Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 34: Identitas terbongkar (memberi pelajaran pada sampah)


__ADS_3

...🍒Reading Books 🍒...


Stevani melajukan mobilnya dengan santai,saat ini ia sedang berusaha menetralkan ekspresi nya. Ia tak ingin mengingat wajah Dian yang tiba-tiba berubah menjadi sangat datar saat ia mengucapkan beberapa kata.


Ctring...ctring...


Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya, ia langsung melihat siapa yang mengirim pesan sampai beberapa saat. Ia membaca pesan itu dan ia tau siapa yang mencarinya.


Ia baru ingat bahwa ia melakukan perjanjian dengan ketiga wanita tua itu. Ia pun menjawab untuk bertemu kembali ke tempat yang pertama kali bertemu dan untung saja bahwa berkas-berkas yang diperlukan berada dalam mobil sehingga ia tidak perlu kembali ke rumah.


Sesampainya di cafe itu,ia memakai masker dan topi untuk menutupi identitasnya yang asli,tak lupa ia memakai kaca mata hitam.


Stevani menelusuri setiap tempat didalam cafe,ia mencari seseorang yang tadi menelponnya. Setelah cukup lama ia mencari dan akhirnya ada satu pelayan cafe yang menghampiri nya untuk segera menuju meja no 34.


Stevani pun berjalan menggunakan tangga, ia pergi dilantai 2 cafe tempat yang disuruh pelayan tersebut.


Stevani langsung berjalan menuju meja no 34 dan sudah terdapat dua orang yang memakai masker. Ia melihat disana bahwa Madani mama nya tak ada disana dan hanya melihatkan mereka berdua saja.


"Apa begitu lama kau memberikan informasi" Ketus salah satu wanita yang bernama Yura.


"Aku begitu sibuk, sehingga lupa bahwa aku masih berurusan dengan kalian" Ujarnya beralasan sambil memegang kepalanya.


"Baiklah, mana informasi nya" Ucap Nila meminta informasi tentang Stevani.


"ini.." Stevani menyodorkan map nya dan nila segera menjangkaunya,namun belum sampai ditangan nila,Stevani malah menariknya kembali "Ets...uangnya" Ucap Stevani dengan senyum dibalik maskernya.


"Kita lihat semuanya, jika kau tidak benar memberikan informasi maka uang ini akan hilang" Ancam Yura.


Namun Stevani hanya tersenyum tipis sambil menatap tajam kearah kedua wanita didepannya meski tak kelihatan.


"Baiklah, Jika kau berkata seperti itu maka ini tak akan sampai ke tangan kalian" Ucap Stevani yang langsung berdiri membawa map yang ditangannya.

__ADS_1


"Heh, kau tak bisa semudah itu pergi tuan! Kau pikir kita bodoh hah" Ucap Yura dengan senyum liciknya.


Dan benar saja Stevani dikepung dengan beberapa orang yang menyamar sebagai pelanggan disana dan Stevani sudah memprediksi nya sendiri tadi.


"Oh baiklah, Sepertinya kalian begitu tak ingin melepaskan ku" Ucap Stevani dengan tenang.


"Ya! Kau tau, dari awal aku sudah tau bahwa kau tak semudah itu memberikan informasi itu" Ucap Yura membalas perkataan Stevani.


"Kita sudah tau bahwa kau orang suruhan Stevani bukan!"Ucap Nila lalu mendekat kearah stevani "Kau memberikan hawa yang tidak asing" Bisiknya pada Stevani.


Saat Nila mendekat,Stevani langsung memelintir tangan nila dan sebagai sanderaan dirinya.


"Kalian mendekat maka dia akan mati" Ucap Stevani yang kuat-kuat memegang Nila.


"Oh baiklah, dia tidak penting sekarang! Habisi!" Tintahnya dan semua orang langsung berlari kearah Stevani.


Stevani berancang-ancang untuk berlari,ia satu persatu mendorong dan menendang orang yang menghalanginya, namun tak berselang lama ia pun tertangkap dan ia tak bisa lagi berkutik.


"Hmmm kasihan, sepertinya benda-benda diwajah mu itu sangat menghalang bukan" Ucap Yura yang mengangkat wajah Stevani yang masih memakai kacamata dan masker.


"Jangan macam-macam nyonya yura" Ucap Stevani dengan suara menahan sakit.


"Aku bingung, mengapa saat ini suara mu hampir seperti seorang gadis padahal kau seorang tuan bukan!" Ucap Yura yang mendengar suara Stevani yang berbeda.


Perlahan Yura mengambil tali masker di balik telinga Stevani dan perlahan-lahan membukanya. Betapa terkejutnya bahwa yang saat ini ia tahan adalah Stevani gadis yang ia benci karena berani membuat keluarganya bangkrut sehingga tidak mampu menebus kebebasan anaknya.


"Oh sepertinya anda, seharusnya saya lebih awal membunuh mu" Ucapnya dengan senyum devil nya.


Tiba-tiba segerombolan orang datang dan langsung menghajar mereka.Stevani langsung mendorong Yura dan memakai masker diwajahnya kembali dengan benar.


Ia mendorong Yura sampai terduduk dilantai dan ia juga memberi pelajaran dengan perlahan mendekat dengan mata tajam.

__ADS_1


"Men-menjauh dari saya" Ucap ketakutannya.


"Bukankah Anda sangat angkuh nyonya Yura, pantes saja anak anda juga begitu angkuh" Ucap Stevani dan langsung menginjak tangan Yura sampai berbunyi tulang patah.


"Akkkhhh...kurang ajar" Teriaknya kesakitan.


"Ku harap anda tak membuat diri Anda semakin menjadi orang gila, karena apa? Karena anda tidak akan mampu melawanku meski sepersen pun" Ucap Stevani menendang Yura dengan keras lalu berjalan menghampiri orang suruhannya.


"Bereskan mereka,ingat rendam satu wanita yang berlawanan dengan ku di air dingin selama sejam dan potong setiap jari nya satu persatu dan wanita satu lagi suruh dia memotong lima jarinya dan mengemis dijalan" Ucap Stevani pada orang suruhannya.


Ia langsung pergi meninggalkan tempat perkara, saat ini ia cukup letih dalam mengurus orang sampah-sampah seperti itu.


Ia pergi membersihkan tubuhnya di apartemen dulu baru ia menjemput sang mama. Stevani memakai apartemen yang dibeli oleh Stevani sebelum nya dan ia mengetahui hal itu karena informasi dari laptop Stevani yang lengkap.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, ia langsung pergi menjemput sang mama. Ia belum yakin mamanya masih ada disana atau tidak karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan sampai kerumah Eva dengan cepat.


"Bunda apa mama masih ada disini" Tanya Stevani pada Eva.


"Itu mama tante suruh supir anterin soalnya kamu lama,kasihan mama mu yang pengen pulang" Ucap Eva menjelaskan.


"Oh baiklah tan, makasih telah nganter mama" Ucap Stevani dan langsung menyalami Eva.


"Kamu hati-hati ya jangan ngebut-ngebutan, ingat sudah malam" Ucap Eva menunjuk keatas.


"Siap tan" Ucapnya dengan hormat bendera.


Stevani pun langsung pergi melajukan mobilnya kembali,ia membawa mobilnya keluar dari per-karangan rumah Eva.


Stevani pun kembali melajukan mobilnya menuju kediaman nya, ia tak ingin membuat khawatir sang mama karena tak melihatnya saat pulang nanti.

__ADS_1


__ADS_2