
...🍒 Reading books 🍒...
Disebuah bar, dimana kini seorang wanita dengan baju **** nya sedang duduk di sofa dengan wajah lelahnya. Dirinya yang baru umur 19 tahun harus melayani orang lebih dari 10 orang perhari.
Tok...tok...
Pintu diketuk dengan sangat keras oleh seseorang, sehingga membuat gadis itu bangkit dari dari duduknya.
"Syifa sekarang kamu pergilah ke restoran bersama tamu kita untuk satu hari ini, ingat! beri dia layanan terbaik diakhir nanti!" Ujar madam Choo yang merupakan manager bar.
"Aku sangat lelah hari ini, bisakah satu hari ini istirahat!" Ngeluh Syifa dengan wajah pucatnya.
"Nggak ada, kau harus melakukannya bukankah gaji mu lebih besar dari melayani tamu dan bahkan kau mendapatkan barang-barang branded dari mereka!" Ujar madam Choo.
Memang benar yang diucapkan oleh wanita itu, tapi saat ini ia begitu lelah apalagi ia mendapat kabar bahwa sang mama sudah hilang ntah kemana.
"Tapi kan..." Syifa ingin memberi protes nya, namun madam Choo dengan cepat langsung memotong nya.
"Tidak ada komplen, sekarang kamu bersiaplah tamu sebentar lagi akan menjemput mu" Madam itu langsung pergi meninggalkan Syifa dengan menutup pintu kamar itu dengan kasar.
Syifa terisak sedih, ia menyesal masuk kedalam dunia malam hanya karena bosan dengan hidupnya yang tak menerima ia sudah jatuh miskin dan ia tidak bisa terlepas dari kemewahan itu, sehingga membuat dirinya menjadi serakah dan masuk dunia malam.
"Sepertinya nggak ada yang bisa aku sesali, sekarang harus bersiap!" Ucap Syifa dengan isakannya.
Ia berjalan gontai dengan kaki yang sedikit tertatih, ia cukup sengsara dengan nafsu pelanggan yang begitu besar sehingga ia cukup sengsara menahan sakit dibagian intim nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Stevani sudah sampai di perusahaan ZX Deswart yaitu perusahaan milik Dewrid Anwar.
Stevani dan Resa langsung masuk dengan langkah lebar mereka. Di lobi perusahaan, Stevani duduk disofa tunggu sedangkan Resa menanyakan keberadaan CEO mereka.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih!" Resa pun langsung menghampiri Stevani yang sibuk dengan ponselnya.
"Nona, kita akan menuju ruangan pak Dewrid sekarang!" Ujar Resa dengan sedikit menunduk.
Seseorang datang menghampiri mereka berdua dan itu asisten pribadi Dewrid yaitu Juan. Pria yang tampan nan berwibawa itu selalu bersikap dingin pada mereka.
"Ikut saya nona Stevani!" Ujar Juan yang mempersilakan Stevani untuk berjalan lebih dulu.
Juan mengarahkan Stevani dan Resa menuju lift umum, karena sekarang jam kerja membuat lift kosong dan tidak digunakan oleh para karyawan.
Lift naik sampai di lantai paling atas yang diyakini oleh Stevani bahwa ruangan itu adalah tempat ruang CEO berada.
Stevani dan Resa hanya mengikuti semua sesuai arahan Juan, sehingga mereka sampai disebuah pintu hitam.
Tok...tok
Pintu diketuk oleh Juan beberapa kali, sampai akhirnya mendengar instruksi dari dalam yang mengizinkan mereka masuk.
"Masuk!" Teriak dari dalam.
Stevani sempat kagum dengan pilihan warna dari ruangan Dewrid namun ia kembali menyandarkan dirinya pada tujuan awalnya.
"Apa saya mengganggu waktu anda tuan!" Ujar Stevani yang menyapa Dewrid saat itu.
Pria itu hanya tersenyum, ia menatap Stevani dengan lekat sampai gadis itu merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.
"Kau tidak mengganggu waktu ku nona, kau tau bahwa kau yang ku tunggu dari tadi!" Ujar Dewrid menghampiri Stevani.
Mereka berdua saling berjabat tangan dengan senyum manis yang tertera diwajah mereka masing-masing.
"Silakan duduk!" Dew mempersilahkan duduk.
__ADS_1
Stevani dan Resa pun duduk di sofa yang sudah disediakan. Stevani yang memang cepat-cepat ingin segera sampai di perusahaan nya, langsung dengan segera ia membahas semua tujuannya.
"Bagaimana kita langsung ke inti nya saja tuan!" Ujar Stevani.
"Mengapa anda begitu terburu-buru bukankah kamu baru duduk?" Tanya Dew dengan kening yang berkerut.
"Bukankah, lebih cepat lebih baik!" Ujar Stevani dengan senyum profesionalnya.
"Anda betul nona, baiklah!" Dew tertawa mendengar ucapan gadis kecil itu.
Dew pun langsung mengambil kontrak kerja sama yang ia bawa waktu itu, kini dengan bulpoin sebuah coretan pun tertera dan kerja sama pun akhirnya terjadi.
"Apa anda tidak menunggu penjelasan saya tuan!" Ucap Stevani saat melihat berkas kerja sama itu sudah tertera tanda tangan Dew disana.
"Tak perlu, aku sudah mendengar penjelasan mu dan juga mengerti dengan berkas ini, baiklah sekarang kita sudah kerja sama nona!" Dew bangkit begitu juga dengan Stevani, sekali lagi mereka berjabat tangan.
"Sekarang sudah jam makan siang, apakah nona mau makan dengan ku di cafe dekat sini?" Ajak Dew dengan senyumnya.
"Maaf jika membuat hati anda sedikit tidak nyaman tapi aku ada urusan nanti setelah ini!" Stevani merasa tak enak hati karena menolak permintaan Dew saat ini.
"oh no, that's fine with me!" Ujar Dew yang tetap memperlihatkan senyumannya.
Namun meski Dew berkata seperti itu, ia tetap tak enak hati.
"Apa anda tidak masalah tuan, aku begitu tak enak hati menolak anda!" Ujar Stevani dengan wajah yang sedikit sedih.
"Tidak apa, aku mengerti kau nona!" Ujar Dew.
"Makasih pengertian nya tuan!" Stevani pun sekali lagi menjabat tangan Dew, lalu ia sedikit membungkuk dan pergi meninggalkan ruangan itu bersama dengan resa dan kontrak kerja sama.
"Sampai ketemu lagi nona!" Ujar Dew dan Stevani hanya dapat tersenyum dan sedikit membungkuk lagi.
__ADS_1
Dari belakang, Resa menatap punggung kecil Stevani. Diusia muda nya sudah begitu mudah bergaul dan berkerja keras tanpa mengandalkan uang orang tua, apakah ini yang disebut anak jenius.
Disepanjang perjalan menuju parkiran perusahaan, Stevani dan Resa tidak ada sedikit pun melakukan percakapan, bahkan saat ini pun mereka di dalam mobil hanya diam saja karena diantara mereka tidak ada yang memulai pembicaraan.