Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 44: Menangkap penghianat


__ADS_3

...🍒Reading Books 🍒...


BRAKK...


Pintu ditendang dengan sangat kuat, kini seorang pria yang sibuk mengotak-atik laptop terbuat terkejut karena tendangan keras tersebut.


Stevani berjalan dengan mata yang sangar dan tajam menatap pria dihadapannya. Setelah mengantarkan sang mama kerumah bunda Eva, ia malah mendapatkan kabar bahwa ada seseorang yang sedang berusaha ingin membobol data.


Dan dengan terburu-buru ia datang ke markas yang sesungguhnya yang berada di tepi hutan.


"I ini itu bukan seperti yang anda lihat Ketua" Ucapnya gugup yang mundur beberapa langkah.


"Oh! Jadi seperti apa seharusnya!" Ucap Stevani yang duduk disofa dengan wajah datarnya.


"Ini ini cuman sekedar mengecek!" Gugupnya yang salah tingkah sendiri.


"Oh mengecek! seharusnya kamu tidak berada disini bukan Yuno!" Ucap Stevani yang tersenyum dengan sumringah licik nya.


Pria tersebut gugup dan langsung berlari menuju pintu, namun dia salah ternyata ada yang menjaga didekat pintu.


"Ma maaf kan saya ketua, sa saya terpaksa melakukan ini" Ucapnya yang langsung bersujud dihadapan Stevani.


"Apa permohonan terakhir mu!" Ucap Stevani datar dengan menodongkan pistol kearah pria tersebut.


"Aku hanya ingin kau membuatkan kuburan yang indah untukku yang sudah meninggal!" Ucapnya yang masih saja tetap bersujud.


"Cari permohonan yang lain, aku tak ingin melakukan hal itu" Ucap Stevani datar.


"Ku mohon lakukanlah ketua dan saya akan menerima frekuensi dari perbuatan saya" Ucapnya yang masih bersujud.


"Baiklah! dan silakan tembak sendiri" Ucap Stevani memberikan pistol kearah pria tersebut.

__ADS_1


Pria tersebut mengambil pistol pemberian Stevani, dengan ragu pria itu menodongkan ke kepalanya namun beberapa saat dengan berani langsung menodongkannya kearah Stevani.


"Anda terlalu munafik ketua, aku harap kau segera mati" Ucap Pria tersebut yang langsung berdiri dengan menodongkan pistol.


"Heh... sepertinya begitu percaya diri bukan! Bahkan mengetahui pistol ini berisi atau tidak nya saja kau tak tau. dasar sampah!" Sindir Stevani dengan wajah datarnya.


Pria itu berusaha menarik pelatuk tetap tetap saja pistol itu tak mengeluarkan benda panas yang runcing itu.


"Tangkap dia dan patahkan bagian kaki dan tangannya! ingat! sisakan satu tangan untuknya dan buang di ke pinggir jalan" Ucap sadis Stevani.


Pria tersebut terus berteriak meminta mohon untuk dilepaskan, namun Stevani seakan tuli mendengarkan nya.


Mengapa ia membiarkan bawahannya untuk mengurusi hal yang sepele ini? Sebenarnya Stevani tak pernah sekalipun memegang senjata dan memainkannya, ia menggunakannya hanya sebagai pengancam untuk orang-orang yang seperti sampah.


"Sepertinya hal ini sudah cukup" Gumamnya dan langsung bangun dari duduknya.


Stevani berjalan keluar dari ruangan yang menurutnya sangat pengap karena disana tidak ada terdapat bolongan udara seperti jendela atau lainnya.


"Oh baiklah, Minggu ini lakukan pertemuan semua anggota tak terkecuali dan kamu sebagai penanggung jawab!" Ucap Stevani pada bawahannya sambil terus berjalan.


"Baiklah ketua, semuanya akan saya lakukan! you will be satisfied with me queen!" Ucapnya sambil membungkukkan badannya.


"Ku harap begitu" Datar Stevani dan ia langsung naik mobilnya setelah sampai.


Pria tersebut hanya menatap kepergian Stevani menggunakan mobil, ia pun kembali masuk kedalam markasnya juga.


☘️☘️☘️☘️


Stevani memberhentikan mobilnya disebuah tempat dimana itu adalah sebuah perusahaan yang sudah hampir bangkrut atau bisa dibilang sudah bangkrut.


"Hmmm...mengapa aku kesini ya" Gumamnya sambil menatap perusahaan tersebut.

__ADS_1


Perusahaan itu adalah perusahaan yang pernah membuat papanya dulu jaya dan kini malah keluarganya hancur, ternyata karma itu ada dan dia sudah membuktikannya.


Stevani pun turun dari mobilnya, ia melajukan jalannya untuk masuk ke perusahaan. Ia terus menatap perusahaan tersebut dan tanpa sadar menabrak seseorang.


Bruk


Stevani terpental dan langsung terduduk, ia merasakan pinggulnya yang sudah merasakan sakit karena terduduk yang cukup keras.


"Apa kau baik-baik saja nona" Ucap seorang pria yang menabrak Stevani.


Pria tersebut mengulurkan tangannya pada Stevani untuk membantunya bangun, namun Stevani langsung berdiri sendiri dan membersihkan tangannya yang agak kotor tanpa bersuara.


Setelah membersihkan pasir yang lekat di baju dan tangannya, Stevani menatap tajam kearah pria itu dan langsung pergi tanpa suara.


"Hay nona, kenapa kau diam? Maafkan aku karena tak sengaja menabrakmu" Ucapnya yang berusaha menyusul Stevani.


"Ya, sudah ku maafkan!" Datar Stevani dan mempercepat langkah kakinya.


Pria itu langsung berhenti, ia menatap punggung Stevani yang kecil dan ia berpikir bahwa pada saat gadis itu terjadi mengapa ia tidak reflek menangkapnya, dan itu cukup disesalinya.


"Tapi bisakah aku tau siapa namamu!" Teriaknya saat melihat Stevani yang sudah berjalan cukup jauh.


"Stevani!!!" Jawab Stevani dengan cukup berteriak.


Stevani pun melajukan jalannya menuju perusahaan papanya yang sudah bangkrut.


"Ih sial, sudah berusaha sebisa mungkin tapi tetap saja di PHK" Ucap seorang karyawan yang di PHK.


"Aku juga, sudah berusaha bertahun-tahun tetap saja mengalami PHK" balas salah satu karyawan yang juga terkena PHK.


Dan banyak lagi semua karyawan yang terus berucap sambil membawa barang-barang mereka dengan kardus. Stevani terus berjalan, ia memperhatikan setiap karyawan dan perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2