Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
bab 23 : Gue tidak meminta pendapat (Coklat)


__ADS_3

...🍒Reading Books 🍒...


Stevani langsung berjalan masuk ke kelas nya dengan wajah yang tertekuk. Ia masuk tanpa mempedulikan tatapan bingung dari semua orang termasuk Syifa yang menatapnya juga.


Stevani memainkan game offline di handphone nya, ia ingin menghibur dirinya agar tidak mengingat kejadian tadi yang begitu memalukan.


sampai Beberapa anggota OSIS dan guru masuk kedalam kelasnya Stevani baru menutup ponselnya itu.


"Baiklah anak-anak,ada sebuah acara dan itu melibatkan semua kelas diharap beberapa diantara kalian tidak menolak saat di tunjuk" Ucap guru itu dan beberapa siswa langsung berisik.


"Harap tenang" Ucap Adit.


"Baiklah,ini adalah acara peringatan sekolah dan disini akan diundang beberapa kepala sekolah sekolah lain untuk datang dan diharapkan partisipasi dari semua murid" Ucap Dian dengan tegas.


Dian langsung membuka lembaran kertas yang ia gulung,ia melihat semua nama yang tertera.


"Dalam kontes drama diharapkan untuk Syifa, Stevani,Aulia, Putri untuk ikut serta" Ucap Dian menjelaskan.


"Aku nggak ikut" Tolak langsung Stevani.


"Tidak ada penolakan" Ucap Dian yang menolak permintaan Stevani.


"Aku punya hak dan aku tak meminta pendapat elo" Ucap Stevani dengan santai.


Semua murid sempat tegang namun tidak dengan Dian,ia menatap tajam kearah Stevani yang tampak terlihat santai.


"Stevani seharusnya elo nggak mempersulit kita" Ucap Salsa yang merupakan sebagai sekretaris OSIS.


"Maaf kak,aku tak mempersulit kalian! Jadi, kalian bisa memilih salah satu murid disini bukan,itu bukan hal yang sulit untuk kalian" Ucap Stevani yang tetap mempertahankan pendiriannya.


Dian pun perlahan mendekat kearah Stevani,semua orang menatap dian dan stevani termasuk Syifa.


"Elo tau hukuman untuk orang yang sudah diatur " Bisik Dian pada telinga Stevani. "Aku bisa melakukan hal itu disini" Ucap Dian dengan senyum liciknya.


"Elo mau ngancam aku,oh tidak semudah itu" Ucap Stevani yang langsung berdiri di kursinya dan melompat melewati siswa yang duduk sambil berputar.


Stevani langsung berlari namun pintu langsung ditahan oleh Adit dan hal itu ia tak mungkin bertengkar dengan Adit setelah itu kabur,Dian langsung mengejar Stevani. Mereka seakan kucing dan tikus yang tak akan pernah disatukan.


Stevani memutar kelas dengan lincah menghindari tangan Dian yang akan menangkapnya,sampai akhirnya ia menemukan cela yaitu jendela yang terbuka,ia pun langsung melompat dan melarikan diri namun Dian juga melakukan hal itu,ia langsung mengejar Stevani sampai Stevani tertangkap oleh diri nya.

__ADS_1


"Lepasin aku,jangan pernah memaksa aku" Teriak Stevani.


"Keahlian lumayan bagus,cukup menarik" Gumam Dian pada telinga Stevani.


"Lepaskan Diandra Gautama Hendrik" Ucap Stevani yang berusaha lepas dari cengkraman Dian.


Semua siswa yang disekolah itu langsung keluar melihat pertengkaran diantara keduanya,terlihat Dian yang sedikit kewalahan dalam menangani Stevani yang begitu bar-bar.


"Sini aku bantu Dian" Ucap Adit yang langsung memegang tangan Stevani.


Mereka berdua pun juga sedikit kewalahan dan akhirnya mereka dibantu juga oleh keamanan OSIS.


"Ada dendam apa sih kalian sampek megangin aku kayak gini" Ucap Stevani yang berusaha melepaskan pegangan semua orang.


"Katakan iya baru elo dilepaskan" Ucap Dian.


"Elo nggak ada hak untuk ngatur aku" Bentak Stevani.


"Ada dan elo harus dipaksakan" Ucap Dian dengan senyum tipisnya.


Sedangkan Dimas yang melihat langsung berlari menuju kearah Stevani yang ditahan. Di jarak yang yang tak begitu jauh,Dimas langsung mendorong segerombolan orang itu dan menarik Stevani bersamanya.


"Elo kok bantuin aku" Tanya Stevani sambil berlari.


"Aku nggak butuh kasihan dari elo,tapi kalo sekarang makasih!" Ucap Stevani yang menambah kekuatan kecepatannya.


Sedangkan yang berada di depan kelasnya,semua nya tampak syok atau bisa dibilang tak percaya seakan kejadian tadi adalah film yang dibuat secara nyata dimana satu pria yang berusaha agar wanitanya mengatakan iya malah dibawa oleh pria satu lagi.


Terlihat Dian yang sedikit geram dengan tingkah laku keduanya,ia pun membiarkan mereka berdua dan melanjutkan melakukan pemilihan peserta yang lain lagi.


Stevani tampak senang ia pergi menuju kantin membeli sesuatu lalu dibawa ke taman belakang sekolah bersama Dimas yang selalu mengikutinya.


"Elo suka ini" Tanya Dimas.


"Hmmm...lumayan" Jawab singkatnya.


"Boleh aku tanya sesuatu" Ucap Dimas yang sedikit ragu.


"Silakan asalkan jangan aneh" Ucap Stevani yang terlihat acuh

__ADS_1


"Apa alasan elo pindah kesini bukankah sekolah Alexander school lebih menarik dari pada disini " Tanya Dimas .


"Menghemat" Jawabnya singkat.


"Sudah lah lupakan,kalo ngomong sama elo nggak pernah bener" Kesal Dimas yang tidak diacuhkan oleh Stevani.


Stevani terus memakan cemilan yang ia bawa bahkan gorengan yang ia beli dia makan sendiri dengan menggunakan cabe rawit dan saos dan hanya meninggal satu gorengan yang berada ditangan Dimas.


"Nih" Ucap Dimas memberikan gorengan yang ada ditangannya.


"Elo nggak makan?" bingung Stevani.


"Nggak deh, sepertinya nona muda Ziegler lebih menyukai itu" Ucap Dimas dan seketika itu Stevani tersedak.


Huk...huk...


Dimas langsung membuka kan sebotol air lalu ia memberikan nya pada Stevani untuk segera diminum.


Stevani meminum dengan segera air yang diberikan Dimas, tenggorokan nya cukup sakit karena tersedak dengan gorengan yang dicampur cabe rawit.


"Sakit" Rengek Stevani.


"Apa masih sakit,coba aku lihat" Ucap Dimas yang sedikit khawatir.


"Nggak mau" Ucap Stevani yang masih merengek.


Dimas sedikit tertawa karena melihat Stevani seperti anak kecil bukan seperti dirinya yang sebelumnya yang memiliki mata tajam.


Stevani terus mengipasi mulutnya namun rasa pedas dan sakit masih belum hilang.


"Coba makan ini,mungkin bisa membantu" Ucap Dimas yang memberikan satu coklat.


Stevani langsung mengambil coklat itu,ia langsung mengoyak pasti coklat tanpa mempedulikan tatapan Dimas yang sedikit terkekeh dengan ulah Stevani.


Cukup lama Stevani menetralkan rasa pedas,selama itu lah Dimas menertawakan Stevani. Stevani langsung berdiri ia memegang kedua pinggang nya merasa sangat kesal


"Rasain ini " Ucap Stevani menendang kaki Dimas .


"Aw... sakit!" Ngeluh Dimas dan langsung berdiri dari duduknya menyetarakan tinggi badannya.

__ADS_1


"Bodo amat,sekarang aku mau kembali ah ambil tas" Acuh Stevani dan langsung pergi meninggalkan Dimas.


Dimas langsung mengejar Stevani yang sudah lebih dulu berjalan didepannya.


__ADS_2