
...🍒Reading Books 🍒...
Stevani terus berjalan, disini tidak ada satu orang pun yang peduli karena mereka sibuk untuk mengurusi setiap. Namun satu orang malah menghampirinya.
"Apa yang kau cari nona?" Tanya seorang pria.
Stevani pun berbalik, ia menatap pria yang ada dihadapannya. "Oh tidak ada" Gugup Stevani.
"Anda seperti orang yang bingung, jika anda mau memberitahu saya! mungkin saja saya bisa membantu!" Ucap pria tersebut.
"Tak perlu! Aku hanya ingin bertanya, kenapa semua orang disini?" Ucap Stevani menatap seluruh orang yang sibuk membereskan barang-barangnya.
Sebenarnya dirinya sudah tau namun ia hanya kepo dengan jawaban yang akan diberikan oleh pria tersebut.
"Apa anda tidak lihat berita tadi! perusahaan ini sudah bangkrut dan semua karyawan dipecat" Jawab pria tersebut.
"Baiklah, saya pergi dulu!" Acuh Stevani dan langsung pergi meninggalkan pria tersebut.
"Siapa namamu nona? Saya tidak pernah melihat kau disini!!!" Tanya nya sambil berteriak.
"Stevani!!" Jawab Stevani.
Pria tersebut hanya menatap kepergian Stevani dan ia akan mengingatkan gadis itu sebagai orang yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
☘️☘️☘️☘️
Kini Stevani sudah berada di rumah bunda Eva, ia berencana akan menjemput sang mama untuk segera pulang.
"Assalamualaikum" Salam Stevani sambil menghidupkan bel.
Belum ada jawaban, namun beberapa saat pintu pun terbuka dan terlihatlah seorang wanita paruh baya yang diyakini Stevani bahwa itu adalah pembantu bunda Eva.
"Wa'alaikumsalam! Ini non Stevani kan! Ayo masuk non" Ucap pembantu itu dengan antusias.
"Makasih bik, mama masih ada kan bik?" Tanyanya sambil masuk kedalam rumah.
"Nyonya Maya yang non maksud? oh itu mah masih ada non!" Ucapnya dengan tersenyum lembut.
Stevani hanya mengangguk saja, ia menatap sekeliling melihat-lihat yang mungkin saja menarik hatinya. Saat Stevani lagi melihat sekitar, Gabriel tiba keluar dengan celana pendek tanpa atasan, sehingga terlihatlah kulit putih nan bersih itu.
__ADS_1
Stevani langsung memalingkannya, ini baru pertama kalinya ia melihat langsung bentuk perut yang seperti itu dan ia selama ini hanya melihat dari sebuah buku majalah.
"Sepertinya nona manis datang kembali!" Goda Gabriel dengan langsung menghampiri Stevani.
Stevani berusaha untuk tetap tenang, ia disini harus memperlihatkan Stevani yang datar bukan Stevani yang mudah salting hanya karna sebuah perut kotak-kotak.
"Stevani! dan lain kali jangan menyapaku tanpa ada atasan" Ucap Stevani yang berusaha sedatar mungkin.
"Oh benarkah, apa tubuh ku ini yang bikin nona marah!?" Ucapnya dengan suara yang menggoda.
Gabriel mendekati Stevani yang terdiam ditempat, ia mendekatkan wajahnya perlahan-lahan dan terlihat wajah Stevani yang sudah sangat menegang. Ia pun langsung menggigit telinga Stevani dan pergi.
"Tuan muda! Anda membuat nona Stevani kaget!!" Tegur pembantu itu.
"Aku cuman ngomong aja kok bik! Jadi kalo bikin Stevani kaget, maafkan saja lah!!" Ucap Gabriel begitu saja.
Stevani tampak kesal, sepertinya laki-laki yang tadi sedang main-main samanya, ia akan membalas semuanya pada anaknya bunda Eva itu.
"Ayo non, biarin aja tuan muda! Ia memang seperti itu!" Ucap pembantu itu dengan menarik lengan Stevani pelan.
"Apa bibi dekat dengan anaknya bunda Eva!" Ucap Stevani bingung.
"Berarti bibi adalah baby sister nya tuan muda itu!" Ujar Stevani.
"Iya, dan setelah nyonya sembuh! Bibi malah dijadikan kerabat namun bibi menolak dan ingin menjadi seorang pembantu saja" Jelasnya
"Bibi sangat beruntung" Ujar Stevani.
"Ya bibi sangat beruntung, dimana bibi tak punya anak dan malah dikasih kepercayaan untuk menjaga seorang bayi!" Ucapnya dengan mata yang berbinar-binar.
"Terus ayahnya Gabriel kemana bik?" Tanya Stevani dan seketika itu wajah bibi itu langsung murung.
"Tuan besar dia....
"Eh kamu sudah sampek sayang, sini yok rasain kue buatan bunda dan mama kamu" Ucap Eva yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Eh bunda, apa kabar bun?" Tanya Stevani dengan langsung bersalaman.
"Baik sayang, apa kamu sudah lama?" Ujar Eva.
__ADS_1
"Belum kok bun, aku baru saja sampek!" Balas Stevani dengan tersenyum.
"Yaudah yok kedapur, kita habisin kue bersama-sama!" Ajak antusias Eva yang langsung menarik Stevani.
Stevani hanya mengikuti langkah Eva menuju dapur. Terlihat disana sang mama sedang sibuk menghias kue dengan berbagai bentuk.
"Eh kamu sudah datang sayang, sini cobain dong kue mama dan bunda! enak tau!" Ucap maya
"Makasih ma!" Ucap Stevani mengambil satu potong kue.
"Enak gak sayang?" Tanya Maya yang begitu kepo dengan jawaban sang anak.
Stevani hanya diam, ia sengaja ingin berlama-lama agar rasa kepo sang mama besar.
"Is kamu ditanyain malah gak jawab!" Kesal Maya.
"Hehehe... enak kok ma, emangnya kenapa?" Tanya bingung Stevani.
"Mama rencananya mau buka toko kue sama bunda, gak papa kan sayang?" Ucap Maya yang seakan meminta persetujuan.
"Boleh kok ma! asal jangan terlalu capek dan ingat! harus tanya papa dulu" Ucap Stevani mengedipkan satu matanya sambil menjilat tangannya yang terkena krim.
"Siap sayang, itu mah akan mama lakukan!" Antusias Maya. "Tapi enak gak nih kue mama?" Tanya Maya yang belum yakin dengan rasa kue nya.
"Sangat enak!!!" Ucap Stevani dengan mengacungkan jempolnya.
Maya dan Eva tampak senang, mereka terus tersenyum melihat kue hasil buatan mereka. Meski mereka tau rasanya gimana tapi mereka ingin mendengar pendapat orang lain tentang kue mereka salah satunya adalah Stevani.
"Yaudah habisin sayang, kamu harus makan banyak! lihatlah anak gadis itu gak boleh terlalu nampak tulang, nanti kamu dibilang kurang gizi lagi!" Ucap Eva bercanda.
"Iya ma! kayak tengkorak berjalan!" Ucap Gabriel yang langsung mengambil satu potong kue.
"Apa Lo bilang! Jangan ngasal deh!" Kesal Stevani.
Gabriel hanya fokus dengan kuenya ia tidak menghiraukan colotehan Stevani dan juga bundanya yang membela Stevani. Gabriel mendekat kearah kue lagi, mengambil satu potong lagi.
"Dasar cerewet!" Ucap Gabriel dengan mencoleknya krim kue kewajah Stevani.
"GABRIEL!!!!" Teriak Stevani yang kesal.
__ADS_1
Gabriel langsung berlari sedangkan Stevani langsung mengejar Gabriel untuk membalasnya. Eva dan Maya hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat tingkah kedua anak mereka.