
...๐Reading Books๐...
Dipagi harinya,semua orang sudah siap dengan sekolah paginya. Saat ini adalah hari Senin dimana setiap minggunya akan melakukan upacara. Dengan pakaian yang rapi Stevani berbaris dengan barisan paling belakang.
Namun disaat ia sedang memikirkan sesuatu yang ia pikirkan semalam sampai matanya hampir seperti panda,namanya malah dipanggil kedepan oleh guru.
"Stevani! Maju kedepan!" Ucap guru.
Seketika Stevani langsung sadar dan menatap keseliling menatap kearahnya dan guru malah juga menatap kearahnya.
"Ada buk,apa anda memerlukan saya" Tanya Stevani.
"Hmmm... Kamu sekarang menjadi pembawa acara, jika kamu salah maka kamu akan dihukum! Ingat tidak ada penolakan!" Ucap guru itu yang langsung pergi ke beberapa barisan kelas lainnya untuk merapikan barisan.
Stevani pun maju kedepan lapangan,ia berjalan kearah dimana letak map berkumpul dan langsung mengambil satu. Stevani pun berjalan kearah mic,ia menghidupkan mic nya dan langsung menatap kedepan.
"DIAM! ATUR BARISAN MASING-MASING,JIKA TIDAK BISA MAKA SAYA YANG AKAN BERTINDAK" Ucap Stevani dengan menggunakan mic.
Semua orang langsung berbaris dan diam,suasana langsung sunyi dan menegang,tak ada satu pun yang berani untuk bergerak sedikit pun karena mereka selalu mengawasi gerak mata Stevani.
Semua guru yang berada disana langsung tercengang,mereka yang sudah susah payah mengatur saja tidak bisa mengatur,ini malah hanya sekali berbicara dan menatap tajam langsung terdiam! Sungguh sayang sekali!.
Stevani pun langsung memulai upacara,dari awal sampai akhir upacara semua orang bersungguh-sungguh dan serius dalam upacara sehingga tak ada kendala sedikit pun.
"Makasih Stevani,kamu anak yang bisa mengatur barisan dengan hebat!" Puji kepala sekolah dengan senyum manisnya.
"Makasih pak,tapi sebaiknya anda tak perlu melakukan hal itu karena saya tak suka dengan pujian" Ucap datar Stevani yang langsung pergi meninggalkan lapangan,sedangkan kepala sekolah hanya terdiam dan takut pada aura yang dipancarkan oleh Stevani saat ini.
Stevani terus berjalan melewati koridor,terlihat semua orang tergesa-gesa masuk ke kelasnya masing-masing. Stevani terus berjalan tanpa menghiraukan sekitarnya.
"Sepertinya aku harus menyelidiki identitas Dian yang sebenarnya" Gumamnya.
Dipikir-pikir dari kemaren,Dian dari dulu suka menyendiri dan pendiam. Tak banyak yang ia lakukan,namun saat ia mengetahui Dian saat malam hari itu,ia cukup terkejut! Dian bisa meretas perusahaan papa nya dengan mudah dan begitu tak mudah diketahui lagi karena sistemnya hampir sama dengan sistem perusahaan.
Ia selalu berpikir bahwa Dian adalah Hacker perusahaan papa,namun hal itu tak diketahui oleh papanya. Stevani pun memasuki kelasnya, ternyata sudah hampir semua murid masuk menunggu gurunya datang.
Stevani duduk di bangkunya,ia lalu menatap kearah jendela yang memperlihatkan langit yang cukup cerah namun menurutnya sebentar lagi pasti akan hujan.
"Lihatlah dia,selalu bermuka datar dan sok hebat disekolah" Tunjuk beberapa siswa yang ngegosip tentang Stevani.
"Terlalu angkuh sampai teman pun ia tak ada" Ucap salah satu siswa yang menggosipkan Stevani.
Stevani cukup mendengar jelas semua pembicaraan semua orang,namun yang ia lakukan malah memakai handset di telinga nya dari pada mendengar pembicaraan tikus yang tidak penting.
__ADS_1
Di jam istirahat, Stevani berjalan ke perpustakaan. Ia ingin mengambil beberapa buku yang menurutnya penting.
Ia masuk menggunakan kartu siswa lalu berjalan melihat deretan buku yang tersusun. Ia terus membaca rak buku mana yang menurutnya menarik perhatian dan buku pelajaran yang ia cari.
"Terlalu merepotkan mencari buku ini,bahkan buku ini terlalu banyak" Gumamnya.
"Sepertinya ada yang membutuhkan bantuan aku" Ucap seseorang yang diyakini bahwa ia adalah Dian.
"Nggak ada, sepertinya kamu salah lihat deh" Ucap Stevani menolak dan langsung pergi berjalan meninggalkan Dian.
Stevani berjalan sesekali mengambil buku pelajaran dan buku yang ia inginkan. Namun saat buku paling teratas membuatnya sedikit kesulitan.
Stevani pun berbalik badan,ia menatap keatas melihat wajah sang kakak yang datar terus menatap dirinya.
"Ini buku nya, jangan terlalu bersikap angkuh jika masih membutuhkan bantuan orang lain" Ucap Dian memberikan buku ditangannya pada Stevani.
"Makasih,lain kali jangan mengganggu aku" Ucap Stevani yang langsung mendorong tubuh Stevani dan langsung pergi meninggalkan Dian.
Dian tampak tersenyum tipis melihat kepergian Stevani. Ia pun langsung pergi meninggalkan perpus Kembali ke kelasnya.
๐๐๐
__ADS_1
Ditempat lain,dimana berada seorang pria yang duduk dengan angkuh menatap tajam kearah seorang bawahannya.
"APA KATAMU!" Teriak pria itu yang langsung membanting kaca yang berada didekatnya '*brakkk*'
"Ma-maaf tuan, dari penyelidikan saya sebulan in! Semuanya sudah terungkap, ternyata nona Kirana mengalami yang namanya depresi dan kanker rahim saat dimana umur kehamilan nya sudah 7 bulan dan tuan Hendrik langsung pergi dengan selingkuhannya atau wanita yang telah menjebaknya" Ujar ketakutan bawahannya itu.
"Teruskan!" Ucap datar nya.
"Ia mempunyai anak yang bernama Clara Adelin yang sudah meninggal karena ulah anak dari Madani yaitu yang dianggap kakak...."
"Dan juga kedua teman dari kakaknya itu yang mendorong nya dan sekarang keluarga mereka sudah hancur dalam seminggu dan kedua teman dari kakaknya itu sedang berada di penjara,hal itu karena laporan dari gadis yang bernama Stevani" Jelasnya dan memperlihatkan gambar seorang gadis yang secara diam-diam difoto.
"Gadis kecil yang imut!" Ucap pria itu.
"Tapi dia memiliki kekuatan yang cukup dan ia berada di keluarga yang bernama Ziegler" Jelasnya.
"Keluarga besar itu ya!...Heh" Semringai nya.
"Buat sedikit gertakan pada keluarga Clara,aku tak ingin keluarga nya menikmati kekayaan setelah menyingkirkan Kirani dan anaknya" Ucap nya dengan tatapan tajam menatap lurus kedepan.
"Baik,akan saya laksanakan!" Ucap bawahan itu dan langsung pergi meninggalkan ruangan bosnya.
__ADS_1
Terlihat senyum yang cukup lebar namun dapat terlihat cukup sangat licik dan penuh siasat.