Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 29: Kotak bekal (Emosi)


__ADS_3

...🍒Reading Books 🍒...


Maya mengambilkan susu hangat yang sudah ia buat kepada Stevani,ia terus menatap wajah anaknya itu. Ia cukup kasihan dengan nasib anaknya,selalu sial dan mendapatkan luka diwajahnya.


"Mama jangan menatapku seperti itu" Ucap malu Stevani sambil meneguk susu yang diberikan mamanya.


"Mama hanya kasihan lihat wajah kamu itu,kok bisa ya luka banyak banget" Keluh Maya.


"Apanya! kan cuman dikit doang ma" Bantah Stevani.


"Tapi tetep aja,lihat wajah kamu yang cantik harus ditutupin sama masker! Kan kasihan kamunya" Lesu Maya.


"Yaudah deh,kalo mama terus sedih terus Vani nggak sekolah deh" Ucap Stevani dengan sedikit merajuk.


"Udah-udah sana sekolah lagi, mama cuman bercanda doang kok!" Ucap Maya dengan tersenyum manis.


"Yaudah deh,Vani pergi sekolah dulu" Ucap Stevani yang langsung menyalami tangan sang mama dan langsung pergi dengan membawa kunci motor.


"Hati-hati sayang!" Teriak Maya.


"Iya!!"


Stevani langsung membawa motornya keluar dari halaman rumahnya dan langsung pergi menuju sekolah.


Sesampainya ia disekolah,sekolah sudah cukup ramai dengan semua siswa. Ia memarkirkan motornya diparkiran dan langsung masuk ke sekolah.


Ia berjalan dengan santai sambil mendengarkan musik dan memainkannya. Banyak siswa yang melihat Stevani aneh,karena Stevani memakai masker dan juga topi.


Stevani menatap sekelilingnya,terlihat semua tatapan aneh yang telayang langsung menunduk dan berpura-pura sibuk.


"Aneh" Gumam Stevani.


Stevani melanjutkan perjalanan menuju kelasnya,ia tak menghiraukan tatapan aneh dari semua orang. Ia mendudukkan pinggulnya di kursi dan terus memainkan hp nya.


Tak bedah sama yang diluar,bahkan dikelas pun Stevani mendapatkan tatapan aneh itu oleh semua siswa yang ada dikelasnya.


Brak...kresek


Suara yang membuat Stevani sangat terganggu, ia menatap orang yang membuat ulah tersebut. Dimas tampak tersenyum lebar dengan gigi yang ber-deretan rapi.


"Ngapain" Ucap Stevani dengan datar.


"Lihat sini dong kalo ngomong" Rengek Dimas.

__ADS_1


"Apaan sih,pergi sana" Usir Stevani.


"Yaelah bentar aja! Btw udah sarapan belum?" Tanya Dimas dengan tangan yang tetap berada di belakang.


"Udah" Singkatnya.


"Yaa...terus nih bekal siapa dong yang makan" Memelas Dimas dengan menatap sedih kotak makanan yang ia bawa.


"Kasih sama orang" Acuh Stevani.


"Aku kan mau ngasihnya sama Kamu,masa aku kasih sama orang" Rengek Dimas dengan muka yang memohon.


"Aku terima! tapi Kamu janji akan pergi" Ucap Stevani dengan menunjuk Dimas.


"Oke" jawabnya dengan senang.


Dimas langsung memberikan kotak makanan beserta sebotol air minuman dan ia pun langsung pergi lewat jendela. Namun tanpa sadar dari seberang sana terlihat wajah Dian yang seperti menahan sesuatu agar tidak keluar.


Apa Dian sudah jatuh cinta? bagaimana jika kedua pria itu memperebutkan Stevani? Siapa yang akan dipilih Stevani? Yok simak terus dan jangan lupa tinggalkan jejak ya gaes.


☘️☘️☘️☘️


Di jam istirahat,Stevani langsung membuka bekal yang diberikan Dimas padanya. Terlihat sebuah roti yang berbentuk love dengan berbagai hiasan yang diberikan.


Matanya berkeliaran dan akhirnya ia pun berpikiran untuk memberikan bekal ini kepada orang lain.


"Eh sini" Ucap Stevani dengan menunjuk seseorang.


Siswa itu langsung terdiam dan menunduk,ia takut karena saat ini ia cuma sendirian bersama dengan Stevani yang terkenal kejam.


"Kamu dengerkan apa yang aku bilang" Teriak Stevani.


siswa itu langsung mendekat sambil tertunduk,tak berani menatap langsung wajah Stevani dan ia lebih memilih untuk menunduk.


"Habiskan ini! maka kamu akan lepas" Ucap Stevani dengan memberikan bekal yang ada ditangannya.


"Ta-tapi ini!" Ragunya.


"Tenang! Ini tak ada racun kok,jadi kamu nggak usah takut" Ucap Stevani dengan kembali menyodorkan bekal yang berada ditangannya.


siswa itu langsung mengambil dengan ragu roti itu dan perlahan memasukkan nya kedalam mulutnya dengan tangan yang gemetaran.


Lama kelamaan roti itu pun habis dan siswa itu kembali menundukkan kepalanya dan menanti kapan dia akan mati.

__ADS_1


"Sudah habiskan,ini minumnya" Ucap Stevani dengan memberikan minuman yang diberikan Dimas.


Siswa itu hanya menurut,ia meminum minuman itu sampai tandas dan akhirnya ia pun kekenyangan.


"Yasudah,soal ini aku cuman males aja makan! Jadi aku kasih kamu untuk makan doang" Ucap Stevani yang membereskan tempat kotak habis makan.


"Oh... Ma-makasih" Gugupnya.


Siswa itu langsung pergi meninggalkan kelas,ia tak ingin berurusan dengan Stevani meski sekecil apapun.


Stevani pun keluar dari kelas,ia pun langsung pergi ke kantin, sebenarnya ia tak ingin waktu makan semua orang,jadi ia memutuskan untuk pergi setelah semua orang selesai makan.


"Buk! Masih ada sisa makanannya nggak buk" Tanya Stevani.


"Hmm...udah habis nak, soalnya tadi terakhir diambil sama anak ganteng" Jawab tukang kantin itu.


"Oh yaudah,makasih buk" Lesu Stevani.


Stevani pun langsung berdiri dari duduknya dengan muka yang masam. Namun saat itu, tiba-tiba satu mangkok bakso berada didepannya.


"Makanlah" Ucap Dian dengan wajah yang datar.


"Tak perlu" Tolak Stevani dengan dingin,ia pun langsung beranjak dari tempatnya,namun tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh Dian.


"Aku hanya sudah kenyang aja,jadi aku kasih sama kamu" Ucap Dian dengan menarik Stevani untuk kembali duduk.


"Maaf aku tak biasa makan sisa orang" Ucap Stevani yang langsung menghempas tangan nya dari Dian.


Dian pun mengejar Stevani,ia langsung menghalangi jalan Stevani dengan wajah yang sangat datar.


"Minggir,aku nggak pengen berurusan dengan kamu" Ketus Stevani yang berpindah arah jalan ,namun Dian tetap terus menghalanginya.


"Apa salah aku, kamu terima makanan dari Dimas terus aku kasih makanan kamu kok secara tak langsung menghindar dari aku" Ucap Dian yang sudah sangat kesal bercampur dengan cemburu.


"Lebih banyak kamu tau maka itu tak baik,simpan saja keluhan kamu dan jauhin aku" Tunjuk Stevani pada dada Dian dan langsung pergi meninggalkan Dian yang tampak merasa sangat kesal dan frustasi.


Dian menendang semua benda termasuk dinding yang berada disana,ia melampiaskan semua emosi dan kekesalannya.


Stevani berjalan kearah kelasnya,saat ini perutnya masih sangat lapar. Jika ia tak bertemu dengan Dian, setidaknya ia bisa makan roti dikantin dan menikmati makanan yang ia beli. Namun kehadiran Dian membuat ia cukup emosi dan laparnya membuatnya tambah emosi.


Stevani masuk ke kelasnya yang sudah memulai pelajaran. Ia ijin masuk dan akhirnya duduk dibangku nya. Saat ia termenung dan memeriksa mejanya, ternyata ia menemukan secarik kertas dan dua bungkus coklat.


Ia perlahan membuka coklat itu dan sedikit demi sedikit memasuki coklat dalam mulutnya sambil melihat guru menerangkan.

__ADS_1


Guru cukup lama menjelaskan sehingga Stevani dapat dengan leluasa memakan coklatnya sambil melihat guru menjelaskan. Ia membuat semua tugas yang disuruh guru,Ia membuat sesuai yang ia lihat dan pelajari tadi.


__ADS_2