Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 41: Tak bisa tidur.


__ADS_3

...🍒Reading Books 🍒...


Ketiganya langsung menghampiri Stevani dengan hati yang was-was. Mereka merasa bahwa sahabatnya cukup mengusik orang penting, namun mereka tetap bangga pada Stevani karena pandai berkomentar tentang orang yang baru ia temui.


"Gila kamu! Kalo seandainya tu orang mempermasalahkan ini, mampus kau!" Ujar Gaby.


"Tapi kamu hebat kok Stev, aku gak nyangka kamu bisa ngomong sepanjang itu demi tu anak kecil" Kagum Zixi menatap kearah Stevani.


"Apa kalian mau makan, cepatlah aku masih ada urusan" Ujar Stevani mengalihkan pembicaraan.


"Yok, aku juga laper" Semangat Zixi.


"Perut saja yang dipikirin!" Sinis Gaby.


Mereka pun langsung pergi menuju ke cafe yang ada disana.




Sesampainya di cafe, mereka memilih duduk didekat jendela dengan empat bangku yang saling berhadapan.



"Mau pesan apa kakak-kakak yang ada disini" Sapa seorang pelayan.



Pelayan itu pun memberikan daftar makanan dan mereka pun memilih sendiri makanan masing-masing.



Cukup lama mereka menunggu, saat menunggu mereka diselingi dengan candaan meski Stevani sendiri acuh tak acuh saja.



"Ini makanannya kakak-kakak, semoga suka" Ucap pelayan tersebut.



"Makasih kak" Ucap Zixi dengan sopan.



Makanan itu diambil masing-masing sesuai dengan pesanan nya dan mereka semua pun menikmati makanan mereka.



Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk kembali ke markas mereka untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang seharian berkeliling mall yang luas.


__ADS_1


☘️☘️



Sesampainya disana, Stevani menuju kamar pribadinya yang telah lama tak digunakan dan yang lainnya juga begitu. Mereka tidur ditempat tidur mereka masing-masing.



"Besok kita akan melakukan latihan kebugaran tubuh dan ingat tidur lebih awal" Ucap Stevani dan langsung pergi tanpa ingin mendengar terlebih dahulu mereka semua.



"Haiss... kebiasaan" Keluh mereka dengan berjalan kekamar mereka masing-masing.



Sedangkan dikamar, Stevani langsung melihat pesan yang ia kirim pada mamanya. Ia cukup merasa bersalah karena mematikan handphone saat sang mama belum menyelesaikan kalimatnya.



Namun saat ini sang mama belum menjawabnya, padahal ia sudah mengirimkan jam 5 sore tadi.



"Sepertinya mama beneran ngambek" Gumamnya, lalu melempar ponselnya ke sembarang arah dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.




Stevani pun mengambil ponselnya dan ingin melemparkannya agar tak berbunyi lagi, tapi ia masih sayang karena ini satu-satunya barang berguna yang ditinggalkan Stevani asli padanya.



"Ah, dasar pengganggu!" Kesalnya dan langsung menarik ikon hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.



"Hallo kali tak ada urusan jangan nelpon aku dan maaf aku masih mau istirahat" Ucap Stevani yang langsung mematikan ponselnya, namun orang yang menelponnya langsung syok.



Ponsel Stevani kembali berbunyi lagi dan hal ini malah membuat Stevani semakin geram dan ia langsung berjalan kekamar mandi dan meletakkan ponselnya disana.



Akhirnya ketenangannya tak terusik, ia kembali membaringkan tubuhnya namun matanya kini tak mau tidur lagi dan ia pun kembali mengambil ponselnya.



"Sial! sudah hampir 50x ini orang nelpon aku, siapa sih" Kesal Stevani menatap layar ponselnya.

__ADS_1



Stevani terus menatap dan ponselnya kembali berbunyi, ia memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.



"Hallo" Ketus Stevani.



"Hmmm... itu XVQ itu nyonya koma" Ucap seseorang yang merupakan orang suruhan Stevani.



"Lakukan lah yang terbaik dan masukkan dia kerumah sakit jiwa agar dia tau yang mana pembalasan yang sebenarnya...heh" Ucap Stevani dengan senyum smriknya.



"Baiklah XVQ kita akan laksanakan" Ucap nya dan sambungan telepon tersebut pun terputus.



Stevani kembali melempar ponselnya, ia langsung membaringkan tubuhnya dikasur agar segera tidur. namun tetap saja mata ini tetap tidak bisa kompak dengan yang ia inginkan.



Stevani pun memutuskan untuk menuju balkon kamarnya, meski di balkon kamarnya hanyalah sebuah hutan tapi ia menyukai hal itu.



"Sepertinya mau hujan" Gumamnya menatap langit yang hitam tanpa ada hiasan sedikitpun.



Tangan Stevani seakan ingin menggapai langit yang gelap itu, ia sedikit merindukan keluarganya dulu, namun ia berpikir itu hanyalah hal yang percuma karena keluarga tak akan pernah menginginkannya.



"Sepertinya Syifa tak mencari masalah dengan aku lagi" Ujar Stevani menatap ponselnya.



Stevani membaca-baca berita yang beredar di situs berita, dan disana ia melihat cukup banyak berita tentang keluarga nya dan ada juga keluarga Erlangga, serta beberapa berita artis papan atas.



Setelah men-scroll sampai bawah, ia pun memutuskan untuk kembali ke kasurnya karena udara sudah semakin dingin.



Stevani merebahkan tubuhnya dan mengistirahatkan seluruh tubuhnya agar keesokan harinya ia bisa segar dan fresh

__ADS_1


__ADS_2