
...🍒Reading books🍒...
Sesampainya dirumah, kini Stevani menatap kebelakang memastikan keadaan sang mama dan ternyata mamanya sudah bangun.
"Sudah sampek ma!" Ucap Stevani dan Maya hanya mengangguk saja.
Mereka berdua segera keluar dari mobil, dengan Stevani yang menghampiri sang mama untuk menjaga agar mamanya tidak terjatuh atau tidak seimbang.
"Mama baik-baik saja sayang, kamu jangan terlalu repot!" Ucap Maya.
"Stevani senang kok ma, yaudah hati-hati!" Ujar Stevani yang tetap memegangi sang mama.
Kedua perempuan itu pun perlahan berjalan menuju pintu, namun belum Stevani memencet bel, pintu sudah lebih dahulu terbuka oleh Elang.
"Udah pulang, kok bisa selarut ini?" Tanya Elang sambil mengambil alih Maya dari tangan Stevani.
"Tadi ada urusan di toko, habis itu nganterin bunda Eva lebih dulu!"Jawab Stevani.
"Yaudah, kamu istirahat dulu biar mama sama papa!" Ucap Elang.
Stevani hanya mengangguk, ia pun berjalan meninggalkan mama dan papanya menuju kamarnya.
Saat ini ia sangat lelah, begitu banyak masalah yang terjadi hari ini dan semuanya tak terselesaikan semua.
Berjalan dengan gontai memasuki kamarnya, menghempas tubuhnya di sofa menatap langit-langit kamarnya menelisik lurus sejauh mungkin.
"Ku pikir kehidupan mu mudah Stevani, ternyata sikap dingin mu memiliki maksud dan tujuan tertentu, kini aku paham dan mengerti dirimu!" Ucapnya yang terus menatap lurus kedepan.
"Aku terlalu bosan dengan hidupku, jagalah tubuhku dan ku harap kau dapat buat kedua orang tua ku bahagia!" Ucap arwah Stevani yang ntah sejak kapan merasuki pemikiran Stevani.
"Kenapa kau tidak kembali lagi ke tubuhmu bukankah kau ingin kembali?" Tanya Clara dengan pemikirannya.
"Aku tak bisa, karena tubuhku sudah tak menginginkan ku!" Ucap Stevani asli yang berasal dari hati.
Dirinya hanya mampu tersenyum kecut, perlahan matanya menutup menuju alam mimpi yang indah.
Keesokan harinya...
Hari ini Stevani sudah siap dengan pakaian rapinya, matanya hitam karena semalaman tidak bisa tidur. Dirinya yang tiba-tiba bermimpi buruk harus terbangun kembali dengan mata yang tak bisa tidur.
Dengan baju putih dan rok rompi yang memiliki lipatan-lipatan kecil dan sedikit belah pada bagian belakangnya membuat tubuh Stevani terlihat indah, terlebih kini ia memakai makeup yang tak terlalu tebal namun tidak juga terlalu tipis.
Perlahan ia turun kebawah menuruni anak tangga, ia berjalan menghampiri meja makan yang dimana sang mama masih sibuk membuat sarapan.
*Kreeett*
Kursi didorong kebelakang sehingga menghasilkan suara yang membuat Maya langsung menatap nya.
"Tumben sayang!" Maya tersenyum manis pada sang anak.
"Iya nih ma, soalnya kebangun!" Jawab Stevani tanpa mengatakan terbangun tengah malam tadi dan sampai sekarang tak tidur.
"Yaudah kamu mau sarapan apa sayang?" Tanya Maya yang memberhentikan aktivitas dan menuju kemeja makan.
" Udah mama lanjutin aja, biar Stevani bantu nyusun piring!" Ucap Stevani yang bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Perlahan Stevani mengambil piring lalu meletakkannya sesuai tempat duduk yang biasa digunakan, lalu ia menuangkan susu disetiap gelas..
"Makasih sayang!" Ucap Maya yang sudah siap memasak nasi goreng.
Perlahan Maya memasukkan nasi goreng itu kedalam mangkok kaca lalu meletakkan nya ditengah meja makan. Kini mereka berdua hanya tinggal menunggu Elang datang.
Tak lama kemudian Elang datang dengan dasi di tangannya. Ia memberikan nya pada pada istrinya yaitu Maya yang juga senang hati menerima dasi itu.
Maya membantu suaminya itu memakaikan dasinya, karena tinggi suaminya melebihi dirinya, Maya pun mengharuskan menggunakan bangku kecil agar tubuhnya setinggi suaminya.
"Wangi dan cantik, jangan pernah ngelirik pria lain!" Ucap posesif Elang saat Maya yang sudah setinggi nya.
"Sudah tua masih tetap cemburuan!" Gerutu Maya.
"Biarin, kamu pun makin tua makin cantik sehingga membuatku posesif!" Jawab Elang yang tak mau mengalah.
Pipi Maya merona, ia malu mendengar ucapan suaminya atau bisa dibilang salting mendengar ucapan yang seperti seorang anak muda saja.
"Sudahlah pah, lihatlah pipi mama sudah kayak tomat!" Goda Stevani saat melihat wajah Maya yang begitu merona.
"Udah siap!" Maya segera turun dari kursi kecil setelah memasangkan dasi suaminya, ia menutup malunya dengan pura-pura mengaduk-aduk nasi goreng yang ada dimeja seakan ingin menyiapkan untuk suaminya.
"Ya tentu masakan istriku!" Goda Elang yang berjalan duduk di kursi dekat istrinya.
Maya kembali merona, dengan cepat ia mengambil nasi goreng itu dan meletakkannya di piring suaminya itu.
"Makasih sayang!" Elang tersenyum lembut namun senyuman itu tersirat senyuman nakal dari Elang.
Maya hanya bersikap ketus, namun dalam hatinya ia merasa malu dan senang dengan sikap suaminya itu.
"Kamu mau sarapan apa sayang?" Tanya Maya yang kini akan menyiapkan makanan anaknya.
"Biar aku siapkan sendiri ma, aku makan serial ini aja!" Ucap Stevani mengambil serial gandum yang berada ditengah meja makan.
Stevani memasukkan sedikit demi sedikit kedalam mangkoknya lalu memasukkan susu hangatnya kedalam sebagai penambah tambahan serial gandum.
Perlahan-lahan memasukkan nya dalam mulut, sesuap demi sesuap dan akhirnya habis.
"Bagaimana perkembangan perusahaan mu sayang?" Tanya Elang yang mengelap mulutnya menggunakan tisu.
__ADS_1
"Belum ada perkembangannya pa, ini lagi membuat kerja sama dengan beberapa perusahaan yang setara dengan perusahaan!" Jawab Stevani yang ikut juga mengelap mulutnya dengan tisu.
"Bagaimana dengan perusahaan papa, bukankah kamu bisa lebih mudah naik dan berkembang perusahaannya!" Elang memberikan saran pada Stevani.
"Tapi bukankah papa hanya melakukan bidang property, tambang dan desain, kenapa ingin bekerja sama dengan perusahaan ku?" Tanya Stevani yang sedikit bingung.
"Bukankah kamu sedang membuat iklan, seharusnya membutuhkan baju yang cocok untuk iklanmu, jadi kamu bisa mengambil baju dari perusahaan papa." Ucap Elang menjelaskan.
Stevani hanya manggut-manggut, namun pada akhirnya ia kembali menggelengkan kepalanya.
"Jika aku bekerja sama dengan perusahaan papa, maka tidak ada tantangan lebih menyenangkan bukan untuk perkembangan perusahaan!" Antusias Stevani dengan semangat yang membara.
"Kamu memang anak papa, punya semangat bisnis!" Bangga Elang dengan memberikan jempolnya kearah Stevani.
"Ehemmm...dia anak aku juga" Kesal Maya yang berdehem keras.
"Udah ah, aku ini anak kalian berdua dan akan berusaha membuat kalian bangga dan bahagia..." Ucapnya dengan tersenyum sangat manis pada Maya dan Elang.
Mereka pun bangkit dari duduknya, kini akan bersiap-siap untuk melakukan kegiatan yang harus ia lakukan setiap hari mulai dari sekarang dan kemaren.
"Ma! Nanti mau Stevani jemput lagi gak?" Tanya Stevani sambil menyalami tangan Maya.
"Nggak perlu sayang, mama akan pulang dengan sopir nanti..." Jawab Maya dengan tersenyum.
"Baiklah!" Pasrah Stevani dengan membalas senyuman manis kearah Maya.
"Aku pergi dulu ya, jangan nakal!" Goda Elang dengan mata yang mengedip dan tangan yang berada dibibir seksinya.
Memang ya pesona pria bermartabat yang berumur 50 an begitu mempesona dan hampir membuat anak muda sempat terpesona.
"Iya ah, udah sana!" Kesal Maya yang malu.
Elang sedikit tertawa melihat ekspresi wajah Maya, namun ia tak melupakan untuk mengecup kening sang istri sebagai pertanda bahwa ia begitu cinta padanya.
"Ehehmmm...."
Deheman Stevani membuat suasana romantis itu berhenti, dengan terpaksa Elang pergi bersama dengan Stevani yang pergi menggunakan mobilnya sendiri.
Sedangkan ditempat, Maya sudah sangat merona. Ia sungguh cukup malu karena terus-terusan di goda oleh suaminya itu.
__ADS_1