Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 49: Vidio call


__ADS_3

...🍒Reading Books 🍒...


"Apa kamu bilang, kamu pikir muka aku jelek! Kamu kali mungkin tu!" Balas kesal Dimas.


"Sudah-sudah kalian ada apa nelpon aku?" Tanya Stevani dengan nada ketus.


"Kamu kagak kangen Ama aku Stev..." Ucap memelas Dimas.


"Gak!" Singkat Stevani.


"Hhhhh....rasain tu, emang enak ditolak mentah-mentah!" Ledek Aldo.


"Biarin! Yang pentin aku pede, dari pada kamu mie kuning!" Ledek Dimas.


"Ini gaya anjir, kamu gak tau trend apa!" Kesal Aldo.


"Aku matiin nih, berantem mulu" Kesal Stevani.


"Eh jangan!!!" Ucap secara bersamaan mereka


"Itu wajah kenapa kusut bat dah?" Tanya Aldo menatap wajah Stevani yang kusut.


"Capek aja!" Jawabnya singkat.


"Mau aku berbuat sesuatu biar kamu tidur..." Tawar Stevani.


"Aku nyanyiin dan kamu yang stell lagu oke" Ucap Dimas pada Aldo.


"Oke aku siap sih!" Balas Aldo.


"Gimana neng, mau gak!" Tanya Dimas.


"Baiklah, temanin aku sampai tidur oke!" Ucap Stevani dan mereka semua hanya mengangguk.


Stevani meletakkan ponselnya dengan penyagak ponsel. ia membaringkan tubuhnya dikasur dan menatap kearah ponsel yang sudah berdiri dekatnya. ia menghidupkan volume yang keras agar lebih bisa mendengar.


Aldo pun mulai menyetel lagu yang sesuai dengan yang diinginkan Dimas. Mereka semua memulai semuanya dengan baik dan lagu pengantar tidur itu membuat dirinya cepat terlelap di alam mimpi.


"Diamlah, gadis yang rapuh" Ucap Aldo.


"Ya, apa kita lakukan kesepakatan untuk menjaga gadis ini!" Ucap Dimas


"Akan aku pikirkan, Vidio call ini biar seperti ini sampai pagi nanti!" Ucap Aldo dan Dimas pun hanya mengangguk setuju.


Mereka membiarkan Vidio call itu tersambung, mereka secara bersamaan tertidur mengikuti langkah Stevani yang menuju alam mimpi.


☘️☘️☘️☘️


Keesokan paginya, Stevani mengeliat saat kesadaran dari tidurnya mulai terjadi. Ia membalikkan badannya dan membuka mata perlahan.

__ADS_1


Dan bertambah terkejutnya, ia melihat dua cowok ganteng tertidur dengan sangat indahnya. Ini adalah kali pertama ia melihat seorang pria tertidur pulas.


Stevani melihat jam di ponselnya dan ternyata hari masih subuh. Ia memutuskan mengecas ponselnya meski masih dalam keadaan menyalah.


Stevani segera turun dari ranjangnya dan pergi menuju kamar mandi, ia mulai membersihkan badannya dan melakukan kewajibannya.


Setelah ia selesai melakukan semuanya, barulah dia ingin membangunkan kedua pria yang tertidur terlelap.


"Hay kalian berdua bangun lah, apa kalian tak ingin sekolah" Ucap Stevani dengan sedikit berteriak.


Mereka berdua tidak menggubris sedikit pun, namun Stevani tak akan bakal diam. ia mulai melakukan aksinya dengan terus berteriak bangun.


Namun tetap saja tak ada yang bergerak dan akhirnya ia memutuskan memutar suara kuntilanak yang sangat keras. Dan seketika mereka langsung terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Hah....hah... suara apa itu!" Ucap mereka secara bersamaan.


"Bangunlah, jam berapa ini!" Ucap Stevani dengan wajah datar.


Mereka berdua tampak menatap Stevani cukup lama dengan tatapan bingung, sepertinya mereka lagi mengumpulkan Maya dan ingatan.


"Eh kamu Stev, jam berapa emangnya ini?" Ucap Dimas yang sudah sadar lebih dulu.


Sedangkan Aldo, tampak masih celingukan karena nyawanya yang masih melayang-layang.


"Sadarlah cepat, jam sudah menunjukkan 5:45 WIB! kalian gak solat dan sekolah apa?" Ucap kesal Stevani.


Stevani langsung mematikan sambungan Vidio call tersebut, ia segera memakai seragam sekolah dan turun untuk membantu sang mama.


Setelah lengkap semua yang ia butuhkan, Stevani pun turun untuk membantu sang mama menyiapkan sarapan pagi ini.


"Hay mom!" Sapa Stevani.


"Hay sayang, tumben bangun pagi?" Ucap Maya.


"Gak papa ma, ini kan demi bantu mama ku!" Goda nya.


"Udah ah, sekarang kamu sarapan dulu! Ini mama lagi bersihin dapur habis masak tadi!" Ucap Maya sambil sibuk membereskan barang sisa memasaknya.


"Baiklah ma! Tapi aku tunggu papa sama mama aja biar bareng sarapan..." Jelas Stevani.


"Papa mu sebentar lagi pasti keluar, kamu duduk lah disana dulu!" Ucap Maya.


"Siap ma!" Ucap Stevani.


Stevani pun segera menuju ke meja makan, ia menunggu kedua orang tuanya sambil bermain ponselnya.


"Morning baby!" Sapa Elang.


"Too dad!" Singkatnya.

__ADS_1


"Kamu gak makan dulu sayang, nanti kamu telat loh!" Ucap Elang.


"Iya nih mas, anak mu ini keras kepala nungguin kamu tuh!" Ucap Maya yang menghampiri mereka berdua dimeja makan.


"Yaudah, yok kita sarapan..." Ajak Elang dan Stevani pun segera mematikan ponselnya dan berfokus pada makanannya.


Setelah selesai sarapan, Stevani segera izin untuk pergi kesekolah.


"Ma pah Stevani pergi dulu ya!" Pamit Stevani dengan menjulurkan tangannya.


"Yaudah sayang, hati-hati ya" Ucap Maya sambil menerima juluran tangan stevani.


"Uang jajan kamu sudah papa kirim ya sayang!" Ucap Elang sambil menerima juluran tangan sang anak.


"Makasih pah!" Ucap Stevani dengan tersenyum.


Elang hanya membalas dengan anggukan dan senyuman, ia tau bahwa anaknya itu tidak akan meminta uang kecuali jika dirinya yang berinisiatif sendiri mengirimkannya tanpa bertanya sesuatu.


Elang sudah tau sifat anaknya itu, jika ia menanyakan soal mau uang atau tidak dan pasti yang dijawab tidak, dan hal itu membuat Elang harus berinisiatif sendiri agar uang kerja kerasnya dapat dinikmati sang anak.


Stevani pun pergi meninggalkan rumah dengan motor nya, ia kini lebih memilih memakai motor dari pada mobil, Karena hari ini adalah hari Senen.


Sesampainya ia di per-karangan sekolah, ia langsung dihampiri oleh dua cowok yang tak lain adalah Dimas dan Aldo.


Stevani sempat bingung, sejak kapan mereka bisa seakrab itu dan bahkan saat ini secara bersamaan menghampirinya.


"Hay...morning girl!!" Sapa Aldo.


"Kamu gak sekolah?" Tanya bingung Stevani.


Pasalnya Aldo bukanlah anak sekolahan sini melainkan anak sekolah lain yang datang karena sebuah acara.


"Aku sekolah ini mah!" Jawabnya santai.


"Hah...."


"Dia pindah sekolah." Jelas Dimas.


"Ngapain pindah?"


"Gabut, pengen cari suasana!" Ucapnya santai.


"Oh baiklah!" Datar Stevani dan langsung pergi meninggalkan kedua cowok yang dihadapannya itu.


Kedua cowok itu terus mengikuti Stevani, mereka tidak tau bahwa Stevani saat ini risih karena keberadaan mereka berdua yang membuat pusat perhatian, meski cuman dirinya saja selalu menjadi pusat perhatian tanpa mereka berdua.


"Pergilah atau kalian tau akibatnya!" Datar Stevani.


Mereka berdua pun hanya menurut saja dan hal itu membuat Stevani bingung namun merasa senang juga. Stevani pun kembali melajukan jalannya menuju kelasnya.

__ADS_1


__ADS_2