
...🍒Reading Books 🍒...
Setelah selesai makan,Stevani dan Ikhwanul izin lebih dulu pada Dimas.
"Stevani biar aku yang nganterin,anda mungkin sedang sibuk secara otomatis anda adalah pengusaha" Ucap Dimas.
"Aku masih ada waktu dan kamu tidak perlu repot" Tolak Ikhwanul.
"Hmm... Baiklah" Ucap Dimas dan langsung pergi meninggalkan Stevani dan Ikhwanul.
Namun sebenarnya Dimas sedang mengawasi jarak jauh Stevani dan Ikhwanul. Ia duduk diatas motornya sambil tersenyum miring.
"Saingan yang cukup menyenangkan" Gumamnya dengan senyum licik.
Stevani dan Ikhwanul langsung pergi meninggalkan tempat parkiran. Dengan kelajuan yang memang disengaja oleh Ikhwanul sedikit lebih pelan dari rata-rata membuat perjalanan cukup lama.
"Apa seharusnya anda sedikit menambahkan kecepatan tuan" Ucap Stevani yang sudah bosan.
"Oh sepertinya kamu bosan! Apa kita harus pergi bermain dulu" Ajak Ikhwanul dengan senyum tipisnya.
"Sebaiknya kamu pulangkan saja aku,aku cukup lelah hari ini karena kegiatan sekolah...Hoam" Ucap Stevani dengan sedikit membuka mulutnya.
"Oh baiklah,sepertinya kamu cukup lelah! Lain kali kita akan jalan-jalan kembali" Ucap Ikhwanul.
"Ya! Anda cukup pengertian tuan,baiklah makasih atas waktunya" Ucap Stevani dengan muka memelas.
"Baiklah,kau seperti boneka beruang yang lucu! Itu tak perlu kau mengatakan,aku senang hati membawamu kemana pun kamu mau" Ucapnya dengan mengelus rambut Stevani dengan lembut.
"Makasih tuan" Ucap Stevani dan Ikhwanul hanya tersenyum tipis.
Ikhwanul cuo,seorang pebisnis handal dalam bidang jual gadai rumah dimana umurnya masih 25 tahun. Usaha yang didirikan itu adalah usaha yang diteruskan oleh Ikhwanul pada umur 15 tahun setelah kehilangan sang ayah karena kecelakaan manipulatif seorang pamannya,hal itu ia ketahui setelah ia menggali lebih dalam penyebab kematian sang ayah dan ia mendapatkan bukti itu. Kini pamannya berada di penjara dengan hukuman penjara 30 tahun dan ia pun cukup tenang dengan hal itu karena tidak ada lagi yang akan mengganggu keluarganya termasuk mamanya.
Mamanya Stevani dengan Ikhwanul cuo hanyalah seorang teman yang sempat saling membantu disaat Maya sedang di copet, namanya adalah Dwi Ratna cuo.
__ADS_1
Saat itu Maya sedang dalam kesulitan karena ia sedang di copet ditepi jalan dan disaat itu juga Dwi mamanya Ikhwanul melihatnya dan langsung menolongnya,karena Dwi cukup pandai dalam bela diri sehingga tidak terjadi hal yang fatal.
Kembali ke cerita.
Sesampainya Stevani dirumahnya,ia langsung disambut dengan beribu pertanyaan dari sang mama. Cukup pusing untuk menghadapi karena sang mama terus saja ngotot dan menggodanya dengan berbagai perkataan.
"Bukan ma,mana ada begitu" Ucap kesal Stevani.
"Terus apa,kamu nggak mau ngomong! Kalo kamu ngomong kan mama nggak berpikir negatif" Ucap Maya dengan gaya kesalnya.
"Sudah Vani ngomongin kalo Vani cuman makan doang,jadi mama nggak usah berpikir aneh-aneh aja deh" Ucap Stevani yang sedikit geram.
"Huh... dasar tidak asik! masa kamu tak melakukan apa-apa gitu,seperti suap-suapan atau apalah" Ucap Maya dengan mata yang penuh imajinasi.
"Terserah mama! Apalagi kan kita baru kenal bagaimana bisa suap-suapan,mama aneh" Ucap Stevani yang langsung pergi masuk ke kamarnya.
Sedangkan Maya duduk dengan berbagai imajinasi anaknya dengan anak temannya.
Sedangkan didalam kamar, Stevani tampak kesal dan langsung melemparkan tubuhnya ke kasur. Perlahan ia menutup mata mengistirahatkan pikiran nya.
☘️☘️☘️☘️
Ditempat lain,dimana keluarga Hendrik mengalami yang namanya perseteruan. Hendrik dan Madani saling beradu mulut karena kedua nya memiliki sifat yang keras kepala dan tak mau kalah.
"Belanja! Belanja! Itu yang kau pikirkan,kau tau bagaimana keadaan perusahaan sekarang hah!" Bentak Hendrik dengan membanting barang belanjaan Stevani.
"Aku membelinya mahal, seharusnya kau tak merusaknya" Ucap Madani yang tak mau kalah.
"Bukan urusan ku,bisa kah kau hemat sedikit sekarang perusahaan sedang anjlok dan pengeluaran mu begitu besar setiap hari nya! Kau pikir uang itu bisa diambil dari pohon" Bentak Hendrik dengan mata yang memerah.
"Bukan urusan ku, seharusnya itu kewajiban mu menafkahi ku" Ucap Madani dengan tangan keduanya berada di pinggang.
"Terus apa gunanya kau sebagai istri yang tidak bisa menjaga keuangan,bahkan sebulan saja sudah habis lebih dari 100 juta" Ucap Hendrik memperhitungkan uang yang keluar hari ini saja.
__ADS_1
"Jangan terlalu perhitungan,100 Juta adalah uang kecil seharusnya uang mu masih banyak" Ketus Madani.
"Kau!"
Hendrik langsung mencengkram dengan kuat tangan Madani,ia sudah cukup kesal dimana Madani terus menjawab perkataannya.
Pintu depan terbuka,terlihat wajah datar Dian yang Baru masuk melihat pemandangan yang begitu ia benci. Dengan acuhnya ia berjalan melewati pertengkaran mereka yang berada diruang tamu.
"Lihat anak kurang ajar mu itu,bahkan ia tak mengucapkan salam sedikit pun" Ucap Hendrik.
"Dia memang seperti itu,jangan selalu menyalahkan ku" Bel Madani.
"Huh...Sekarang perusahaan sudah hampir bangkrut dan kau masih saja sempat berbelanja begitu banyaknya" Ucap Hendrik yang langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Bagaimana bisa,bukankah kemaren masih baik-baik saja" Ucap bingung Madani.
"Seorang peretas membocorkan sedikit data pada klien,sehingga klien memutuskan kerja sama pada perusahaan" Geram Hendrik.
"Bukankah pengamanan perusahaan sudah perbarui sebulan yang lalu, seharusnya baik-baik saja dong" Ucap Madani dengan menggigit kukunya.
"Aku tak tau,peretas itu cukup hebat sehingga orang IPTEK kita tak mampu menyeimbangkan" Ucapnya dengan wajah lelahnya menatap langit-langit.
Sedangkan dibalik dinding,terdapat Dian yang cukup penasaran terhadap peretas yang menerobos keamanan perusahaan,ia cukup penasaran sehingga ia pun berencana memutuskan akan memulai nanti malam.
****
Tepat tengah malam, Dian langsung mengambil komputernya. Ia mulai mengetik angka-angka dan beberapa kode yang tak dimengerti,Ia masuk kedalam sistem keamanan jaringan perusahaan papanya. Ia yakin bahwa sedikit banyaknya pasti ada sebuah jejak yang tertinggal.
Setelah ia memastikan,namun tidak ada sedikit pun jejak bahkan data yang dimiliki perusahaan cukup lengkap. Sepertinya peretas saat ini menggunakan metode menyalin data dan menghapus jejak.
Tiba-tiba layar laptopnya Dian menghitam dan beberapa semut-semut layar terlihat baru lah memperlihatkan seseorang disana yang menggunakan masker dan topi.
"Apa anda mencari saya, Heh! Sebaiknya jangan ikut campur dengan urusanku atau kau akan tau akibatnya" Ucap orang itu dan layar laptop Dian kembali lagi kepada layar laptop sebelum nya.
__ADS_1