Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 53: Susah bangun


__ADS_3

...🍒Reading Books 🍒...


Dimalam harinya, Stevani masih dengan nikmatnya menikmati kasurnya yang nyaman. Padahal sudah jam 8 malam, namun Stevani enggan beranjak dari tempat tidurnya.


Maya yang kepo dengan kegiatan anaknya yang dari siang tadi belum keluar kamar pun, akhirnya memutuskan untuk naik menghampiri kamar Stevani.


Maya terus mengetok pintu Stevani, namun tetap tak ada jawaban dari dalam.


"Nak! Kamu didalam kan?" Panggil Maya sambil terus mengetuk pintu kamar Stevani.


Namun tak ada jawaban dari dalam, akhirnya Maya memutuskan untuk masuk kedalam kamar memastikan keberadaan sang anak.


Ceklek


Pintu dibuka Maya, ia melihat anaknya yang masih tidur dengan lelapnya di kasur.


"Astaghfirullah, bukankah dari tadi siang tidurnya!" Bingung Maya sambil mengucap.


Maya pun mendekat keranjang, ia menatap wajah anaknya yang berantakan.


"Nak! Nak!" Namun tak ada jawaban.


Stevani masih tetap menutup mata, tak ada pergerakan sedikit pun dari tubuh Stevani dan hanya nafas yang beraturan saja.


"Stevani bangun!!!" Teriak Maya.


Seketika Stevani langsung bangun dari tidurnya, ia terduduk dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih.


Stevani kembali memeluk bantalnya, namun hal itu membuat Maya semakin geram.


"Stevani!!!!" Teriak Maya dan akhirnya Stevani pun sadar dari tidurnya.


"Eh mama! Kok ada disini ya ma?" Cengengesan Stevani.


"Sekarang kamu cepat bangun, sekarang coba kamu lihat jam!" Geram Maya sambil menunjuk jam dinding.


Stevani pun melihat jam didinding dan betapa terkejutnya bahwa ia sudah tertidur lebih dari 3 jam. sungguh sangat epic.


Stevani langsung bangun dari kasur dan berlari ke kamar mandi.


Sedangkan Maya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang anak.




Kini Stevani sudah berada dimeja makan bersama dengan sang mama. Ayahnya seperti nya kembali tidak pulang hari ini, terlihat dari jam segini ayahnya tak berada di rumah.



"Ayo makan sayang!" Ucap Maya sambil mengambilkan nasi untuk Stevani.



"Makasih ma!" Ucap Stevani lalu menerima piring yang diberikan Maya.


__ADS_1


Mereka berdua pun makan malam dengan khidmat, meski tanpa ada kepala keluarga yang menemani mereka.



Setelah selesai makan, Stevani membantu sang mama membereskan sisa makanan meski sang mama tidak mengijinkan.



"Dasar keras kepala!" Sindir Maya.



"Mama istirahat saja, pasti terlalu capek kan!" Ucap Stevani yang merebut piring kotor dari tangan Maya.



"Kamu ini, biar mama saja sayang!" Ucap Maya yang menjangkau piring kotor satu lagi.



"Sudah ma! Mama jangan keras kepala juga, Istirahat dulu sana ma..." Ucap Stevani yang langsung menarik piring dari tangan Maya.



"Baiklah, terserah kamu aja!" Ucap Maya yang sudah pasrah.



Maya pun duduk membiarkan anaknya melakukan semuanya, dulu anaknya itu selalu minta ia sendiri membantu, namun dirinya yang tak ingin anaknya terlalu repot dengan pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan.




Terlihat anaknya cukup cekatan dalam melakukan pekerjaan itu, Maya sempat berpikir bahwa anaknya itu pernah belajar atau sudah terbiasa.



"Kamu belajar dari siapa mencuci itu?" Tanya Maya.



"Hah...apa ma?" Tanya Stevani yang memang tak mendengar ucapan dari sang mama.



"Kamu belajar dari siapa nyuci piring?" Tanya Maya sekali lagi.



Namun Stevani tetap tidak mendengar dan akhirnya memutuskan untuk mematikan kran air agar terdengar ucapan sang mama.



"Mama ngomong apa, maaf tadi gak kedengeran Karena kran air hidup!" Ucap Stevani yang mendekat kearah Maya.


__ADS_1


"Gak ada kok sayang, mama cuman tanya kamu semakin cantik aja ya!" Ucap Maya yang mengalihkan pertanyaan.



"Mama bisa aja, biasa kali ma!" Ucap Stevani yang sedikit malu.



"Cie...bisa pula ya anak mama salting!" Goda Maya dengan menyenggol hidung Stevani.



"Udah lah, Stevani selesai kan nih cuci piring baru kita lanjut cerita!" Ucap Stevani yang langsung pergi kembali ke tempat pencuci piring.



Maya terus memperhatikan Stevani sampai anaknya itu selesai mencuci semua piring kotor.



"Sudah ma, yok!" Ajak Stevani sambil mengelap tangan nya menggunakan tisu.



Maya hanya menurut saja, mereka berdua berjalan keruang tengah untuk melanjutkan perbincangan mereka atau menonton televisi.



"Oh iya, tiga Minggu lagi akan diadakannya acara di sekolah kamu sayang, papa dan mama akan kesana karena papa akan jadi donatur sekolah!" Ucap Maya yang baru mengingat pesan dari suaminya.



"Oh yaudah ma, terus kenapa?" Tanya Stevani yang padahal sudah mengetahuinya sejak dua hari yang lalu.



"Kamu ikut pergi ya bersama papa dan mama!" Ucap lembut Maya namun sedikit ragu.



"Tapi ma..."



"Eh kalo kamu gak bisa pergi jangan dipaksa sayang!" Ujar Maya yang langsung begitu saja memotong pembicaraan Stevani.



"Bukan itu ma, tapi Stevani bajunya mama yang pilih ya!" Ucap Stevani dengan tersenyum lembut.



"Siap sayang mama akan siapkan semua untuk mu!" Ucap Maya dan langsung memeluk Stevani dengan erat.



Mereka pun melakukan pembicaraan, dari yang namanya pengalaman mama nya sekolah dan ada begitu banyak yang mereka perbincangkan.

__ADS_1


__ADS_2