
...๐Reading Books๐...
Di jam istirahat, Stevani memutuskan untuk tetap berada di dalam kelas. Saat ini ia mengalami yang namanya mager (males gerak).
Ia meletakkan kepalanya dimeja dengan menatap kearah jendela. Ia hanya melihat beberapa orang yang bermain di lapangan.
"Hay girl sendirian, yok ikut aku deh!" Ajak Aldo yang secara paksa menariknya.
Stevani dengan terpaksa mengikuti kemana arah yang dibawa oleh Aldo, bahkan ia tak ada membantah sedikit pun.
"Sampek deh, coba lihat sana!" Tunjuk Aldo melepaskan tangan Stevani.
"Apaan sih, sakit tau!" Kesal Stevani memegang tangan nya itu.
Stevani terus menatap tangannya yang memerah karena genggaman tangan Aldo yang cukup membuat tangannya sedikit memar.
"Emangnya kenapa?" Bingung Stevani.
Bagaimana tidak bingung, Aldo menariknya hanya cuman memperlihatkan Dimas sedang berbicara dengan seorang gadis, menurutnya itu adalah hal yang tak penting.
"Kamu lihat Dimas! Dia sok sok an ngejar loh, eh malah deketin cewek lain!" Ucap Aldo yang pura-pura merasa kesal.
"Biarkan saja itu bukanlah urusan aku!"Acuh Stevani yang langsung berjalan menjauh.
"Eh tunggu, kamu kok cuek aja sih! Bukannya kesal melihat Dimas orangnya kayak gitu!" Ucap Aldo menyetarakan langkah nya dengan Stevani.
"Terus aku harus ngelakuin apa yang kau bilang gitu..." Acuh Stevani yang mempercepat langkahnya.
Aldo hanya diam menatap punggung Stevani, sampai satu tangan memegang bahunya dan tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu seharusnya tak berbuat seperti itu bro..." Ucap Dimas yang langsung pergi meninggalkan Aldo yang terdiam ditempat.
Tak berselang lama ia termenung ditempat, Aldo pun pergi menyusul Dimas ke kelasnya.
๐๐๐
Bel pulang sekolah telah berbunyi, Stevani segera berjalan menuju parkiran.
Namun siapa sangka di tengah jalan Stevani malah dihadang oleh segerombolan siswi. Stevani hanya menatap datar kearah mereka.
Saat ini, ia cukup malas untuk meladeni orang yang mencari masalah dengannya.
"Kamu yang bernama Stevani itu kan?" Tanya salah satu siswi yang berdandan menor.
Stevani hanya diam, ia menatap dengan wajah yang datar.
Semua orang yang berada disana langsung menepi, mereka semua tak ingin berurusan dengan seorang Stevani.
__ADS_1
"Punya kuping kan, denger kagak!!" Bentak seorang siswi yang tak kalah penampilan nya.
Stevani tetap acuh, ia pun kembali melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan tatapan tajam dari siswi yang menghadangnya.
Gadis itu tak ingin kalah, ia langsung menarik bahu Stevani dengan kasar. Ia menatap dengan tajam mata Stevani yang tampak datar.
"Aku ngomong sama kamu!" Geramnya.
"Anda siapa?" Remeh Stevani dengan senyum miringnya.
Semua orang sempat menggigil mendengar ucapan Stevani yang seakan mengatakan bahwa mereka harus berhati-hati.
"Kamu jangan nguji kesabaran aku ya, aku Sisca Yofie dan aku adalah anak kepala sekolah SMAN 2 Garuda" Geramnya dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Sekolah sebelah, apa sekolah ini begitu diberikan leluasa untuk sekolah lain kesini!" Ucap Stevani dengan menatap tajam.
"Pergilah, sebelum kalian habis ditangan aku!" Peringatan Stevani dengan membalikkan badannya untuk kembali pergi.
Gadis itu tampak kesal, ini adalah kali pertama ia yang diperlakukan seperti ini. Ia tak akan tinggal diam, dengan geram ia langsung berlari dengan melayangkan sebuah kepalan tinju kearah Stevani.
Namun hal itu tidak semudah itu, Stevani langsung menghindar dan membuat lawannya jatuh sendiri tanpa ia sentuh.
"Aww...tangan ku!!!" Teriak Sisca.
Bagaimana tidak, tangannya yang berencana sekuat tenaga dilayangkan untuk Stevani, kini malah bertimbal balik menjadi menopang berat badannya dilantai.
"Lain kali jangan berurusan sama aku atau bukan hanya tangan bahkan tulang kamu yang lain bisa aku hancurin!!" Ucap Stevani dengan senyumnya yang smrik dan langsung pergi meninggalkan mereka semua.
Stevani melanjutkan jalannya menuju parkiran, saat ini ia tidak mempedulikan tatapan aneh semua orang saat ia melewati jalan didekat mereka.
"Hay Stevani!!" Teriak seseorang yang bersuara cempreng.
Semua orang menatap kearah asal suara, mereka semua sempat bingung dengan keadaan ini, pasalnya seorang siswi dengan akrabnya menyapa Stevani yang kejam.
"Jangan berteriak!!" Kesal Stevani.
"Kamu kagak kangen sama aku apa..." Ucap memelas Husna.
"Gak!" Acuh Stevani.
"Masak enggak sih, aku bela-belain loh pindah kesini demi kamu! Masa kamu gak hargain sih!" Kesalnya dengan muka memerah menahan emosi.
"Emangnya aku suruh!" ucap Stevani datar dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Yang bener aja sih! kamu masa gak kangen aku, aku kesini demi kamu loh Stev!" Ucap Husna yang meminta kembali penjelasan.
"Gak!" Acuhnya dan langsung naik ke atas motornya.
__ADS_1
Stevani tak mempedulikan Husna yang memasang wajah cemberut. sebenarnya ia tak tega, tapi karena ia lebih suka melihat wajah Husna yang seperti itu, jadi ia terus melakukan nya.
"Naiklah.." Ajak stevani tetap dengan wajah datarnya.
Dengan muka yang merenggut, Husna naik motor Stevani. Ia masih harus mempertahankan ngambeknya agar Stevani tau bahwa dirinya mintak dibujuk.
Stevani pun melajukan motornya keluar per-karangan sekolah, ia membawa Husna menggunakan motornya.
"Stevani!! Kita mau kemana?" Tanya Husna dengan sedikit berteriak.
Stevani tetap diam, ia lebih memilih tetap fokus pada jalanan dari pada meladeni ucapan Husna yang mungkin akan terus berlanjut.
Husna pun hanya mampu diam, ia sudah beberapa kali bertanya namun tetap saja Stevani tak menjawabnya.
Motor pun berhenti disebuah cafe ala anak muda. Husna hanya menurut, ia mengikuti langkah Stevani layaknya seorang anak kecil.
"Kita makan dulu!" Ucap datar Stevani.
"Baiklah" Patuh Husna tanpa ingin bertanya lagi.
Pelayan cafe pun datang menghampiri mereka, Stevani dan Husna segera memesan makanan yang mereka inginkan.
Tak berselang lama pesanan mereka datang dan segeralah Stevani dan Husna memakan makanan yang sudah tersusun.
"Cepatlah habiskan!" Ucap Stevani datar.
Husna hanya mengangguk, layaknya seorang anak kecil yang penurut, Husna saat ini selalu mengikuti apa yang dikatakan oleh Stevani.
Setelah mereka selesai makan, Stevani dan Husna segera pergi meninggalkan cafe tersebut dan melanjutkan perjalanan mereka kembali.
"Dimana rumah kamu?" Tanya Stevani.
"Di jalan kenangan no 12" Jawab Husna.
Stevani pun menambah kecepatan motornya, ia pun melajukan motornya menuju rumah Husna.
Sesampainya mereka dirumah Husna, Stevani hanya menunggu Husna turun dari motornya tanpa berniat untuk singgah sebentar dirumah mewah itu.
"Singgah lah dulu!" Ajak Husna.
"Aku masih ada urusan!" Ucap Stevani menolak.
Terlihat wajah Husna yang murung mendengar penuturan Stevani yang terus menolaknya, apa Stevani benar-benar melupakan sahabatnya ini.
"Tu muka jelek tau kalo kayak gitu, aku memang ada urusan dan lain kali singgah!" Ucap Stevani dengan senyum yang melekat diwajahnya.
Dengan senang Husna pun memeluk Stevani dan beberapa saat baru melepaskan nya. Husna menunggu Stevani sampai pergi atau bahkan sampai motor Stevani tak terlihat lagi dimata nya.
__ADS_1