Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 22:Nomor tak dikenal


__ADS_3

...🍒Reading Books 🍒...


Didalam kamar,Stevani dikejutkan oleh dentingan pesan yang dikirim seseorang. Sedikit bingung kenapa bisa ada nomornya di tempat orang lain.


Stevani tak menjawab sedikit pun,ia hanya membaca pesan yang terkirim itu. Ia memutuskan untuk mandi tanpa memikirkan pesan tersebut.


Menikmati harumnya sabun mandinya. Ia menidurkan kepalanya ditepian bathtub dan merilekskan pikiran dan seluruh tubuhnya.



Setelah 30 menit lamanya ia berendam akhirnya memutuskan untuk berbaring ditempat tidurnya yang empuk itu. Tak membutuhkan waktu yang lama akhirnya Stevani pun menyelami mimpi nya.


Didalam mimpinya,ia kembali dipertemukan dengan wanita yang selalu datang saat dirinya menjadi Clara dan ini adalah yang pertama kalinya wanita itu datang lagi namun tidak sendiri tapi dengan seseorang.


"Bagaimana kehidupan mu akhir-akhir ini sayang" Tanya wanita paruh baya.


"Tak begitu menyenangkan " Jawabnya.


"Baiklah,lihatlah dia apa kamu kenal sayang?" Ucap nya dan menunjuk kearah wanita yang berwajah datar dan dingin.


"S-te-Stevani " Gugup Clara.


"Heh... begitu menikmati tubuh ku kau bukan" Ucap Stevani dengan gaya angkuhnya.


Dan benar saja Stevani memiliki sifat sombong,angkuh dan dominan.


"Bukan seperti itu,jika kau mau kembali maka akan ku kembalikan" Ucap Clara yang berusaha tenang namun hatinya sedang kacau dan takut.


"Kau tak perlu takut pada ku,jaga tubuh ku. Ingat! kau harus menjaga mama dan papa ku walau itu dengan raga mu sedikit pun.


"Baiklah,itu pasti akan selalu aku lakukan" Ucap Clara yang langsung menunduk.


"Pakailah selalu kalung pemberian ku sayang dan jangan lupa ingat pesan ini selalu ya" Ucap wanita paru baya itu dan mereka langsung menghilang dan Clara akhirnya sadar dalam tidur.


Stevani sadar dari tidur nya, tubuhnya sudah habis berkeringat dingin dan terlebih ia menemukan sang mama sedang duduk disampingnya dengan terus menatapnya.


"Akhirnya kamu sadar sayang,mama pikir akan terjadi hal yang tak diinginkan sehingga mama berencana akan membawa mu ke rumah sakit" Ucap Maya yang sangat khawatir.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja ma,kapan mama sampai dikamar? Apa papa nggak cariin ma?" Ucap Stevani yang begitu banyak pertanyaan.


"Nggak kok,mama tadi izin mau tidur sama mu jadi sekarang kamu tidur gih biar enakan" Ucap Maya dan perlahan merangkak untuk tidur disamping Stevani.


Maya menyesuaikan tubuhnya,ia pun tidur disamping Stevani dengan tangannya yang mengelus rambut hitam lembut anaknya itu.


"Mama tau pasti kamu selalu memikirkan ucapan papa mu sore tadi bukan! Mama harap itu semua lupakan dulu ya sayang,jangan membuat begitu banyak pikiran yang membuat dirimu jadi sakit seperti tadi" Ucap cemas Maya yang terus mengelus rambut Stevani.


"Oh hal itu sudah aku lupakan ma,mama tak perlu khawatir dengan diri ku" Ucap Stevani dengan tersenyum lebar.


"Kau berbohong sayang! Sama seperti anak kecil" Ujar Maya menyenggol hidung Stevani.


"Tapi kan aku sebenarnya tak terlalu memikirkan hal itu,apalagi papa sudah tak mempermasalahkan nya " Jawabnya


"Yaudah kamu berhati-hati saja ya,ingat jangan pernah menganggap semuanya remeh" Ucap Maya dan langsung menutup mata Stevani menggunakan tangan.


Stevani pun hanya menurut,ia memejamkan matanya sampai tangan sang mama melemah dan sudah tertidur.


"I love you mom" Ucapnya dan langsung mengecup pipi sang mama.


Ia pun langsung memejamkan matanya mengikuti langkah sang mama yang sudah menyelami dunia mimpi yang indah.


Keesokan harinya,Stevani yang terbangun sudah tak menemui sang mama langsung saja pergi menuju dapur,ia mencari keberbagai sudut dan akhirnya ia menemukan sang mama.


"Eh kamu sudah bangun nak! Sekarang mandi Goh sebentar lagi serapan kita akan siap" Ucap Maya yang sedang memotong bumbu untuk masak nasi goreng.


"Baiklah ma" Jawab singkat Stevani dan langsung pergi menuju kamarnya kembali.


setelah cukup lama Stevani berada dikamar nya menyelesaikan segala sesuatu ritual untuk membuatnya segar pagi ini,secara bersamaan ia keluar dengan papanya yang keluar dengan membawa dari dan tas kerja nya dan dirinya yang membawa dasi dan tas sekolahnya.


"wah! papa dan anak keluar secara bersamaan nih,mana bau wangi sabun nya sampek sini lagi ngalahin bau aroma masakan mama" Ucap Maya yang merasakan aroma penciumannya cukup memekakkan di hidungnya karena aroma parfum yang cukup kental.


"Pasangin dong dasi papa,soalnya papa begitu kaku dalam memasangkan nya" Ucap elang memberikan satu dasi berwarna coklat.


"Papa begitu ma,kalo sama mama manja nya minta ampun coba lihat noh pas jadi bos senyumnya pun sedikit aja kagak ada" Ledek Stevani.


"Biarin dong,yang penting hati papa senang" Jawab senang Elang.

__ADS_1


"Dan mama pun tertekan" Imbuh Stevani.


"Potong yang jajan selama sebulan"Ucap Elang dengan muka kesal.


"Eh nggak dong pa! masa gituan doang langsung dipotong sih uang jajannya " Memelas Stevani.


"Udah-udah sekarang kita serapan pagi dulu,dilarang julid untuk pagi ini" ucap Maya yang langsung mengambil sepiring nasi goreng untuk suaminya dan sepiring nasi goreng juga untuk anaknya.


Mereka bertiga pun menikmati waktu serapan pagi,setelah selesai Stevani langsung izin sekolah dan begitu pula elang yang izin untuk bekerja dan hanya meninggalkan Maya yang tampak kesepian.


Diperjalanan menuju sekolah,Stevani mengendarai dengan kecepatan cepat karena masih pagi membuat ia mudah untuk kecepatan itu.


Sesampainya di parkiran sekolah,ia diperlihatkan wajah datar Dian yang saat ini ia cukup membencinya. Stevani terus berjalan tanpa mempedulikan keberadaan orang itu saat ini.


"Sebentar" Ucap Dian.


"Ada apa,aku nggak ada waktu bermain-main sama kamu" Ketus stevani.


"Pakai dasi mu itu" Ucap Dian menunjuk pada dasi yang berada di saku nya.


"Terserah aku lah,mau pakek atau enggak itu kan urusan aku bukan kamu" Bantah Stevani yang langsung melanjutkan perjalanan nya.


Namun lagi-lagi ia ditahan oleh Dian, Dian terus berjalan melangkah mendekat dan Stevani tampak menantang berhadapan dengan Dian.


"Cepet pakai atau aku yang pakaikan" Ancamnya.


"Ambillah sendiri,berani kamu ngambil berarti kamu mesum" Ucapnya.


Bagaimana tidak,saat ini dasi nya berada disaku bajunya namun saku itu tepat berada di dada nya. Jika Dian berani mengambil hal itu,otomatis tangan Dian memegang suatu hal yang tidak seharusnya ia pegang.


"Oke" Tantang Dian.


Dian pun semakin mendekat sehingga membuat Stevani langsung gelagapan,Stevani pun terus mundur sampai ada sedikit ruang ia pun langsung lari namun hal itu tak dipermudah oleh Dian,ia malah lebih gampang menarik Stevani.


"Ingat jangan terlalu nakal,berdirilah dengan baik biar aku pakaikan" Ucap Dian yang sudah berhasil mengambil dasi yang berada di saku baju Stevani.


Stevani hanya menurut namun dalam hati selalu mengutuk keras Dian yang membuatnya tak mampu berkutik. Padahal dasi itu sudah berada tepat didadanya namun Dian memiliki tangan begitu cepat sampai ujung dari yang keluar sedikit mudah ia tarik.

__ADS_1


Stevani terus ngedumel dengan terus menatap tajam kearah Dian sampai dasi itu selesai dipasangkan oleh Dian.


__ADS_2