Setiap Langkahku

Setiap Langkahku
Bab 57: Toko kue 2


__ADS_3

...🍃 READING BOOK 🍃...


Stevani berjalan melewati jalanan yang ramai, ia berencana pergi ke toko mamanya untuk memastikan keadaan sang mama.


Ia membawa mobil dengan kecepatan sedang, menikmati suasana lalu lintas yang cukup ramai. Mobil saling bersahutan klason karena macetnya jalanan.


Kini jam sudah menunjukkan pukul 4 sore dan lalu lintas di Jakarta memang selalu terjadi kemacetan. Setelah 1 jam lamanya, akhirnya ia pun sampai di toko mamanya yang terlihat cukup ramai.


Mobil pun diparkirkan, ia perlahan berjalan memasuki toko sang mama dan bunda Eva.


"Assalamualaikum ma bun!" Sapa Stevani pada Maya dan Eva yang sibuk dengan para pelanggannya.


"Wa'alaikumsalam!" Jawab mereka berdua secara bersamaan.


"Eh kamu datang sayang, bagaimana dengan perusahaan kamu?" Tanya Maya yang cukup kaget saat melihat anaknya datang.


"Aku khawatir dengan mu, jadi mengharuskan aku untuk kesini!" Godanya dengan mata yang mengedip satu.


"Kebiasaan!" Pipi Maya merona. "Apa kamu mau makan kue sayang?" Tanya Maya mengambil kue yang sudah dipotong.


"Aku sih gak nolak!" Ujar Berlin menerima kue itu dari tangan Maya.


"Emangnya perusahaan apa yang kamu bangun sayang?" Tanya Eva yang memang tidak mengetahui berita itu.


"Hanya perusahaan kecil bunda, perusahaan entertainment!" Jawab Berlin sambil memakan kue yang diberikan sang mama.


"Sangat hebat, bunda sangat bangga dengan mu sayang!" Eva memeluk tubuh Stevani dengan erat dan tanpa sengaja air matanya terjatuh sendiri saat memeluk tubuh Stevani.


setelah cukup lama Eva memeluk tubuh Stevani, Eva tersenyum manis pada Stevani.


"Kenapa bunda menangis, apa ada ucapan Stevani yang menyakitkan?" Tanya khawatir Stevani mengusap air mata Eva.


Maya sibuk melayani para pelanggan, karena sebagai layanan kasir tidak ada yang menjaga dan mengharuskan dirinya menjaganya disaat kedua anak dan sahabatnya itu berbicara.


"Eh kok bisa ya! Sepertinya mata bunda kelilipan deh!" Ujar Eva mengusap bekas air matanya.


"Yaudah, bagaimana dengan kegiatan hari ini, apa semuanya lancar?" Tanya Stevani mengerutkan keningnya.


"Lancar kok sayang, lihatlah! padahal bunda dan mama mu baru buka, eh malah banyak yang datang!" Ucap Eva menunjuk sekeliling nya yang cukup ramai.


"Alhamdulillah, mungkin karena rezeki kalian berdua sangat lancar dan semoga toko ini sukses besar, amin...!" Ucap Stevani memanjatkan doa terbaik untuk toko mama dan bunda nya.


"Iya sayang, amin...!" Ucap Eva menerima doa yang terbaik dari Stevani dengan senang hati.


Stevani pun melanjutkan menikmati kue nya dan melihat beberapa pembeli yang antusias menanyakan dan membeli kue. Ia tersenyum bahagia saat melihat senyum mama nya dan bunda Eva yang lebar.




Kini toko sudah siap ditutup, Stevani menunggu di mobil sambil mengecek ponselnya. Ia menunggu sang mama dan bunda Eva untuk membereskan yang menurut mereka perlu dibawa.



Tak berselang lama Maya dan Eva datang dengan membawa masing-masing satu plastik hitam yang tak diketahui apa isinya.



"Maaf lama sayang!" Ujar Maya yang tak enak hati.



"Gak apa-apa ma, yaudah masih ada yang ketinggalan?" Tanya Stevani dengan menghidupkan mesin mobilnya.

__ADS_1



"Gak ada sayang, kalo kamu Eva?" Tanya Maya menatap Eva yang diam saja.



"Ah tidak ada kok, yaudah yok!" Ujar Eva yang tersenyum kecut.



Stevani hanya mengangguk dan mulai memundurkan mobilnya lalu berbelok sesuai jalur jalan lurus.



Disepanjang jalan, hanya keheningan yang ada. Maya tertidur didalam mobil sedangkan Eva hanya menatap jalanan di jendela mobil.



Stevani terus memperhatikan Eva dari kaca depan, terlihat Eva yang sepertinya memiliki banyak pikiran yang terus menatap jalanan yang dilewati.



"Apa yang kamu pikirkan bun, jangan banyak berpikir nanti kau akan stress!" Ucap Stevani memecahkan keheningan.



"Bunda hanya menatap jalanan saja kok sayang!" Jawab Eva mengalihkan pandangannya menatap Stevani.



"Baiklah, istirahat lah bunda sepertinya jalanan ini akan membutuhkan waktu setengah jam lagi!" Ucap Stevani yang tak ingin menanyakan hal yang tak ingin di ucapkan oleh Eva.




Stevani kembali fokus dengan jalanan, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada kedua wanita yang ia sayangi. Beberapa kali ia juga melihat wajah tenang kedua wanita paruh baya itu dengan senyum manisnya.



"Kalian adalah wanita kuat!" Gumamnya sambil tersenyum.



Tak berselang lama, mobil pun berputar memasuki kediaman rumah bunda Eva. Ia memberhentikan mobilnya di perantara rumah lalu keluar mobil.



Stevani berjalan menuju pintu dan menghidupkan bel rumah agar orang dalam rumah membukakan pintu depan



*Tinong.... tinong*



Bel dipencet 2 kali dan ia pun berlalu berjalan menuju pintu tengah mobil tempat bunda Eva dan mamanya berada.



"Bunda! Bunda! Ini sudah sampai..." Panggil Stevani sambil menggerakkan tubuh bunda Eva.


__ADS_1


Seseorang keluar dari dalam rumah, Gabriel mendekat ke arah Stevani dan menatap bundanya sedang tertidur pulas didalam mobil.



"Biar aku saja yang angkat bunda!" Ucap Gabriel yang mengambil alih terhadap tubuh bunda Eva.



"Baiklah" Pasrah Stevani membiarkan Gabriel mengangkat tubuh bunda Eva.



Mungkin karena kelelahan, bunda Eva pun tak merasakan bahwa tubuhnya melayang di angkat oleh Gabriel.



"Letakkan bunda baik-baik, aku izin pulang dulu kasihan mama soalnya!" Pamit Stevani dengan sedikit berteriak.



Gabriel hanya mengangguk dan berlalu membawa masuk bundanya kedalam rumah.



Maya sedikit terusik, ia terbangun dan perlahan membuka mata menatap anaknya.



"Eh mama, maaf! Stevani gak bermaksud membangunkan mama!" Ucap Stevani yang meminta maaf.



"Iya sayang, apa bunda Eva sudah masuk rumah?" Tanya Maya menatap sekelilingnya.



"Sudah ma, tadi bar..."



"Makasih sudah anterin bunda, apa kah bisa mengendarai mobil?" Ujar Gabriel yang datang menghampiri Stevani. " Eh Tante Maya udah bangun!" ucapnya lagi saat melihat Maya bangun.



"Iya sayang, bagaimana dengan bunda mu, dia cukup lelah menjaga toko hari ini!" Ucap Maya.



"Sudah tidur di kamarnya tan!" Jawab Gabriel sambil tersenyum tipis pada Maya.



"Kita pulang, titip salam pada bunda Eva!" Ujar Stevani.



"Yaudah, makasih tumpangannya!" Ucap Gabriel.



Stevani pun hanya mengangguk, ia pun menutup pintu mobil yang ada mamanya, ia pun memutari mobilnya dan masuk ke dalam tempat pengemudi mobil.


__ADS_1


Stevani mulailah melajukan mobilnya kembali keluar dari perantara rumah bunda Eva dan kembali menuju kerumahnya kembali.


__ADS_2