
...🍒 Reading books 🍒...
Stevani berada di mobilnya, kini ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena saat ini ia sedang menatap liontin di tangannya itu.
"Ini liontin Stevani, apa ini mama yang kasih?" Gumamnya memperhatikan liontin itu dengan teliti.
Terlihat liontin itu terdapat foto Stevani dan Maya yang sepertinya Stevani sudah beranjak remaja.
"Nih orang dingin banget yak, masih untung sih karena cantik!" Gumam Stevani melihat foto yang didalam liontin itu.
Mobil terus melaju namun Stevani malah tanpa sengaja menabrak mobil orang dan membuat mobilnya dan mobil orang yang ia tabrak.
Braak...
"Ah..astaga!" Stevani reflek mengerem mobil namun tetap saja mobil itu tetap menyenggol mobil orang.
Stevani perlahan keluar dari mobilnya, ia melihat mobilnya dan mobil orang itu, ia cukup terkejut karena keadaan mobil itu cukup parah dari yang ia bayangkan.
Stevani terus mengecek dan seseorang keluar dari mobil yang sepertinya adalah sopir.
"Apa yang anda lakukan nona!" Terkejut sopir itu saat kerusakan pada mobil tuanya cukup besar.
"Oh maafkan aku pak, ini saya nggak sengaja, bagaimana kalo aku ganti rugi!" Stevani yang sudah panik pun memberikan saran pada pria paruh baya itu.
"Apa nona Stevani bisa mengganti nya!" Suara bariton seseorang yang membuat Stevani dan pria paruh baya itu menatap asal suara.
Stevani cukup terkejut karena mobil yang ia tabrak adalah milik dari Vicky Erlangga.
"Ah itu...baiklah berapa anda terapkan untuk membayar ganti rugi ini tuan?" Tanya Stevani dengan formal.
Vicky menatap Stevani dengan datar, ia menghampiri Stevani agar lebih mudah untuk berbicara.
"10 juta bagaimana?" Tanya Vicky datar.
Stevani langsung terbelalak, begitu besar biaya yang harus ia keluarkan, apa pria ini memalak dirinya.
"Bukankah jumlah itu cukup besar tuan dengan besi peot ini!" Ucap Stevani yang tidak terima dengan harga yang ditetapkan oleh Vicky.
"Meskipun hanya besi biasa, namun biasa perbaikan nya begitu besar, seharusnya anda bersyukur karena saya memberikan hanya rendah!" Ucap Vicky yang tak mau kalah.
__ADS_1
"Apaan, hanya kendaraan besi roda empat apa harus segitunya, bahkan aku tidak merusaknya menyeluruh!" Kesal Stevani yang sangat tak terima dengan harga yang besar itu.
"Aku serahkan padamu feri!" Vicky berjalan meninggalkan Stevani yang sudah sangat kesal, pria itu seenaknya pergi begitu saja sebelum menyelesaikan masalahnya.
"Eh kamu ya, kalo memang cowok selesai kan sekarang bukan cuman ngasih keorang!" Kesal Stevani yang langsung berjalan menghampiri Vicky.
Stevani langsung menarik bahu Vicky dan membuat Vicky kembali menatap Stevani yang sudah berwajah kesal.
"Apa begini sopan santun anda nona?" Ucap Vicky yang mempertanyakan sopan santun pada Stevani dan membuat gadis itu semakin marah.
"Apa juga begitu sikap anda menyelesaikan masalah tuan!" Kesal Stevani yang menjawab ucapan Vicky.
Feri yang tak ingin mendapatkan masalah, langsung menghampiri Stevani dan sedikit menariknya.
"Nona sebaiknya sama saya saja menyelesaikan nya!" Feri terus menarik Stevani hingga membuatnya sedikit menjauh dari Vicky.
"Aku kasih waktu 15 menit menyelesaikan nya!" Vicky langsung masuk begitu saja kedalam mobilnya kembali.
Stevani menghempas tangan pak feri, ia langsung berjalan kearah bangku penumpang dimobil Vicky. Ia menatap pria itu dengan sangat kesal dan benci.
"Saya nego dengan anda, bagaimana 5 juta saja, bukankah ini juga bukan salah saya!" Stevani malah melakukan penawaran, namun pria itu tidak menggubris nya dan malah sibuk dengan laptopnya.
Vicky hanya diam, pria itu malah menatap kearah Stevani dengan datar. Pria itu meletakkan laptopnya kesampingnya dan langsung menarik tangan Stevani yang memegang pintu.
"Aaaakkkkhhh...!" Stevani langsung teriak saat tangannya ditarik sehingga membuat tubuhnya ikut masuk dan malah duduk dipangkuan Vicky.
Pintu mobil tertutup karena tarikan tangan Stevani yang reflek karena tarikan Vicky.
"Begitu berisik dan banyak bicara, apakah kau yang seorang pengusaha mengeluarkan uang 10 juta begitu sulit!" Ucap Vicky yang begitu dekat dengan Stevani.
"Ah minggir!" Stevani berusaha bangkit, namun dirinya kembali lagi ditarik oleh Vicky.
"Apa kau begitu ingin menarik perhatian ku!" Bisik Vicky tepat ditelinga Stevani.
Tubuh Stevani meremang, ia cukup terkejut karena Vicky Erlangga berani melakukan ini padanya.
"Nggak tertarik, tolong lepas tangan mu!" Kesal Stevani yang berusaha lepas dari genggaman Vicky.
"Oh iya kah dengan satu syarat, lakukan pembayaran sekarang atau kau akan ikut dengan ku seperti ini!" Ancam Vicky yang tetap berwajah datar.
__ADS_1
Berlin merasa geram, sungguh ia cukup tak nyaman dengan posisinya saat ini. Ia berusaha melepaskan tangannya namun pria ini cukup kuat.
"Apa kau begitu ingin membuat ku tertarik, jika sampai juniorku terbangun maka kau tau akibatnya!" Ucap Vicky dengan berbisik.
Stevani langsung menegang, ia tidak menyangka tindakannya bisa berefek pada benda yang dibawah sana.
"Ah itu...besok aku akan bayar, saya tak membawa satu pun Uang!" Ucap Stevani dengan beralasan.
"Tak masalah, melalui handphone bisa!" Ucap Vicky yang cuek.
"Po-ponselku sepertinya ketinggalan deh di kantor!" Ucap Stevani beralasan.
Drrrttt...drrrttt
Tiba-tiba ponsel Stevani berdering disaat tidak tepat, mata Vicky langsung berarah pada asal suara dan Stevani juga mengarahkan matanya perlahan karena saat ini kebohongannya ketahuan.
"Bagaimana nona, apa anda memiliki alasan lain!" Ucap Vicky yang menaikkan satu alisnya.
"Ah itu baiklah, tapi lepaskan aku dulu!" Stevani meminta Vicky agar melepaskannya, namun Vicky malah menaikkan kembali alisnya dan hal itu membuat Stevani geram.
"Aku tidak akan kabur, posisi seperti ini membuatku tak nyaman!" Ucap kembali Stevani meyakinkan Vicky.
Vicky pun melepaskan Stevani dan dengan segera gadis itu bangkit dari duduknya dan perlahan mengambil ponselnya.
Namun untuk memberikan begitu saja, itu bukanlah Stevani. Ia dengan segera berlari menuju mobilnya dan segera masuk. Sedangkan pak feri sopirnya Vicky langsung berlari mengejar Stevani, namun Stevani sudah lebih dulu masuk dalam mobilnya.
"Nona! Nona! Anda keluar dulu, selesaikan masalah ini dulu" Ucap pak feri yang memanggil Stevani agar tidak pergi lebih dahulu sebelum menyelesaikan masalah ini.
Tiinn...tinnn
Stevani hanya mengklason mobil Vicky, saat ini ia tidak akan mudah untuk dipalak hanya karena penyok pada mobil itu.
"Aku akan mentransfer 5 juta dan itu aku anggap lunas!" Teriak Stevani dan langsung melajukan mobilnya kembali meninggalkan Vicky yang tersenyum tipis.
Pak feri langsung menghampiri tuannya, badannya sedikit ia bungkukkan dengan tangan yang menggenggam erat. Ia begitu takut kena marah oleh tuan yang memiliki sifat emosi yang sulit dihadapi.
"Lakukan perjalan!" Datar Vicky yang kembali melanjutkan pekerjaannya di laptop.
Pak feri hanya menurut saja, ia pun dengan segera berlari memutar mobil dan kembali menjalankan mobil tuannya kembali.
__ADS_1