
...πReading Books π...
BRAKK....
Hantaman yang cukup kuat. Tubuh Stevani dilempar oleh dua pria dengan tubuh kekar disudut dinding yang keras. Yang ia tau adalah saat ini dalangnya adalah Syifa.
"Kamu terlalu sombong Stevani,bahkan saat ini beraninya kamu deketin kakak gue!" Ucap Syifa dengan mata yang tajam.
"Heh... Sepertinya kamu cukup menikmati semua yang gue lakuin sama kamu,apa kamu mau mengulanginya! " Ucap Stevani yang masih terduduk dengan mata yang penuh dengan tawa meremehkan.
"Kamu jangan sombong! Kamu pikir,kamu dapat ngelawan gue dengan bodyguard ini! Heh! " Ucap Syifa dengan angkuhnya.
"Tidak! Gue nggak sekuat yang kamu pikirin" Ujarnya santai.
"Lakukan" Ucap Syifa pada bodyguard nya dan ia pun langsung pergi meninggalkan mereka.
Bodyguard itu perlahan mendekat,mereka diperintahkan untuk membuat tangan dan kaki gadis ini patah kalo perlu lepaskan. dari organnya.
Stevani cukup tegang,saat ini ia berada di situasi yang tidak bisa ia lawan sedikit pun. Terdapat begitu banyak bodyguard yang jika ia lawan belum tentu menang. Namun, cukup lama ia berpikir dan akhirnya ia tahu harus berbuat apa.
Stevani langsung berdiri,ia membela para bodyguard yang berjalan mengarah padanya dengan gerakan rolling depan. Dapat dilihat para bodyguard sempat terkejut dengan yang dilakukan Stevani.
"Hmmm....Kalian seharusnya tidak setega itu bukan!" Ucap Stevani yang berdiri dengan angkuh.
"Kita hanya menjalani tugas!" Jawab bodyguard itu datar.
Stevani tampak sumringah mendengar hal itu,sepertinya ia harus berusaha melawan para bodyguard itu sekarang.
Stevani berlari mendekat,ia langsung mengarahkan satu kakinya dengan cepat lalu menendang bayi kecil bodyguard itu dengan sangat keras.
"Aaakkkk" Teriak kesakitan bodyguard itu.
"Sepertinya anda tidak bisa dibiarkan" Kesal bodyguard itu yang langsung berlari kearah Stevani dengan tinju besarnya.
Stevani langsung membungkuk dan melewati serangan tinju dari bodyguard itu. Cukup lama terjadi pertengkaran dan akhirnya kedua bodyguard itu mengalami yang namanya sekarat.
"Sebaiknya kalian tidak pernah menyinggung ku,lakukan lah dengan baik semoga kalian beruntung" Ucap Stevani yang langsung pergi meninggalkan kedua bodyguard tersebut.
Stevani berjalan menuju parkiran sekolah,saat ini ia memutuskan untuk pulang dari pada terkena masalah seperti tadi.
Sudah cukup hebat dirinya dalam menangani hal tersebut dan hanya menerima sedikit luka kecil, dari pada harus berurusan dengan masalah lain.
"Cukup hebat,sangat liar dalam menangani masalah" Ucap seseorang yang bersembunyi di balik semak-semak
Stevani langsung masuk kedalam mobilnya,ia menghidupkan dan lalu pergi meninggalkan per-karangan sekolah.
"Kemana saja kamu Syifa,bukankah jam segini semua orang sudah pulang" Ucap cemas Bian.
"Bukan urusan mu kak" Ketus Syifa tanpa berniat menatap sang kakak.
__ADS_1
" Kau selalu pulang sampai sore hari,apa kamu nggak tau apa yang terjadi dirumah" Ucap emosi Bian.
"Itu salah mereka yang terlalu banyak mencari masalah,itu bukan urusan ku" Acuh Syifa yang langsung pergi meninggalkan Bian begitu saja.
Bian tampak mengepal tangannya,ia seakan tak dihargai oleh adeknya sendiri. Ia pun pergi dengan kesal meninggalkan rumahnya.
Sedangkan Syifa yang berada di kamarnya tampak sangat puas. Kali ini ia akan memulai balas dendam untuk Stevani yang berani mengusik seluruh kehidupannya.
"Gue akan buat kamu seperti kertas ini....hahahaha" Ucapnya dengan tawa devil yang sangat menakutkan. Ia menggenggam dan menginjak kertas yang berada ditangannya dengan hati yang sudah berbalut dengan dendam.
ππππ
Keesokan harinya,tampak terlihat Stevani yang baru bangun dari tidurnya. Badannya sedikit sakit-sakit akibat melawan dua buah bodyguard. Ia bangun dari tidurnya dan berjalan kearah meja hias.
"Wajah yang datar ini sungguh sangat cantik apalagi pada saat tersenyum,tapi...dia sudah memberikan tubuh dan wajahnya padaku yang memiliki dendam yang sangat kuat kepada orang yang pernah menyakitiku" Ucapnya memegang wajah yang sudah luka-luka.
"Kamu kenapa sayang" Tanya seseorang yang diyakini itu adalah Maya sang mama.
Stevani langsung menghapus air matanya,ia langsung berbalik dan memperlihatkan senyuman yang terpaksa ia perlihatkan.
"Jangan seperti orang bodoh,mama tau kamu pasti terjadi sesuatu kan! Katakanlah nak!" Lirih Maya menatap dan mengelus rambut anaknya.
Stevani tampak nyaman dengan kelembutan yang diberikan oleh Maya meski itu bukanlah orang tuanya. Stevani kemaren pulang sempat membuat Maya dan Gilang cemas ,dan bahkan mau dibawa ke rumah sakit namun Stevani yang tak ingin pergi.
"Hmmm.... Stevani nggak apa-apa kok ma!" Ucapnya dengan tersenyum lembut.
"Baiklah,jika kamu tak ingin ngomong! Mama tidak akan memaksa" Ucap Maya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Stevani mandi dulu ya ma,mau sekolah" Ujarnya.
"No! Sekarang kamu istirahat dirumah,nggak ada yang namanya sekolah!" Larang Maya.
"Stevani nggak apa-apa loh ma,masak nggak boleh sekolah" Ucap stevani dengan bergerak melenturkan tubuhnya.
"Kamu nggak lihat,luka diwajah mu itu bisa membuat orang takut!" Ucap Maya menunjuk luka Stevani.
"Tenang,Stevani pakek masker aja dan topi! Jadi mama jangan khawatir" Ucapnya meyakini Maya.
"Huh... baiklah!" Pasrah Maya dan langsung pergi meninggalkan Stevani yang berada di kamarnya.
Stevani langsung pergi berlari menuju kamar mandi,ia bersiap-siap dengan sangat cepat agar tidak terlambat sekolah.Ia memakai perlengkapan yang lengkap karena hari ini masih hari Selasa jadi semuanya harus lengkap.
Cukup lama ia bersiap-siap, akhirnya ia pun turun dari kamarnya dan siap untuk sarapan bersama mama dan papanya.
"Papa mana ma" Tanya Stevani yang sedang menuruni tangga.
"Kamu lama banget,jadi papa pulang dulu deh" Jawab Maya sambil mengambil piring kotor bekas makan suaminya.
Stevani pun duduk dikursi makan,ia mengambil roti dan mengoleskannya dengan selai kacang yang ia sukai.Stevani memakan roti itu dengan cukup lahap.
Maya mengambilkan susu hangat yang sudah ia buat kepada Stevani,ia terus menatap wajah anaknya itu. Ia cukup kasihan dengan nasib anaknya,selalu sial dan mendapatkan luka diwajahnya.
"Mama jangan menatapku seperti itu" Ucap malu Stevani sambil meneguk susu yang diberikan mamanya.
"Mama hanya kasihan lihat wajah kamu itu,kok bisa ya luka banyak banget" Keluh Maya.
"Apanya! kan cuman dikit doang ma" Bantah Stevani.
__ADS_1