
...πReading Books π...
Sesampainya dirumah, ia langsung memarkirkan motornya didepan rumah. Ia masuk kedalam rumah yang cukup sepi tetapi ia yakin bahwa sang mama sekarang berada di dapur.
"Assalamualaikum ma" Ucap Stevani menghampiri Maya yang sedang sibuk dengan gosipnya.
"Wa'alaikumsalam, anak nakal dari mana saja kamu satu hari kemaren hah!" Kesal Maya yang melihat anaknya baru pulang ntah kemana
"Aku hanya nginap sama orang ma, seharusnya mama gak begitu keberatan bukan" Ucap memelas Stevani.
"Oh tidak keberatan!!" Gram Maya dan langsung menghampiri Stevani lalu menjewer telinga stevani sebagai pembalasan kekesalannya.
"Aw....aw... sakit ma!" Ringis Stevani.
"Huh...males mama ngomong sama kamu" Kesalnya dan langsung melepaskan jewerannya itu.
"Ma ini aku bawa martabak, coba rasakan!" Bujuk Stevani dengan memberikan plastik berisi martabak tersebut.
"Gini nih! kalo ngebujuk!" Ngedumel Maya, namun Maya tetap saja membuka kotak martabak itu dan memakannya dengan cukup lahap.
Stevani hanya ikut duduk dimeja dapur, ia mengambil satu kue bolu kecil yang tersusun. Ia memakan 5 buah karena saat ini cukup lapar dan jika ia meminta nasi saat ini, tak memungkinkan bahkan ia bisa malu karena itu.
"Sejak kapan kamu suka kue ini, sampek habis lima lagi?" Tanya Maya bingung menatap anaknya.
"Sepertinya kue ini cukup enak" Jawab Stevani dan ia pun berlalu hendak pergi.
"Mau kemana?" Tanya Maya.
"Kamar! selesaikan tugas" Jawabnya dan berlalu pergi, sedangkan Maya meneruskan menikmati martabak yang diberikan Stevani padanya tadi.
__ADS_1
πππ
Ditempat lain, dimana disebuah rumah sakit. Kini seorang pria paruh baya sedang koma dengan seluruh alat kesehatan yang terpasang ditubuhnya.
Pria tersebut terbaring karena mengalami sakit jantung akibat perusahaan yang mengalami kerugian dan bahkan bisa membuat perusahaan bangkrut.
"Dasar pria tua, bahkan mengurus hal seperti itu saja tak bisa" Ngedumel Madani saat membersihkan tubuh dan wajah suaminya yang sedang berbaring.
"Ah! sudah tak tahan lagi! aku harus mencari seorang pria yang mau memberikan ku kekayaan" Ucapnya yang langsung melempar kain pengelap tubuh Hendrik kearah Hendrik dan ia langsung pergi meninggalkan Hendrik yang terbaring.
Kini keluarga Hendrik sudah hancur, Syifa yang kini sudah masuk ke dunia malam, sedangkan Bian yang sering cabut dan bolos bahkan sering tauran, dan hanya tersisa Dian. namun tetap saja keluarga mereka sudah hancur.
Pemirsa dikabarkan seorang pengusaha kaya yang bernama Hendrik Hermawan Kartajaya berada diambang kehancuran, mereka sudah berusaha untuk mencari pinjaman tetapi tidak ada seorangpun yang mau meminjamkan karena hutang perusahan HK property sangatlah banyak dan mereka semua tak ingin mengambil resiko
Siaran tv yang terpampang didepan wajah Stevani dan ia hanya menatap datar, ia cukup terkejut karena bukankah perusahaan ayahnya cukup lah hebat, tetapi sekarang mengapa mengalami kehancuran.
Stevani pun mematikan layar tv, ia turun kebawah untuk makan. Saat ini cacing diperutnya tidak bisa berkontribusi dengannya.
Stevani berjalan kearah dapur, ia melihat dapur yang sudah sunyi. Ia berencana untuk memasak mie karena makanan itu sudah sangat ia rindui.
"Sepertinya aku baru sadar, disini memiliki semua varian yang berbeda! Sepertinya cocok nih aku buat buka warung" Gumamnya melihat-lihat mie yang tersusun.
Meski Stevani sudah setahun tinggal disini, tetapi ia tetap saja belum pernah mengetahui isi keseluruhan dari dapur kecuali kulkas yang berisi cukup banyak makanan.
"Rasa kari ayam enak deh" Gumamnya membaca bungkus mie.
"Eh ini kayak nya enak deh, dower-dower gimana gitu" Ucapnya dan langsung mengambil mie yang memiliki rasa pedas yang lebih dari yang lain.
Stevani segera memasak mie tersebut, ia menggunakan teflon untuk memasak air hangat dan juga mie. Jangan diragukan dalam memasak mie, Stevani tetap seorang gadis yang merasuki tubuh seseorang. Jadi ia yang seorang gadis mandiri dulu tidak akan pernah hilang.
__ADS_1
"Ah wangi, emang aku kalo masak gini!" Bangganya.
Stevani segera menyediakan mangkok, sendok, garpu dan sebotol air dingin agar kalo dia kepedasan ia bisa langsung meminum dengan puas.
Stevani langsung menyuap mie tersebut meski dalam keadaan yang masih panas. Lapar diperutnya sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia memakan cukup lahap dan sesekali menghembuskan nafas agar menghilangkan panas.
Satu suap satu gelas air, ia seakan tak tahan dengan pedasnya namun karena lapar ia tetap memakannya.
"Haiss, kalo mama gak kesini mungkin kamu sudah menghabiskan mie yang pedas ini!" Ucap Maya yang langsung menarik mangkok mie stevani.
"Enak ma!" Ucap Stevani meski sedang berusaha meredakan rasa pedas dengan air.
"Sekarang kamu mama larang makan ginian, ini gak baik untuk perutmu sayang" Ucap Maya dan langsung membawa mangkok tersebut ketempat wastafel pencuci piring.
"Oh baiklah ma" Patuh Stevani dengan tatapan yang tak rela dengan mie yang terbuang.
"Sekarang kamu mau apa? sini mama buatin" Ucap Maya dengan bergegas pakai celemek nya.
"Aku sudah kenyang ma, sekarang mama gak usah repot-repot" Ucap Stevani dengan merangkul bahu sang mama.
"Baiklah, tapi kamu mau gak anterin mama ke tempat bunda eva" Ucap Maya dengan mata eyesnya.
"Oke! tapi Stevani hanya nganterin ya" Ucap Stevani.
"Tenang" Ucap Maya.
Stevani pun segera pergi mengambil kunci mobilnya dan bersiap-siap dengan baju berpergian nya agar sopan untuk bertamu.
Setelah mengambil semua persiapan nya, ia pun segera pergi bersama sang mama dengan mobilnya.
__ADS_1