Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 38: Kasih gue alasan


__ADS_3

...🍒Reading Books 🍒...


Stevani memainkan setiap not piano, ia menekan tombol yang sesuai dengan pengarahan buku. Mereka semua berkerja sama untuk membuat penampilan mereka terlihat luar biasa.


Terlihat dari kejauhan Dian dan Dimas tampak terkejut karena melihat Stevani yang ikut dalam acara dan bahkan mampu dalam memainkan not nada piano dengan cukup merdu.


"Kejutan yang luar biasa Seperti nya kamu begitu memiliki bakat" Batin Dimas.


"Begitu susah dijangkau, seperti bintang yang terasa dekat namun sangatlah jauh" Batin Dian menatap yang mendalam.


"Sepertinya mereka memperhatikan aku deh" Batin Stevani saat melihat dua orang cowok yang memperhatikan mereka dari kejauhan.


Satu petikan, satu tekanan, dan satu pukulan akhirnya penampilan mereka selesai. Banyak bersorak gembira karena penampilan mereka yang cukup luar biasa.


Stevani langsung turun dari panggung lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat acara.


"Cukup hebat" Ucap seseorang yang Stevani kenal.


"Bian seharusnya kamu gak pernah berurusan dengan aku" Ucap Stevani memperingatkan.


"Oh benarkah, tapi aku pengen lihat kemampuan kamu sampai mana ngelawan aku" Ucap Bian dan maju dua langkah kehadapan Stevani.


Stevani pun berdiri dengan mantap dan menantang, ia tak kalah tajamnya dengan lihat melihat masing-masing keduanya. Hawa permusuhan cukup melekat di sekeliling mereka.


Stevani pun maju kehadapan Bian begitu pula Bian yang mundur kebelakang. Senyum smrik Stevani terlihat jelas meremehkan.


"Kamu bukan tandingan aku" Ucap Stevani yang langsung menghentakkan tangannya didinding dan ternyata mereka sudah memepet pada dinding seketika Bian sedikit terkejut.


Stevani langsung menghindar dan mundur beberapa langkah dari Bian. Ia melihat orang yang sudah turun dari panggung.


"Aku pergi dulu ya" Teriak Stevani pada mereka yang ada disana.


Mereka semua hanya menjawab secara bersamaan dengan jawaban masing-masing. Dari kejauhan terlihat Dian yang melihat dengan senyum tipis dari sudut ruangan.


Ia sebenarnya berencana hanya melihat Stevani saja namun saat ini malah terlihat kejadian dimana seorang wanita menindas seorang pria.


"Sepertinya kamu sangat liar Stevani" Gumamnya dan langsung pergi dari tempat tersebut.


ditempat lain, dimana Nila saat ini berada dirumahnya. Terlihat sang suami yang berusaha menyuapi sang istri yang tidak makan setelah datang kerumahnya.


__ADS_1


"Akhhh jangan mendekat....hiks....hiks" Teriak Nila menarik rambutnya.



"Tenanglah, ini aku" Ucap suaminya.



"Hiks...hiks... dia! dia! jahat!" Lirihnya.



"Tenanglah! sekarang anak kita berada di penjara dan kini aku hanya punya kamu jadi ku berharap kamu jangan seperti ini sayang" Ucap suaminya yang terus berusaha menenangkan istrinya itu.



"Akhhh...dia mau membunuhku" Teriak Nila.



"Sayang...sayang sadarlah" Cemas suaminya.




"Iya sayang aku disini!" Lirihnya.



"Mas Rio, aku takut!!" Ucapnya ketakutan dan langsung memeluk suaminya.



"Iya sayang, aku disini" Ucap Rio memeluk tubuh Nila.



Nila pada terisak dalam pelukan Rio yang hangat. Nila cukup beruntung karena memiliki suami yang dapat menerimanya meski saat ini ia memiliki kekurangan karena ulahnya.


__ADS_1


Kini tangan nya hanya satu tangan yang dapat menggenggam dan ia juga memiliki trauma yang cukup mendalam sehingga ia terus mengingat bayangan wajah Stevani yang sangat menyeramkan.



Kembali ke Stevani, Stevani ia duduk disebuah tempat yang cukup sunyi. Ia menghabiskan waktu nya itu setelah melakukan penampilan.


Ia masih Clara yang sama yang berada ditubuh Stevani. Ia lebih suka menyendiri seperti dirinya dulu. Ia selalu dikucilkan sehingga ia jarang untuk melakukan interaksi kepada sekitarnya.


"Apa membutuhkan coklat" Ucap seseorang.


"Ada apa?" Tanya Stevani datar.


"Makanlah ini! Aku tau kamu pasti lagi kusut" Ucapnya memberikan coklat.


Dia adalah Dian, ia memberikan satu coklat, mengapa ia bisa disini? Ya tentu karena dia dari saat Stevani pergi ia selalu mengikuti kemana Stevani pergi.


"Makasih" Ucap Stevani yang menerima coklat pemberian Dian.


"Ya! Jika kamu suka aku bisa setiap hari membawakan untuk kamu " Ucap Dian dengan tersenyum manis.


Stevani sempat tertegun melihat senyum Dian, ia baru pertama kali memperhatikan Dian begitu lekat dan dekat. Dan ternyata ia tidak menyadari bahwa Dian lumayan ganteng.


Tapi ia sadar diri bahwa Dian adalah kakak iparnya dulu dan ia sudah bertahun-tahun hidup satu rumah meski jarang bertegur sapa.


"Gak perlu dan aku harap jangan terlalu dekat dengan aku" Ucap Stevani datar.


"Kasih aku alasan" Ujarnya menatap lekat mata kecil Stevani.


"Karena..."


"Rupanya kamu disini" Ucap Husna yang datang langsung mendorong pintu dan disaat itu Stevani merasa lega karen saat ini ia bisa terlepas dari menjelaskan.


"Iya" Ucap Stevani yang langsung berdiri.


"Pliss jelaskan" Mohon Dian.


"Lain kali" Ucap Stevani yang langsung menghampiri Husna.


Stevani merangkul Husna dan membawa pergi bersamanya meninggalkan Dian yang menatap terus Stevani dengan mata yang lirih.


"Kamu hampir sama dengan Clara tapi kamu memiliki sikap yang kasar bukan seperti Clara yang lembut" Gumamnya menatap lirih.

__ADS_1


Dian pun meninggalkan tempat tersebut, ia kembali ke tempat acara dimana disana cukup memiliki peran yang penting untuk mengatur acara namun karena mengikuti Stevani sehingga ia meninggalkan tugasnya.


__ADS_2