
...🍒Reading books 🍒...
Kini Stevani sudah berada di perusahaan nya, ia duduk dengan menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya. Namun suara pintu membuat ia langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu.
"Nona, ada teman anda yang mencari anda!" Ucap Resa dengan sedikit membungkuk.
"Kenapa kau harus repot berjalan kesini Resa, bukankah kau bisa teleponku!" Ujar Stevani yang langsung memperbaiki duduknya menjadi tegap
"Sudah nona dan anda tidak menjawabnya!" Ucap Resa dan Stevani hanya mengangguk saja.
"Bawalah kemari, siapa yang kau bilang temanku!" Ujar Stevani yang berdiri siap menyambut teman-teman nya yang datang.
"Baiklah, kalian masuklah!" Instruksi Resa dan tiga orang pria dengan satu gadis.
"Kalian!" Ucap Stevani dengan sedikit terkejut.
"Lah kenapa, bukankah nona yang mengundang kita!" Ujar Dimas dengan gaya bahasa formal.
"Ta-tapi...Baiklah, sekarang duduk lah!" Pasrah Stevani dengan wajah kesalnya.
Mereka berempat pun langsung duduk ke sofa yang berada diruangan itu, mereka tampak terpesona dengan desain ruangan Stevani yang elegan.
"Resa sediakan makanan untuk mereka!" Acuh Stevani dengan menatap keempat orang dihadapannya.
Stevani terus diam, ia menatap dengan tajam ke empat orang di depannya yang juga diam dengan berpura-pura mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam Stevani.
"Katakan!" Datar Stevani.
"Ayolah, masa kamu begitu formal, bersikaplah dengan baik pada kita!" Ujar Aldo yang berusaha mencairkan suasana.
"Bagaimana kalian bisa bersama!" Bingung Stevani yang tak mengalihkan pandangannya.
"Baiklah biar aku yang cerita...!" Aldo pun memulai bercerita dari awal.
Pada awalnya Aldo dan Dimas sudah bersiap-siap untuk menunggu Suci didepan gerbang, mereka mendengar ucapan Suci yang menemukan kalung Stevani dan mereka kepo akan hal itu.
Mereka sebenarnya memang akan pergi ke perusahaan Stevani, namun sekalian dengan suci yang akan juga pergi.
Mobil suci pun mulai keluar dari gerbang sekolah, Dimas dan Aldo segera mengikuti mobil itu dari belakang dengan jarak yang jauh karena mereka tau kemana tujuan Suci sebenarnya.
Selama setengah jam mobil melaju melewati jalanan yang ramai, kini sampailah mereka bertiga di perusahaan Stevani yang cukup besar.
__ADS_1
"Wahh...ini kah perusahaannya!" Kagum Suci menatap perusahaan yang besar.
Saat Suci sedang mengagumi perusahaan Stevani, tiba-tiba bahunya di tepuk oleh seseorang sehingga ia langsung memutar tubuhnya menatap orang itu.
"Ka-kalian!" Terkejut Suci.
"Mau ke perusahaan Stevani ya! Bareng kita aja, soalnya juga udah buat janji ke Stevani" Ujar Dimas dengan senyum manisnya.
Aldo hanya bersikap acuh, ia menatap cuek kearah Suci. Suci pun mengangguk mengiyakan ucapan Dimas dan mereka pun pergi bersama masuk ke perusahaan Stevani.
"Maaf kalian mencari siapa!" Ujar satpam perusahaan yang menghalangi jalan mereka.
"Kami temannya buk Stevani, beri kami jalan karena kita ada perlu sama dia!" Ujar Aldo menjawab.
"Mana buktinya, kalian anak kecil jangan main-main diperusahaan!" Ucap satpam itu yang masih menahan mereka bertiga.
"Ini buktinya!" Ucap Suci yang langsung menunjukkan foto Stevani dan dirinya bersama.
"Baiklah, tapi kalian harus melapor pada bagian represionis dulu!" Ucap satpam itu yang percaya dan langsung membuka pintu perusahaan.
mereka bertiga pun masuk kedalam menuju lobi perusahaan, tempat represionis berada.
"Adek-adek cari siapa?" Tanya represionis dengan ramah.
"Eh mbak, jangan asal ngomong deh, kita kesini sudah buat janji ya!" Kesal Dimas yang tak terima di panggil sebagai anak kecil.
"Cania jangan begitu, mungkin mereka bertiga adalah tamu nona Stevani!" Bela represionis satunya lagi.
"Cih...palingan bocil yang pengen main!" Ketus Cania dengan sinisnya.
"Sudah-sudah, bentar saya telpon dulu sekretaris nona Stevani baru kalian diantar keatas!" Ujar ramah Tika.
Mereka bertiga pun menunggu di sofa yang disediakan, namun tak berselang lama Dian pun datang dengan pakaian formalnya kearah represionis.
Terlihat Cania sangat ramah dan bahkan langsung melayaninya secara langsung, bagaimana tidak Cania melihat pakaian yang digunakan Dian dan wajah Dian saja sudah membuatnya sangat terpesona dan kagum.
Mereka yang tadi diketuskan oleh wanita itu hanya dapat mendengus kasar dengan perbedaan sikap wanita itu terhadap mereka.
Dian pun disuruh menunggu disofa, sehingga mereka berempat berkumpul dengan tatapan saling menyelidiki.
"Begitu lah ceritanya, sehingga kita berkumpul!" Ucap Aldo yang sudah selesai menceritakan.
__ADS_1
"Iya bener banget, nih orang ntah mau ngapain kesini padahal gak diundang!" Tunjuk sinis Dimas kearah Dian.
"Bukan urusan mu!" Datar Dian yang pandangannya tetap tertuju pada Stevani.
Ceklek
Pintu kembali terbuka, beberapa orang datang dengan membawa beberapa makanan dan langsung disusun dimeja dengan jus juga.
"Apa ini sesuai keinginan anda nona?" Tanya Resa pada Stevani.
"Pergilah, makasih dengan kerja keras mu!" Ujar Stevani dengan tangan melambai.
Resa dan dua orang pesuruh hanya membungkuk dan langsung pergi meninggalkan ruangan Stevani.
"Makanlah, aku tahu kalian pulang sekolah belum makan!" Ucap Stevani mempersilahkan mereka makan.
"Makasih" Ucap mereka secara bersamaan.
Ketiganya langsung memakan makanan yang disediakan Stevani,kecuali Dian yang terus menatap Stevani. Stevani yang tak nyaman pun langsung mengasih kode dengan mata yang menunjuk keluar.
Dian langsung bangkit dan begitu Stevani yang langsung bangkit, ketiganya tampak menatap bingung kearah kedua orang itu.
"Makanlah dulu, kita masih ada urusan yang harus dibicarakan!" Ujar Stevani yang langsung berjalan lebih dulu dari Dian.
Aldo dan Dimas saling mengasih kode, namun mereka terus melanjutkan makanannya.
Kini Stevani dan Dian berjalan kearah sebuah ruangan, sepertinya ruangan itu adalah ruangan kosong dimana belum ada yang menepati namun sudah ada berbagai alat.
"Ruangan apa ini?" Tanya Dian.
"Pribadi!" Ujar datar Stevani.
"Mengapa berpisah dari ruangan CEO mu?" Bingung Dian.
"Sengaja, karena aku nyaman seperti ini!" Ujar Stevani menjelaskan.
"Baiklah!"
Mereka saling diam, tak ada percakapan yang dilontarkan antara keduanya. Terlihat mereka masih berpikir mengucapkan perkataan yang sesuai.
"Apa ada perkataan yang ingin kau ucapkan?" Tanya Stevani yang memulai lebih dahulu percakapan.
__ADS_1
"Hmm...apa kau akan mendengarnya dan menjawab pertanyaan ku?" Tanya Dian dengan mata lirihnya.