
...🍒Reading Books 🍒...
Stevani terus menatap tajam, sampai akhirnya ia keluar dari mobil dan berdiri dihadapan Dian.
"Ada apa?" Tanya nya dengan melipat tangan didepan.
Dian tetap diam menatap wajah Stevani,ia melihat secara detail setiap inci wajah Stevani.
"Kalo gak ada urusan,nggak usah ganggu akudeh" Kesal Stevani lalu langsung membalik untuk masuk kembali kedalam mobil. Namun sebelum itu Dian langsung masuk kedalam mobil dengan gerakan cepat.
"Aaakhh...." Teriak Stevani kaget,namun pada akhirnya ia berhenti juga berteriak.
"Hey apa yang kamu lakukan sih,keluar kagak" Kesal Stevani yang terus mendorong Stevani.
"Tenang lah dulu" Ucap Dian dengan lembut.
Satu kata itu langsung membuat Stevani tenang dan diam, mereka saling bertatapan dengan tatapan yang penuh arti.
"Apa kamu demam..." Tanya Dian mengelus wajah Stevani.
"Kenapa ah,kamu kenapa sih" Kesal Stevani.
"Gak" Ucap Dian yang langsung keluar dari mobil dan pergi meninggalkan Stevani yang bengong.
Dari kejauhan, Bian melihat dengan jelas yang dilakukan abangnya yaitu Dian pada Stevani. Ia berpikir bahwa Dian memiliki hubungan spesial dengan wanita gila menurutnya.
"Awas kamu Stevani" Geram Bian dengan memukul dinding beberapa kali.
Ntah kebencian itu datang dari mana, namun saat melihat adeknya Syifa dan teman stevani hancur hanya karena nya aja, membuat Dian memiliki kebencian yang amat dalam dan ditambah ia tak suka dengan sikap sombong Stevani.
☘️☘️☘️
Stevani pun kembali masuk kerumah bunda Eva,ia merasa sudah cukup lama dirinya menunggu sang mama di dalam mobil.
Stevani berjalan melewati kumpulan mereka tanpa mempedulikan panggilan dan ucapan yang dilontarkan mereka.
Stevani pergi menuju dapur dan duduk dimeja dapur melihat kegiatan kedua wanita cantik sedang masak.
"Apa sudah siap masak nya ma?" Tanya Stevani.
"Oh ini, masih ada loh nak! tapi yang udah masak ada, kenapa?" Ucap Maya.
__ADS_1
"Oh nggak papa ma,yaudah Stevani izin keluar sebentar ya" Ucap Stevani sambil memutar-mutar kunci mobil ditangannya.
"Baiklah, Kamu pergi lah dulu nanti jemput mama lagi ya" Ucap Maya sambil tersenyum.
"Bun, kita izin pergi ya bun" Ucap beberapa teman Gabriel.
"Eh kalian juga mau pergi" Tanya bunda.
"Iya nih bun, soalnya sudah hampir sore" Ucap salah satu teman Gabriel yang bernama Ervan.
"Oh yaudah, hati-hati ya" Ucap bunda Eva.
"Siap bun" Ucap mereka lalu bersalaman dengan Eva.
"Bentar! Kamu pergi arah mana sayang Stevani" Tanya Eva.
"Stevani arah ke kanan bun" Jawabnya dengan sedikit kikuk.
"Yaudah,kalian juga ke kanan bukan! Bareng sama Stevani oke sekalian menjaganya" Ucap Eva.
"Siap bun" Ucap secara bersamaan mereka.
"Kamu nggak perlu sungkan sayang, mereka orang baik kok" Ucap bunda Eva.
Dengan terpaksa Stevani menerima tawaran bunda Eva, padahal ia sebenarnya ingin menemui temannya yang ada dimarkas.
Mereka semua pun bersalaman kepada Maya dan Eva,berpamitan izin pulang. Begitu pulang dengan Stevani yang dikawal oleh 5 orang pria yang tak terlalu dikenalnya namun salah satu disana cukup ia kenal.
"Biar akuaja yang kawal,kalian semua pergi lah" Ucap Dian dengan wajah datarnya pada temannya.
Stevani sibuk memakai salt beth sedangkan kelimanya masih sibuk kompromi.
"Emangnya kenapa? Bukannya kita bersama disuruh bunda evi" Ucap salah satu teman nya yang bernama Erwan.
"Akusearah" Jawabnya singkat.
Sedangkan ditempat itu terlihat Bian yang sudah sangat geram karena kakaknya sangat peduli dengan gadis yang tak ia suka.
"Oke deh" Jawab mereka.
Didalam mobil,Stevani sudah berusaha untuk cukup sabar menunggu jalannya mobil. Dari tadi belum ada pergerakan dari para cowok untuk menghidupkan motornya.
__ADS_1
Tin...tin...
Klason mobil Stevani berbunyi cukup keras, ia sudah tak sabar untuk segera pergi dari sini. Mereka langsung menghidupkan motornya masing-masing dan Stevani lebih dulu melajukan mobilnya.
Mereka bersama-sama mengendarai kendaraan masing-masing dengan Stevani yang dikawal oleh 5 motor dari belakang.
Namun setelah cukup jauh dari rumah Eva, mereka berpencar dan meninggalkan 2 motor yang sudah diyakini oleh Stevani, bahwa motor itu adalah kedua kakak tirinya di kehidupan lamanya.
"Sepertinya mereka akan terus kawal akudeh, apa akuharus kabur aja yak" Batin Stevani sambil melihat kaca mobilnya.
Stevani pun langsung menancap gas lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan kedua motor Dian dan Bian yang mengikutinya.
"Tu cewek mau nya apa sih" Batin Bian.
"Heh sepertinya cukup menyenangkan" Batin Dian.
Keduanya pun sama-sama menancap gas menyusul Stevani yang sudah cukup jauh. Mereka terus melajukan motornya sampai bertemu dengan mobil Stevani yang masih mengendarai dengan kecepatan tinggi.
Stevani mengendarai mobilnya dengan cepat sampai akhirnya ia perlahan menurunkan gas mobilnya dan melajukannya dengan santai. Saat ini ia sudah berhasil menjauh dari kedua motor itu.
Namun sayang pemikiran nya musnah, kedua motor itu kembali berada dibelakangnya dan bahkan saat ini langsung menghalangi jalannya.
Ciiittt.... Tiiiin
Stevani langsung menginjak rem dan menekan klason mobil dengan keras, keningnya cukup memar karena terantuk oleh stir mobil.
"Mau kalian apa sih...Brak" Ucap Stevani yang langsung membanting pintu mobilnya.
"Kamu yang maunya apa, ngebut-ngebutan dijalan! kamu pikir kamu hebat hah" Bentak Bian pada Stevani.
"Kalo iya kenapa, kalian bukan siapa-siapa gue! jadi jangan pernah ganggu gue" Lawan Stevani saat ini.
Ia bukan lagi Clara, ia adalah Stevani. Gadis yang memiliki sifat dingin,datar dan bahkan kejam. Ia tidak memiliki hati sedikit pun dan kasih sayang nya tidak ada sedikitpun meski saat ini ia menyayangi kedua orang tua Stevani.
Dian hanya diam,ia menatap dengan nanar mata dingin. Ia seakan sudah memiliki jawaban yang mungkin selama ini tidak bisa ia ungkapkan.
Dian langsung berjalan menuju motornya dan kembali melajukan motornya meninggalkan mereka berdua tanpa sedikitpun lirikan.
"Kamu lihat! Begitu menyenangkan bukan" Ucap Bian dengan muka yang memerah.
"Heh...Orang seperti kamu jangan merasa terlalu di dustakan, ingat seseorang yang kalian sekeluarga buat ia sampai mati lebih kalian dustakan" Ucap Stevani yang langsung pergi meninggalkan Bian dengan muka yang menahan geram.
__ADS_1