
...🍒 Reading books 🍒...
"Katakanlah!" Ucap Stevani dengan kaki yang menyilang.
"Apa kamu siap mendengarkan nya?" Tanya lagi menanyakan kepastiannya.
"Siap!" Ucap Stevani yang yakin.
"Aku hanya ingin mengatakan, aku menyukaimu!" Ucap Dian dan langsung bangkit dari duduknya dengan membalikkan tubuhnya menghadap dinding.
Stevani terkejut dengan pernyataan Dian yang secara langsung, meski ia tau bahwa Dian sudah menyukainya pada saat sekolah waktu itu.
"Nggak perlu menjawab, aku akan pergi ke Inggris dan makasih karena mendengarkan nya!" Ucap Dian yang mulai berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Maaf!" Lirih Stevani.
Dian berjalan mendekat kearah Stevani, ia memeluk tubuh Stevani dengan kehangatan.
"Aku bisa menjadi kakakmu jika kau berkenan, kau tak perlu menjawab perasaan ku dan aku akan mendukung setiap keputusanmu..." Ucap Dian dengan memeluk hangat Stevani.
Stevani merindukan kehangatan dari Dian, kakak tiri yang selalu menjadikannya sebagai seorang yang kuat dan hidup di rumah yang tak menerimanya,namun karena ada dia meski tanpa terlihat jelas, dirinya dapat bertahan.
"Pergilah, ku doakan kau sukses disana dan jangan lupa kembali lagi temui adik mu ini!" Ujar Stevani, ia melepas pelukan hangat itu dan dengan air mata setitik terjatuh menatap Dian.
"Mengapa kau menangis, dasar gadis bodoh!" Ucap Dian dengan tersenyum manis.
"Apa kau tau keberadaan adek-adek mu?" Tanya Stevani yang mengingat mereka semua.
"Hmmm...dan mereka memilih kehidupannya masing-masing, sekarang aku pergi untuk membuat diriku sukses!" Ucap Dian dengan berdehem mengiyakan.
Dian perlahan pergi meninggalkan ruangan itu dengan Stevani yang terus melihat punggungnya hingga hilang dari pandangan.
"Maafkan aku kak, sekarang aku bukan Clara yang dulu tetapi sekarang aku adalah Stevani...!" Gumam Stevani setelah kepergian Dian.
Stevani pun memutuskan untuk kembali keruangan nya, ia tidak ingin ketiga temannya itu menunggu atau mencari dirinya.
Stevani datang dengan wajah datarnya, semuanya menatap kedatangan Stevani, terlihat wajah bingung mereka bertiga karena tidak menemui Dian.
"Tu orang, si Dian mana Stev?" Tanya Dimas dengan celingukan.
__ADS_1
"Udah pergi!" Jawab Stevani dan mereka bertiga tampak bingung, bukankah Dian pergi bersama dengan Stevani tadi.
"Terus..." Aldo kembali bertanya meminta penjelasan dari Stevani.
"Nggak ada!" Acuh Stevani yang langsung duduk di sofa samping Suci.
"Tapi, kak Dian gak mau kesini untuk makan bareng?" Tanya Suci dengan wajah polosnya.
"Dia ad urusan dan mungkin akan pergi!" Ujar Stevani memasukkan kentang goreng kedalam mulutnya.
Mereka bertiga hanya mengangguk dan melanjutkan makan mereka yang sempat tertunda.
......................
Setelah selesai makan, mereka dibiarkan untuk berkeliling perusahaan, sedangkan Stevani akan melaksanakan rapat di bersama para karyawan nya.
"Cari model anak kecil, iklan yang seperti itu cocok untuk anak yang berumur 5-7 tahun!" Ujar Stevani yang tidak setuju dengan ide iklan yang diberikan oleh karyawan perencanaan.
"Tapi jika anak seumur segitu bisa membuat kita kesulitan dalam menanganinya buk!" Ujar karyawan itu menjelaskan.
"Kau pikir ini zaman apa, bahkan anak balita umur 2-3 tahun saja bisa menjadi model, mengapa anak yang berumur segitu tidak bisa!" Stevani meninggikan suaranya. Bagaimana tidak, karyawan nya itu terlalu berpikir kolot dan menganggap anak kecil begitu menyusahkan.
"Baiklah, saat ini untuk iklan sebuah cemilan memang membutuhkan anak kecil terlebih ini sebuah makanan yang manis..." Jelas Resa yang memberikan penjelasan atas ucapan dari Stevani.
"Saya kasih waktu paling lambat seminggu untuk memperbaiki itu!" Ujar Stevani dengan datar dan dingin.
Mata nya yang tajam mampu membuat semua orang yang ada disana cukup takut apalagi suara Stevani yang keluar begitu datar saat berbicara.
Padahal menurut Stevani, ia sudah bersikap semaksimal mungkin untuk menjadi bos yang baik, namun karena porsi wajahnya yang tercetak dingin membuat ia memiliki sifat yang dingin dan datar.
"Saya akhirnya, semoga kalian sukses!" Stevani langsung keluar dari ruang rapat, saat ini ia ingin menyusul ketiga temannya itu agar tidak merusuh perusahaan nya kali ini.
Stevani melangkah kan kakinya keluar ruangan bersama resa meninggalkan semua orang yang masih sibuk untuk merapikan berkas mereka yang sempat berserakan.
"Dimana mereka semua?" Tanya Stevani dengan melangkahkan kakinya lebar.
"Dibagian HRD bersama Tika!" Jawab Resa yang melangkah lebar mengiringi langkah Stevani.
"Ngapain?" Tanya bingung Stevani memberhentikan langkahnya menatap Resa.
__ADS_1
"Mereka ingin belajar tentang perusahaan bersama Tika yang menjelaskan!" Jawab Resa dan Stevani hanya mengangguk lalu melanjutkan langkahnya untuk ketempat mereka berada.
Sesampainya disana, terlihat mereka bertiga yang sangat antusias mendengarkan nya meski mereka terlihat tak terlalu mengerti dengan penjelasan dari Tika.
"Begitu menyenangkan sampai nggak mau pulang!" Stevani menghampiri mereka bertiga.
Terlihat senyum mereka menyambut stevani yang menghampiri mereka.
"Belajar perusahaan cukup menyenangkan ternyata!" Ujar Suci yang langsung merangkul Stevani. Stevani mengacak rambut Suci dengan gemas.
"Bagaimana kalau kalian pulang!" Ucap Stevani memberikan saran.
"Ngusir kita gitu!" Kesal Dimas.
"Nggak gitu, lihatlah langit sudah hampir gelap dan aku mau pulang, tidak mungkinkah kalian berada disini!" Ucap Stevani menjelaskan.
"yaudah deh aku pulang, sebenarnya cukup letih juga!" Ucap Aldo yang pengertian.
"aku juga deh!" Ucap Suci yang memang ingin pulang.
"Baiklah kalian pulang lah, sebentar lagi aku mau pulang juga!" Ucap Stevani dengan tersenyum.
Suci menatap kearah Stevani dengan tatapan yang sulit diartikan, kedua cowok itu langsung berjalan bersama meninggalkan tempat itu.
"Kenapa kau tak pulang Suci?" Tanya Stevani saat melihat Suci masih tetap berdiam ditempat menatapnya.
"Aku hanya mengembalikan ini!" Suci mengeluarkan liontin yang ia temuin itu.
"Dari mana kau menemukan nya?" Stevani mengambil alih liontin dari tangan Suci.
"Aku menemukannya saat di acara pengenalan donatur waktu itu dan sekarang baru sempat!" Jawabnya dengan menundukkan kepalanya.
"Makasih, sebenarnya aku cukup merasa kehilangan liontin ini tapi aku tak menemuinya, makasih telah memberikannya untukku" Stevani menerima liontin itu dengan memeluk tubuh Suci.
Suci sempat tertegun dan ia pun menikmati pelukan hangat Stevani.
"Baiklah pulanglah, makasih untuk ini!" Ucap Stevani dengan tersenyum manis.
"Aku pulang, makasih untuk makanan tadi!" Ucap Suci dengan membalas senyuman manis Stevani.
__ADS_1
Suci pun pergi meninggalkan Stevani, sedangkan Stevani hanya menatap kepergian Suci hingga hilang dari balik dinding.