Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 39:Gue bukan barang yang diperebutkan


__ADS_3

...🍒Reading Books 🍒...


Stevani langsung melepas rangkulan tangan nya dari Husna, Stevani menjaga jarak dari Husna.


"Kamu kenapa lepasin" Ucap Husna dan mendekati diri ke Stevani.


"Gak" Ucap Stevani dan kembali menjauhkan diri.


"Kamu berubah deh Stev" Ucap Husna menatap sedu stevani.


"Gak! biasa aja" Balasnya datar.


"Baiklah" Ucap Husna sedu dan menatap ke bawah seakan ia tidak ingin menatap Stevani lagi.


Husna merasakan yang dimana tak diharapkan oleh sahabatnya lagi. Padahal ia sangat rindu pada sahabat nya satu ini, dari sikapnya yang dominan tetapi menyimpan perhatian yang cukup tinggi.


"Ini dan jangan bersedih lah lagi" Ucap Stevani memberikan satu permen coklat ke Husna.


"Makasih dan ini aku anggap kamu menganggap aku kembali menjadi teman" Ucap Husna tersenyum bahagia.


"Serah" Acuh Stevani lalu berjalan lebih cepat meninggalkan Husna.


Husna hanya menatap kepergian Stevani, hatinya cukup merasa sedih namun ia juga merasa bahagia karena bisa bertemu Stevani meski beberapa kali ia merasakan penolakan Stevani.


Ia memutuskan untuk kembali ke rumah dan lebih baik istirahat dan akan berencana memutuskan mengurus surat pindah sekolah.




Stevani pergi menuju parkiran ia memutuskan untuk pergi ke tempat teman-temannya. Semenjak ia menjadi Stevani tempramen nya hampir dikendalikan oleh sikap Stevani yang asli.



Sekarang ini ia cukup bosan dan akan membeli beberapa makanan untuk mereka berkumpul nanti.



Stevani melajukan motornya keluar dari per-karangan sekolah, namun saat ia akan keluar dari pagar sekolah, dirinya malah dihadang oleh Dimas.



"*Sial*" Umpat Stevani dalam hati.



"Pengen mati pergi Sono dijalan besar jangan disini" Kesal Stevani menatap datar Dimas.



Namun Dimas tetap stay ditempat, ia menghampiri Stevani dan langsung naik begitu saja di jok depan sehingga Stevani


mundur kebelakang.



"Mau kemana sini aku antar" Ucap Dimas dengan gaya polosnya.



"Kamu bisa gak sehari saja jangan ganggu aku, aku masih ada urusan" Kesal Stevani mengepalkan tangannya.



"Gak bisa dan kamu harus terbiasa, sehingga lama-kelamaan kamu nerima aku jadi calon suami kamu" Ucap Dimas sambil tersenyum pada Stevani.



Stevani pun langsung turun dari motornya sambil berdecak pinggang menatap marah pada Dimas, namun tanpa disadari bahwa hal itu mampu membuat Dimas sedikit salah tingkah.



"Turun gak kamu atau gak kamu habis sama aku" Ancam Stevani namun Dimas tetap diam dengan tatapan penuh sayang.



"Baiklah lakukanlah aku tunggu aja gimana kamu ngelakuinnya" Ucap Dimas melebarkan rentangan tangannya.



Stevani pun langsung melayangkan tinjunya, namu. hal itu malah ditangkap oleh Dimas dengan terus tersenyum.



"Lepas" Kesal Stevani sambil terus menarik tangannya.


__ADS_1


"Kalo gak mau gimana" Ucap Dimas yang langsung menarik pinggang Stevani melekat pada tubuhnya.



"Dimas! Jangan keterlaluan!" Teriak Stevani namun hal itu tak digubris oleh Dimas.



"Jangan memaksa cewek bro, ingat pemaksaan tidak akan memenangkan hatinya" Ucap seseorang yang tak mereka kenal namun beberapa kali Stevani bertemu dengan remaja didepannya itu.



"Siapa kamu dan ini bukan urusan kamu" Tantang Dimas yang menatap penuh emosi pada cowok didepannya itu.



"Sabar bro, aku kagak pernah ngambil punya kamu kok, tapi jika dia berkenan sama aku maka kamu jangan salahkan aku" Ucap nya dengan sinis.



"Berhenti! Kalian pikir aku barang apa, diperebutkan segala" kesal Stevani yang langsung berjalan menjauh dari mereka.



Dimas langsung menurunkan cagak motor lalu berlari mengejar Stevani.



"Eh tunggu" Teriak mereka yang langsung berlari menghampiri Stevani.



Stevani mempercepat langkahnya namun tetap saja kedua cowok tersebut malah mengikutinya.



"Kalian gak ada kerjaan, aku masih ada urusan jadi jangan ganggu dulu" Ucap Stevani dengan rasa kesal yang tertahan.



"Oke, tapi dengan satu syarat kasih aku nomor telepon mu" Ucap Cowok satu lagi memberikan handphonenya.



"Aku juga" Ucap Dimas yang tak mau kalah.




Stevani pun memberikan ponselnya untuk mereka segera menyimpan nomornya.



"Sudahkan, sekarang jangan ganggu aku" Ucap Stevani dan lalu pergi kembali ke motornya.



Kedua cowok itu terus mengikuti Stevani, tetapi mereka hanya berdiri menatap dengan jarak yang cukup dekat.



Dengan wajah datar, Stevani melajukan motornya keluar dari halaman sekolah. Ia langsung pergi menuju tempat yang ditujunya yaitu adalah tempat temannya berkumpul.



Dengan suasana jalan raya yang ramai karena jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, ternyata pagi sampai sorenya hilang karena hal yang tak ia sadarkan.



Sesampainya di markasnya, ia langsung masuk kedalam tanpa menunggu seseorang yang keluar membukakan pintu.



"Lain kali masuk itu ucapkan assalamualaikum" Kesal Cio.



"Kamu kan katolik" Ujar Stevani.



"Oh iya, lupa aku" Ucap Cio yang ntah mengapa sedikit lola.



"Ya kan kamu bisa bilang gini, hay gaes aku kembali" Teriak Gaby.

__ADS_1



"Gak tau" Acuh Stevani.



Stevani pun langsung berjalan menuju sofa, ia memakan cemilan yang terletak disana dengan wajah tanpa ekspresi sedikit pun.



"Goblok kamu ya, kan Stevani emang kayak gitu" Kesal Zixi.



"Ye kan aku pengen lihat wajah Stevani tersenyum atau bahagia gitu" Ujar Gaby.



Stevani pun tersenyum, ia memperlihatkan gigi rapinya yang putih.



"Ah itu! sebaiknya kamu gak perlu deh senyum van" Ujar meringis Gaby saat melihat senyum Stevani yang cukup mengerikan.



Tak hanya Gaby, Zixi dan Cio juga ngeri melihat wajah Stevani yang tersenyum memperlihatkan giginya. Stevani seakan ingin memakan mereka dengan sekali telan.



Stevani pun kembali memperlihatkan wajahnya dan mereka semua pun menghela nafas lega.



"Yok pergi ke mall" Ajak Stevani.



"Kamu gak demam kan Stev" Tanya Cio yang heran.



"Iya, kamu gak biasanya kayak gini" Ujar Zixi yang ikutan heran.



Stevani tetap diam dengan wajah datarnya, ia memakan cemilan yang dimeja satu persatu.



"Gak, aku hitung sampai tiga dan kalian tetap diam aku anggap kalian nolak" Ucap datar Stevani.



1



2...



"Oke kita pergi" Ucap secara bersamaan mereka.



Stevani pun langsung berdiri dan pergi membawa mereka bertiga menuju mall. Mereka pergi menggunakan mobil Avanza menuju mall agar tidak terlalu repot untuk memarkirkannya.



Sesampainya di mall, mereka menjadi pusat perhatian. Bukan karena mobilnya tetapi karena gaya baju dan wajah mereka yang bikin menarik perhatian



"Eh lihat tu kayak orang besar"



"Mobilnya biasa saja tetapi yang keluar luar biasa"



"Ku rasa cuman orang yang sombong"



Begitu banyak ucapan semua orang yang menatap mereka dengan tatapan yang berbeda-beda, namun mereka tetap diam dan acuh dengan tatapan mereka semua terhadap mereka.

__ADS_1


__ADS_2