Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
bab 66 : Menguji kesabaran


__ADS_3

...🍒 Reading books 🍒...


"Apa ayah mengalami kehancuran?" Tanya Stevani lirih dengan menatap lekat kearah Elang.


Elang hanya tersenyum mendengar pertanyaan Stevani, ia mengangguk iya bahwa dirinya cukup hancur namun kembali menggelengkan kepala seakan ragu dengan keputusannya.


"Aku tidak mengerti, mengapa ayah mengangguk namun akhirnya menggeleng!" Bingung Stevani dengan menatap bingung kearah Elang.


"Kau tau sayang, kematian kakek mu itu membuat ayah hancur namun ada ibu mu yang memberikan semangat untuk ku!" Lirih Elang terlihat tatapannya yang sedu menatap kearah atas langit-langit ruangan.


"Dimana pemakaman kakek?" Tanya Stevani dengan menatap intens kearah Elang.


"Di..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini Stevani berada di kamarnya, saat ini ia sedang membaca buku yang diberikan oleh sang papa padanya. Terlihat dirinya sangat fokus dengan setiap materi yang ada dibuku itu.


"Sepertinya kalo hanya buku percuma, jika aku lebih keras lagi mungkin bisa mengembangkan perusahaan seperti punya papa!" Gumamnya sambil membaca buku itu.


drrrttt.... drrrttt


Ponsel Stevani berbunyi, ia pun dengan segera melihat layar ponselnya menatap nama yang tertera disana yaitu Aldo. Hal itu membuat nya langsung melempar ponselnya ke sembarang arah dan untung nya terlayang ke sofa kamar.


Stevani kembali fokus dengan bukunya, sesekali mencoba-coba sesuatu yang bisa diperagakan, contohnya saat persentase pada seluruh karyawan.


drrrttt.... drrrttt


Ponsel Stevani belum saja berhenti berdering dari tadi, hal itu membuat Stevani menghela nafas panjang dan mengambil ponsel itu untuk segera diangkat.


"Hallo" Acuh Stevani.


"Hallo say..."


"Hallo Stevani!" Jawaban dari layar ponsel Stevani terus berganti dan itu dipastikan ada dua orang lebih disana.


"Berhentilah menelpon ku, aku masih ada urusan!" Jutek Stevani yang langsung mematikan panggilan itu.


Stevani melemparkan ponselnya kembali dan kini jatuh tepat di lantai. Stevani berlari mengejar ponselnya, ia pikir ponselnya sudah melayang tepat di sofa ternyata tidak.


"Eh astaghfirullah... handphone!!"Teriak Stevani.


Ia memegang ponselnya dengan hati-hati, ternyata ponselnya hanya mengalami retak di bagian antigores dan untungnya antigores nya memiliki kaca yang tebal.

__ADS_1


"Mampus, keluar duit lagi nih!" Ngeluh Stevani dengan menatap sedu kearah ponselnya.


Stevani masih memiliki sifat sangat hemat seperti waktu dirinya menjadi Clara, meski saat ini dirinya mampu membeli antigores tapi mengeluarkan duit harus dengan mengeluh karena sifatnya itu.


"Ini karena tu dua bocah deh, kesel bat dah karena mereka!" Kesal Stevani yang sekali lagi melemparkan ponselnya di sofa namun dengan jarak dekat.


Saat Stevani akan melangkahkan kakinya di meja belajarnya kembali, ponselnya malah kembali berdering dan hal itu membuat Stevani semakin kesal.


"Kalo nggak ada kepentingan jangan nelpon!" Ketus Stevani yang langsung kembali meletakkan ponselnya dan berjalan meninggalkan ponselnya.


Namun baru saja beberapa langkah ponselnya malah kembali berdering.


"Aldo! Dimas! aku sarankan jangan membuat aku marah!" Geram Stevani yang kekesalannya sudah sampai ubun-ubun.


"Eh gila ya! Ini aku Cio bodoh..." Ucap Cio yang langsung membuat Stevani segera melihat nama dilayar ponselnya.


"Ah itu, maaf!" Ujar Stevani yang cukup malu.


Padahal ia pikir dari tadi menelponnya adalah mereka berdua dan ternyata Cio, apa ia terlalu pede ya.


"Udah ah sekarang aku mau kasih tau, besok kita akan ke perusahaan mu dan akan melakukan diskusi bersama!" Ucap Cio dan langsung mematikan begitu saja.


Stevani hanya melongo dan kesal, apa saat ini kesabaran nya sedang diuji, astaga!


Stevani menuju kamar mandi setelah itu ia memutuskan untuk naik keranjang untuk segera tidur menghilangkan kesalnya yang sudah sangat memuncak.


......................


Keesokan harinya, Stevani masih nyaman dengan selimut lembutnya itu, dinginnya cuaca membuatnya enggan untuk beranjak dari kasurnya.


Ceklek


Pintu dibuka oleh Maya, ia yang dari tadi menunggu sang anak bangun mengharuskan dirinya untuk naik dan mengecek keadaan anaknya.


Maya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat posisi tidur sang anak yang begitu berantakan. Anaknya itu setelah sadar dari koma memiliki kebiasaan tidur yang aneh sehingga saat Maya melihat Stevani tidur hanya dapat tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Maya perlahan mengambil remot AC dan mematikan nya, ruangan terasa sangat dingin, apa anaknya ini sakit sampai menggunakan AC di udara yang sudah hujan.


Setelah itu ia berjalan menuju gorden jendela, perlahan membuka nya agar sinar matahari dapat masuk menghangatkan ruangan yang dingin itu.


"Eggghhh...tutuplah kembali, aku masih ngantuk!" Ujar Stevani yang merasakan silaunya cahaya.


"Bangunlah sayang!" Ucap Maya yang langsung menghampiri Stevani dan mengelus rambut berantakan gadisnya itu.

__ADS_1


Namun Stevani malah menenggelamkan kepalanya di sela bantal nya.


"Bangun ayo! Apa kamu nggak ke perusahaan?" Tanya Maya yang menarik bantal yang menutupi wajah cantik anaknya itu.


"Nanti aja deh aku pergi jam 8, ngantuk banget ma!!" Teriak Stevani yang masih mempertahankan bantalnya.


"Katanya mau sukses, masa bangun pagi aja susah!" Ucap Maya yang mampu membuat Stevani membuka matanya.


Terlihat Stevani menghela nafas panjang dan perlahan bangun dengan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Iya ma!" Lesu Stevani dengan muka yang masih belum sadar sepenuhnya.


Maya hanya tersenyum, ia mengacak rambut gadis kecilnya itu dengan sangat gemas. Meski sang anak sudah menginjak 18 tahun, ia tetap menganggap gadis kecilnya.


"Mama keluar ya, papa sudah nunggu tu di meja makan!" Ingat Maya pada Stevani.


Dengan kesadaran yang sedikit, Stevani berjalan menuju kamar mandi. Segala yang berhadapan padanya pasti bertabrakan pada tubuhnya.


"Aww...ini dinding ngapain bisa disini sih, ngalangin jalan aja!" Kesal Stevani yang sudah sadar.


Ia mengusap keningnya yang terantuk pada dinding, lalu berjalan menuju pintu kamar mandi kembali.


Segera Stevani membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian rapi ala kantoran.


Setelah kegiatannya menata dirinya menjadi cantik dan berwibawa, Stevani pun turun menuju ruang makan, ia cukup merasa bersalah karena membuat kedua orang tuanya menunggu.


"Morning!" Teriak Stevani yang sedikit berlari menuruni tangga.


"Morning too sayang!" Jawab Maya yang menyuapkan serial gandum dalam mulutnya.


Namun saat Stevani berada tangga yang selangkah lagi sampai lantai pun, menatap bingung kearah sang mama yang hanya sendiri berada di meja makan.


"Papa mana ma?" Tanya Stevani yang melangkahkan kakinya mendekati meja makan.


"Udah pergi duluan, soalnya ada meeting mendadak, kamu sih lama banget!" Ucap Maya yang sudah selesai sarapan.


"Hehehe...maaf deh ma!" Cengengesan bersalah Stevani.


Tangan nya pun bergerak mengambil roti dan menuangkan susu coklat diatasnya sebagai selai.


"Eh kok pakek susu sayang?" Bingung Maya yang langsung menghampiri Stevani.


"Pengen aja ma, soalnya bosen pakek selai!" Ucap Stevani yang menyuapkan begitu saja roti dalam mulutnya.

__ADS_1


"Kamu ya, padahal banyak selai loh!" Ucap Maya yang menarik roti dari tangan Stevani.


__ADS_2