Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 12: Diantar pulang


__ADS_3

...🍒Reading books🍒...


"Dimana rumah kamu" Tanya Dimas.


"Jalan kijang no 05" Jawabnya.


Stevani terus memeluk tubuh Dimas cukup erat tanpa ia sadar ia tertidur dipunggung Dimas dengan memeluk erat.


Sedangkan Dimas yang cukup merasa aneh karna dari tadi Stevani terus meletakkan kepalanya dipunggung tanpa berniat untuk beranjak dari sana.


"Hay apa kau tidur" Tanya Dimas dengan berusaha menggapai kepala Stevani.


Namun Stevani tak menjawab sehingga membuat Dimas memberhentikan motornya lalu perlahan turun dari motor dan ternyata benar dugaan Dimas,bahwa Stevani tertidur.


Dimas pun langsung mengangkat tubuh Stevani dengan gendong koala,lalu baru ia naik motor. Dimas berusaha membawa motor sambil Stevani yang berada di pelukannya.


Sampai dijalan putri,kini Dimas tinggal mencari nomor rumah Stevani,tak lama ia mencari dan akhirnya ia pun menemukan alamat rumahnya.


"Pak tolong buka,saya mau ngantar nona Stevani" Ucap Dimas yang sedikit kewalahan.


Satpam itu langsung mendekat melihat siapa yang dibawa oleh pemuda itu,dan ternyata itu adalah anak dari tuannya sehingga ia segera cepat-cepat membuka gerbang rumah.


"Biar saya angkat nona Stevani anak muda" Tawarnya dengan tangan yang siap untuk menampung.


"Tak perlu" Jawab singkat Dimas dan langsung mengendarai motor nya masuk ke per-karangan rumah mewah itu.


Rumah Stevani termasuk mewah menurut Dimas tetapi tak semewah rumahnya yang berada di Inggris dan Belanda.


Dimas memberhentikan motornya dan turun dari motor dengan dibantu satpam yang mengikutinya dari belakang. Satpam itu membantu menangani motornya dan Dimas mengangkat tubuh Stevani yang sudah tertidur pulas.


Tinong....


Suara bel rumah yang dibunyikan oleh Dimas dan beberapa saat barulah pintu dibuka oleh seorang wanita paru bayah yang masih cantik.


"Siapa ya" Tanya bingung Maya saat melihat seorang pemuda yang membawa seseorang dalam gendongannya.


"Saya Dimas tante,ini Stevani" Ucap Dimas dan Maya pun langsung khawatir pada anaknya.


"Hah... Stevani! Ada apa dengan anak tante? Cepat letakkan disini" Ucap Maya yang khawatir.


Dimas langsung membawa Stevani masuk kedalam rumah dan diletakkan di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Tadi dia dihadang oleh preman karna dimas melihat Stevani jadi Dimas membantu Stevani dan ia hanya tidur saja tan!" Ucapnya menjelaskan agar Maya tak terlalu khawatir pada Stevani


Maya terus mengusap-usap tangan Stevani agar panas,Maya begitu takut saat ini ia tak ingin anaknya terjadi sesuatu apalagi hal seperti ini.


"Motornya masih berada disana dan akan dijemput oleh orang suruhan saya,tante tak perlu terlalu khawatir saya jamin bahwa Stevani tak apa-apa" Ucap Dimas menjelaskan kembali.


"Makasih ya nak,Tante sangat bersyukur karna kamu telah menolong anak tante,duduklah tante akan bikin minum untuk mu,kamu mau minum apa?" Ucap Maya


"Tak perlu repot-repot tan" Ucap segan Dimas.


"Tak apa,kamu mau minum apa hmmm..." Ucap lembut Maya.


"Air putih saja tan,makasih" Ucap Dimas.


Dan Maya pun segera menuju kebelakang, meninggalkan Stevani bersama dengan Dimas.


Sedangkan ditempat,Dimas terus menatap wajah cantik Stevani yang sedang tertidur dengan lelap.


"Serasa akrab tapi kenapa, bahkan aku baru melihat wajahnya pertama kali" Batin Dimas.


"Ini minumnya" Tutur maya membawa segelas air putih dengan beberapa potongan kue.


"Nama panjang mu siapa nak?" Tanya Maya.


"Dimas Adi Winata tan" Jawabnya.


"Apa kamu anaknya winata?" Tanya Maya.


"Iya tan" Jawabnya.


"Apa Winata berada di Indonesia sekarang?" Tanya Maya.


"Papa sekarang masih berada di Inggris,ia masih mengembangkan bisnisnya" jawab Dimas


"Jadi,kamu sendirian ke Indonesia?" tanya nya kembali dan Dimas hanya mengangguk saja.


Sedangkan Stevani yang mendengar keributan didekatnya,ia pun perlahan-lahan membuka mata dan melihat siapa yang membuat keributan saat ini.


"Egghh..." lenguh nya yang langsung duduk dari tidurnya.


"Kamu sudah bangun sayang" Tanya Maya yang segera merangkul tubuh Stevani

__ADS_1


"Hmm...Kok aku dirumah ya" Gumamnya dan itu masih bisa terdengar oleh Dimas,namun Dimas tetap diam dan malah dijawab oleh Maya.


"Nak Dimas yang bawa kamu kesini sayang,sekarang bentar mama ambilkan minum ya" Ucap Maya yang tersenyum lembut.


"Eh ma nggak perlu! aku aja nanti ambil sendiri,mama nggak boleh terlalu lelah" Halang Stevani.


"Udah nggak papa,sekarang kamu tunggu disini ya" Ucap Maya yang langsung pergi menuju dapur.


"Kamu ngapain nggak bangunin aku,kan jadi gini deh" Kesal Stevani.


"Bersyukur aja kamu, kalo aku lempar pas tidur udah jadi gelandangan kamu dijalan" Ketus Dimas.


"Huh....menyebalkan" Kesal Stevani dan saat itu juga Maya datang dengan membawa segelas air.


"Ada apa ini,kenapa kalian begitu tegang hmm..." Tanya Maya.


"Nggak kok ma,ini dia mau izin pulang katanya" Ngeles Stevani dan memberikan beberapa kode pada Dimas agar mereka berkerja sama.


"Iya kah"


"Hmm....seperti begitu tan, yaudah Dimas izin pulang dulu ya karna masih ada urusan yang harus Dimas lakuin tan" Ucap Dimas dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman pada maya


"Baiklah, hati-hati dijalan ya nak" Ucap Maya yang menerima uluran tangan Dimas.


Setelah meminta izin,Dimas diantar oleh Maya sampai didepan rumah begitu juga Stevani yang ikut mengantar Dimas kedepan.


"Udara dingin ma,cepat masuk nanti kau masuk angin" tegur Stevani.


"Jangan begitu lebay sayang,sekarang kamu harus ceritakan yang sejujur-jujurnya apa yang terjadi tadi" Ucap Maya yang langsung menarik Stevani.


Stevani sempat bingung harus mengucapkan apa dari awal,sebab tak mungkin kan ia menceritakan dari preman dan jika ia ceritakan dari Dimas, yang ada ia malah ditertawakan oleh mamanya.


"sebelum cerita sini mama obat in luka kamu itu" Ucap Maya yang membawa obat P3K yang diambil dari laci nakas.


Stevani hanya menurut saja,ia mendekat pada Maya yang akan mengobati lukanya menggunakan obat merah. Saat obat itu melekat pada kulitnya yang memar,rasa perih langsung terasa oleh Stevani sehingga Stevani berusaha agar tak berusaha dan membuat sang mama cemas.


"Apa kah sakit sayang,mama akan lebih pelan lagi" Ucap Maya yang sedikit khawatir.


"Hanya sedikit perih doang kok ma! Stevani bisa menahannya kok" Ucapnya dan Maya hanya tersenyum lembut dan berusaha lebih berhati-hati agar tak menimbulkan perih.


setelah pengobatan, Stevani langsung pergi ke kamarnya untuk bersihkan tubuhnya yang sedikit lengket karna seharian berada diluar.

__ADS_1


__ADS_2