Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 60: Kembali di ganggu


__ADS_3

...🍒 Reading books 🍒...


Kalian tau apa itu tak sengaja? Stevani yang baru selesai makan siang bersama pak Wijaya harus kembali bertemu dengan Dimas, Aldo dan bahkan juga Dian.


Ketiga cowok itu tiba-tiba ada di hadapannya secara bergantian dan langsung duduk, bahkan ia tak mampu berkata apa-apa untuk mengusir ketiganya.


"Sepertinya nona kita sudah sangat sukses, aku seharusnya bisa dong merasakan duitnya yang banyak itu!" Goda Aldo dengan lain sedikit diangkat.


"Ah itu..."


"Lihatlah, bahkan dia lupa dengan kita sangking suksesnya!" Ujar Dimas yang juga ikut menggoda Stevani.


Stevani hanya bisa menganga, dirinya yang akan pergi lagi bersama Resa harus tertahan oleh kedua tangan cowok didepannya itu.


Sedangkan di tempat kasir, dimana Dian yang akan membeli segelas kopi harus terhenti saat melihat Stevani dan dua cowok yang merupakan adek kelasnya dulu.


Dian menghampirinya membiarkan kopinya diletakkan ditempat pemesanan.


"Apa kalian tak ada kerjaan sampai mengganggu Stevani!" Ujar Dian dengan muka datarnya.


Ketiganya menatap kearah Dian dengan muka yang sulit diartikan, Resa yang merasa seharusnya ia tak ikut campur pun memutuskan untuk lebih dahulu ke mobil.


"Nona, saya izin ke mobil lebih dahulu untuk menyelesaikan sesuatu..." Ucap Resa meminta izin, namun saat Stevani akan mengatakan sesuatu Resa sudah lebih dahulu pergi dengan cepat.


Stevani hanya dapat menghela nafas dengan kasar, ia segera melepaskan tangan kedua cowok itu dari pundaknya dengan kasar.


"Aku masih ada urusan, jika kalian mintak traktiran akan aku bayar sekarang!" Ucap Stevani yang langsung bangkit.


Aldo dan Dimas langsung kembali menarik bahu Stevani agar duduk, mereka seakan ingin menahan Stevani lebih lama lagi disini.


"Kita itu kangen sama kamu, masa seperti ini sih!" Gerutu Dimas.


"Tapi aku nggak!" Acuh Stevani dengan muka datar.


"Huphh...." Aldo menahan tawanya yang seakan ingin meledak, ia sebenarnya tak ingin membuat malu Dimas sehingga ia menahannya.


"Ketawa sekali, aku sleding..." Ancam Dimas dengan muka kesalnya.


Aldo melambaikan tangan didepan wajahnya, seakan ia mengatakan tidak akan ketawa kok, tapi kalo kelepasan gak papa.


"Eh bocah, kita orang dewasa gak ada waktu untuk kalian!" Kesal Stevani yang kembali bangkit.


"Oh benarkah bocah, sepertinya umur kita sama..." Ucap Dimas dengan gaya berpikir nya


"Dan bahkan lebih tua kita berdua!" Ucap Aldo yang menyambung ucapan Dimas.


"Tapi kalian belum ada yang sarjana!" Ujar Dian yang langsung mengulti keduanya.


"Ya karena kita ingin menikmati masa muda..." Ucap Aldo yang tak mau kalah.


"Jadi sekarang aku sibuk, kalian bisa pesan sebanyak yang kalian mau dengan satu syarat biarkan aku pergi!" Ucap Stevani dengan satu jari yang mengarah kepada ketiga cowok itu.


"Lebih baik kita beli sendiri dan kamu akan disini temani kita..." Ucap Dimas dengan alis yang disengaja naik-turunnya.


"Benar sekali, karena apa..." Ucap Aldo seakan bertanya pada Dimas.


"Karena kita ingin ngobrol lama sama kamu!" Ucap Dimas menjawabnya dan mereka berdua pun saling bertos ria.

__ADS_1


Sedangkan Dian hanya menatap datar keduanya, ia cukup cemburu melihat Stevani yang bahunya dipegang oleh kedua cowok itu dan Stevani hanya acuh saja.


"Jaga tu tangan kalian!" Dian langsung menghempas tangan kedua cowok itu dengan kasar.


Keduanya tampak bingung termasuk dengan Stevani, mengapa Dian bersikap posesif pada Stevani yang bukan memiliki hubungan sedikit pun.


"Ah sudah lah, lain kali aja atau kalian bisa ke perusahaan ku besok untuk main-main!" Ujar Stevani yang langsung pergi begitu saja meninggalkan ketiganya.


Setelah kepergian Stevani, keduanya tampak saling bertatapan tajam dan membendung benteng kebencian antara ketiganya.


Namun setelah cukup lama bertatapan tajam, akhirnya ketiganya meninggalkan tempat duduk masing-masing dan pergi berlawanan arah.




Didalam mobil, Stevani yang kembali harus memahami isi kontrak perusahaan satu lagi membuatnya sangat bosan atau bisa dibilang ngantuk hanya karena tulisan itu.



"Apa anda ingin segelas kopi nona?" Tanya Resa yang seakan tahu apa yang dibutuhkan Stevani.



"Boleh, tapi cafe sudah cukup jauh kita pergi!" Ucap Stevani dengan lesu.



"Saya membelinya tadi, ini untuk anda..." Resa memberikan segelas kopi dengan tutup yang masih tertutup.




"Pukul 14:25 Wib nona akan melakukan pertemuan dengan perusahaan ZX Deswart dengan pak Dew di sebuah restoran!" Ucap Resa membacakan prosedur jadwal Stevani yang cukup padat.



"Oke!"



"Pukul 15:30 Wib nona akan melakukan meeting para staf kantor" Ucapnya lagi yang membuat Stevani sedikit pusing, ternyata tak ada untuk dirinya bersantai di perusahaan.



Mungkin karena Stevani yang baru belajar perusahaan sehingga ia mengira jadwal itu padat tapi padahal ada yang lebih padat lagi.



Stevani hanya mengangguk dan terus fokus dengan dokumen kontrak itu, sedangkan mobil tetap laju ke tempat yang sudah dijanjikan.



Sesampainya di restoran yang di janjikan, Stevani dan Resa melangkah dengan pasti berjalan memasuki restoran.


__ADS_1


"Apakah ada yang datang di meja yang saya pesan?" Tanya Resa pada karyawan yang menjaga di lobi restoran.



"Atas nama nona Stevani, untuk meja itu belum ada satu orang pun datang!" Jawab penjaga lobi itu.



"Baiklah, katakan jika ada seseorang atas nama pak Dewrid Anwar untuk segera menghampiri meja yang saya pesan!" Ujar Resa memberikan pesan pada penjaga lobi restoran.



"Baiklah, akan saya lakukan!" Ujarnya menerima pesan itu dengan tersenyum ramah.



Stevani dan Resa kembali berjalan menuju meja yang ia pesan untuk pertemuan kali ini. Mereka berdua duduk menunggu kliennya sambil membaca isi kontrak.



Tak berselang lama...



"Silakan tuan!" Ujar pelayan restoran dan membuat mata Stevani mengarah pada seseorang yang berada dihadapannya.



Pelayan itu langsung pergi meninggalkan meja Stevani, sedangkan pria yang bernama Dewrid Anwar berdiri dengan tubuh tegap dan mata yang tegas.



"Apa kabar tuan!" Sapa Resa dengan senyum profesional.



Resa tak ingin menjulurkan tangannya karena ia mendengar rumor bahwa tuan Dew sangatlah anti bersentuhan dengan wanita apalagi secara terbuka seperti ini.



Stevani terpesona dengan ketampanan pria di hadapannya, mulutnya sedikit menganga namun ia kembali sadar dengan tujuannya kali ini.



Dew tak menjawab, pria itu lebih memilih menatap wajah Stevani yang menurutnya imut dan lucu saat terpesona di hadapannya.



"Oh Tuan Dew senang bertemu dengan mu!" Ucap Stevani dengan senyum profesional sambil menjulurkan tangan nya.



Sedangkan Resa langsung cemas dengan reaksi dari tuan Dew yang memiliki tempramen yang aneh. Namun hal itu menghilangkan kecemasan Resa, Tuan Dew menjawab juluran tangan Stevani dengan senyum manisnya.



"*Apa sebentar lagi kiamat*" Batin asisten Dew yang berada di belakang Dew.

__ADS_1


__ADS_2