
...🍒Reading Books 🍒...
Husna terus mengikuti Stevani sampai akhirnya Stevani bosan sendiri karena ada seorang penguntit disetiap langkahnya.
"Berhentilah melakukan hal bodoh" Sarkas Stevani dengan nada dingin.
"Kamu seriusan gak kenal aku Van, oke deh aku jelasin..." Ucap Husna dan langsung menjelaskan semua yang mereka lakukan di masa-masa bersama dulu.
"Oh" Ucapnya.
Hanya satu kata yang dapat terucap oleh Stevani sedangkan Husna yang dari tadi mencerocos malah mendapatkan kata oh, sungguh sangat menyakitkan.
"Baiklah, sekarang aku mau kasih kabar bahwa Zio akan pulang" Ucap Husna saat melihat Stevani akan pergi.
Seketika semua memori rekaman di otak nya berputar dengan sendirinya secara mundur. Stevani memegang kepalanya dengan keras dan ia pun tau bahwa ini adalah ingatan tentang Zio.
Stevani pun akhirnya mengetahui siapa Zio, Ia adalah seseorang yang pernah mengisi hati Stevani dulu namun Stevani disia-siakan karena seorang gadi yang hidup di dunia malam.
Stevani mengetahui hal itu dan ia pun mabuk lalu mengalami kecelakaan, sehingga tubuh Stevani ia yang menempati saat ini.
"Aku tak membutuhkan nya" Ucap datar Stevani.
"Tapi kamu sangat sayang sama dia stev" Ucap Husna yang bingung dengan sikap temannya.
"Aku harap, jangan pernah membahas dia lagi jika mau berteman dengan aku" Ucap Stevani.
Husna hanya mengangguk saja, ia tak ingin membuat sahabatnya itu marah dan menjauhinya karena seorang pria. Dulu Husna tak suka dengan Zio, dimana ia sudah beberapa kali melihat Zio berjalan dengan seorang wanita di tempat umum. Namun saat ia melaporkan nya pada Stevani, ucapannya tak pernah didengar dan malah Stevani selalu berharap agar hubungan nya tetap bertahan sampai meninggal.
Lama kelamaan Husna sudah terbiasa dan menganggap pilihan sahabat nya adalah pilihannya dan ia tidak akan ikut campur.
Stevani berjalan menuju tempat duduk dan disusul oleh Husna yang ikut duduk disamping Stevani.
"Kamu kenapa tiba-tiba seakan lupa Van" Tanya Husna dengan menoleh kearah Stevani.
Stevani mengalihkan pandangannya, ia melihat semua orang yang sibuk dengan kegiatannya.
"Aku kecelakaan, jadi maaf kalo aku lupa kamu" Jelasnya datar.
"Seriusan Van, kamu gak bohong kan" Ucap Husna yang tak percaya.
__ADS_1
"Menurut kamu aku akan membohongi orang" Sinisnya.
"Oh tidak mungkin, btw kamu kok pindah sekolah sih" Kesal Husna.
"Mencari suasana baru" Jawabnya singkat.
"Bukankah sama aja tapi kan beda nya sekolah lama lebih mewah dari ini" Jelas Husna.
"Aku bosan dengan sekolah itu, jadi aku pilih sekolah biasa" Ucap Stevani datar.
"Terus ada kawan kagak?" Tanyanya namun Stevani tetap enggan untuk menjawabnya.
"Apa kamu udah punya selingkuhan atau pacar baru" Tanya nya lagi.
"Apa kamu..." Ucap nya yang akan melayangkan pertanyaan lagi namun Stevani malah menatap tajam kearah Husna.
"Hmmm... sebaiknya aku mikem deh" Cengengesan Husna yang cukup merasa takut dengan Stevani.
Stevani pun langsung berdiri dari duduknya, ia masuk berencana pergi ke kelasnya hanya untuk sekedar untuk duduk saja.
Namun hal itu harus ia undurkan, saat ini ia malah dipanggil oleh seseorang yaitu sahabatnya dulu waktu ia menjadi Clara namanya adalah suci.
Stevani pun berhenti, ia menatap lekat sahabatnya itu. Sudah lama tak pernah bertemu lagi dan akhirnya mereka bertemu.
"Ada apa?" Tanya nya.
"Kakak bisa gabung gak di grup musikal kita" Ucapnya memberikan selembar kertas.
"Kalian bisa mencari orang lain ngapain cari aku" Ucap Stevani dengan menatap datar namun dalam hatinya ia ingin sekali sahabat nya itu memberikan alasan dan memaksa dirinya untuk bergabung.
"Oh sepertinya kakak gak mau" Ucap Suci yang langsung berwajah murung.
"Apa untuk penampilan sekarang?" Tanya Stevani.
"Iya! tapi satu orang yang bertugas dalam piano lagi sakit jadi ia tidak bisa" Rengut Suci.
"Baiklah, aku akan bantu! tapi hanya untuk hari ini saja" Ucap Stevani dengan tegas dan Suci pun langsung mengangguk mengiyakan.
Stevani pun mengikuti langkah Suci, begitu pula dengan Husna yang juga ikut dengan mereka menuju ketempat musikal.
__ADS_1
Sesampainya ditempat, Suci dengan senang hati memperkenalkan Stevani pada teman-teman nya. Namun hal itu berbeda pada teman-teman Suci yang merasa takut karena kehadiran Stevani.
"Eh kalian kenapa, kak Vani tak ngelakuin apa-apa kok kalian kayak orang takut" Ucap bingung Suci saat melihat raut wajah seluruh temannya.
Stevani pun menatap mereka semua dengan tatapan tajam, diantara mereka ada yang menggigil melihat Stevani yang menatap mereka.
"Kak Stevani maafin teman aku ya" Ucap Suci yang langsung berbalik menghampiri Stevani.
Stevani pun tersenyum dan mengangguk. Hal itu yang membuat mereka bertambah gemetar melihat senyum yang menurutnya penuh dengan kejahatan.
"Bersikaplah biasa, aku tidak akan mencelakai kalian jika kalian tidak mencari masalah dengan aku" Ucap Stevani dengan tegas kepada mereka.
"Baiklah" Ujar mereka secara bersamaan.
"Latihanlah lebih dahulu, bukankah acaranya sebentar lagi akan dimulai" Tutur Stevani.
"Baiklah, kita latihan ya sekarang! jadi jangan ada yang main-main lagi, okey" Ucap Suci dengan gaya tangan nya membentuk oke.
Mereka semua pun langsung sibuk dengan alat yang akan mereka pergunakan. Cukup menggunakan waktu untuk mempersiapkan nya dan mereka pun memulai memainkan alat musik yang cukup indah dan ditambah lantunan lagu yang di nyanyikan oleh Suci.
"Oke perface" Ucap Suci tersenyum dengan puas.
"Baiklah, sekarang kita tinggal tunggu seseorang memanggil kita" Ucap salah satu siswa yang bernama Fauzan.
Seseorang pun datang dengan berlari menuju mereka berkumpul. Dengan nafas yang ngos-ngosan pria itu berusaha mengucapkan sesuatu.
"Berbicaralah dengan tegas" Ucap Stevani datar dan seketika cowok itu langsung berbicara dengan benar.
"Kalian silakan untuk menuju aula, acara akan dimulai" Ucap cowok itu.
"Oh oke lah" Ucap Suci.
Bergegaslah mereka bersiap-siap untuk menuju aula. Disana ia duduk ditempat khusus untuk orang yang akan tampil diacara nanti.
Stevani mengikuti kemana mereka pergi begitu juga dengan Husna yang seperti seorang anak kecil yang mengikuti orang tuanya.
Stevani cukup kesal karena ia harus terus melihat tingkah bodoh Husna yang mengikutinya. Stevani duduk ditempat peserta, disana ada semua orang termasuk siswa sekolah lain.
Acara demi acara Stevani melihat sampai pada waktunya untuk dirinya perform kedepan dan akhirnya ia terlepas oleh seorang penguntit yang baru ia kenal.
__ADS_1