beli semuanya dan suruh orang mengasih kado!!" Cengengesan Stevani.


Maya hampir saja pingsan mendengar penuturan sang anak dan ia berbalik menatap sang suami, ia curiga bahwa suaminya juga melakukan hal itu.


"Apa sayang?" Tanya Elang seakan tau dari tatapan mata Maya.


"Apa kamu juga melakukan hal itu?" Tanya Maya dengan mata yang menyipit.


"Hmmm... itu, sepertinya aku juga melakukan hal itu!" Ucap Elang yang ragu memberitahu kan.


Tiiinnn...tinnn...


Mobil kijang kembali datang dengan membawa kado juga dan hal itu seketika membuat Maya langsung pingsan memikirkannya.


"Sepertinya kebahagiaan ini membuatku menderita diakhir" Gumam Maya yang setengah sadar.


Elang dan Stevani sempat cemas dengan keadaan Maya, Elang langsung mengangkat tubuh Maya untuk masuk kedalam rumah kembali.

__ADS_1


Elang meletakkan Maya disofa dan berusaha membangunkan dengan memberi minyak angin.


"Ekkkhhh...." Lenguhnya.


"Kamu udah sadar sayang, bagaimana keadaan mu sekarang" Tanya Elang menatap Maya.


"Ah... bagaimana aku membuka semua kado ini!!" Sedih Maya menatap kado yang tersusun.


"Sepertinya kita harus meminta bantuan sama para pekerja, sepertinya mereka senang" Ucap Stevani memberikan pendapat.


"seharusnya seperti itu..." Ucap Elang menggaruk tekuknya yang tak gatal.


Maya hanya mendengus berat, ia cukup kesal dengan kedua bapak dan anak ini. Mengapa mereka berdua memiliki pendapat yang sama dan melakukan hal bodoh yang membuat mereka melakukan yang sia-sia.




Kini adalah pembukaan kado, ruangan yang besar kini sangatlah sempit karena semua kado yang disusun. Mereka hanya diberi ruang untuk duduk saja.



"Lain kali jangan lakukan hal bodoh ini" Kesal Maya sambil membuka setiap kado.



Sedangkan Stevani dan Elang hanya menggaruk tengkuknya dan hanya bisa ikut membantu saja.



Semua pekerja yang berkerja di rumah mereka membantu membuka semua kado, sehingga Maya tak perlu terlalu berkerja keras sendiri membuka kado.



"Kita sambung besok ya, kado ini terlalu banyak dan para pekerja sudah kelelahan!" Ucap tak tega Elang.




"Biar aku gendong sayang" Ucap Elang dengan mesra.



Maya hanya diam, ia membiarkan suaminya menggendong dirinya. Kini pinggang dan punggung nya terasa penat karena hanya membuka kado yang beribu ini.



"Sepertinya mereka lupa bahwa banyak orang" Gumam Stevani.



"susun semuanya yang baik, setelah itu silakan istirahat" Ucap Stevani mengarahkan.



Stevani pun langsung pergi meninggalkan ruangan yang penuh dengan kertas kado yang rusak. Saat ini ia juga membutuhkan istirahat untuk melakukan kegiatannya besok.



Ia masuk ke kamarnya, membaringkan tubuhnya yang lelah. Ia meluruskan punggungnya yang panas karena terlalu lama duduk.



Stevani mengecek ponselnya, ia melihat dengan detail siapa saja yang mengechetnya dan ternyata disana ada dua orang yang yang kemaren menahannya untuk sebuah nomor ponsel.

__ADS_1



"Mereka cukup tau diri tak terus mengganggu aku dengan telpon" Gumamnya.



Stevani pun hanya menjawab 'oke' dan beberapa saat keduanya langsung mengechet dengan berbagai macam hal yang menurut Stevani berlebihan.



Stevani lalu menjawab seadanya dan beberapa saat terjadilah panggilan video call mereka secara bersamaan dan dengan terpaksa Stevani menyambungkan mereka bertiga.



"Assalamuala...." Ucap Dimas yang terpotong.



"Hello..." Sapa cowok yang satunya yang bernama Aldo.



"Ada apa" Ketus stevani.



"Yaelah ketus amat neng" Goda Dimas.



"Yaiyalah ketus, lihat muka kamu aja dia mau muntah" Ucap Aldo dengan tawa nya yang pecah.



"Apa kamu bilang, kamu pikir muka aku jelek! Kamu kali mungkin tu!" Balas kesal Dimas.



"Sudah-sudah kalian ada apa nelpon aku?" Tanya Stevani dengan nada ketus.



"Kamu kagak kangen Ama aku Stev..." Ucap memelas Dimas.



"Gak!" Singkat Stevani.



"Hhhhh....rasain tu, emang enak ditolak mentah-mentah!" Ledek Aldo.



"Biarin! Yang pentin aku pede, dari pada kamu mie kuning!" Ledek Dimas.



"Ini gaya anjir, kamu gak tau trend apa!" Kesal Aldo.



"Aku matiin nih, berantem mulu" Kesal Stevani.


__ADS_1


"Eh jangan!!!" Ucap secara bersamaan mereka.


__ADS_2