
"Kau tanya kenapa? Sudahlah. Ayo berteman denganku dan kalahkan mereka." Lanjut Naufal.
Zulfi meraih tangan Naufal, mereka berdiri bersama-sama untuk menghadapi para berandalan yang akan mengeroyok mereka berdua.
"Hei lihat, bukankah itu temanmu?" Tanya Naufal sembari menunjuk 2 orang yang telah di kalahkan nya, tak lain 2 orang itu adalah Rio dan Yanto.
"Rio dan Yanto?! Kenapa?!" Zulfi berteriak kepada Rio dan Yanto. Sebelumnya, yang menyarankan Zulfi untuk bertarung dengan Naufal adalah mereka. Tetapi sekarang, mereka berhianat kepada Zulfi.
"Kekeke.. Kamu pikir kami mau bertarung dengan adil? Gak!" Pekik Rio yang terdengar sangat berisik.
Mata Zulfi terlihat menyipit, dahi nya mengernyit dan mulutnya menyeringai. Zulfi akhirnya berteriak keras sampai Naufal menganggap nya sudah gila.
Zulfi menoleh ke arah Naufal, dan berkata"Hei Naufal, ayo serang mereka." Naufal mengangguk mengisyaratkan bahwa ia setuju dengan usul Zulfi.
Semua berandalan itu berlari ke arah mereka berdua, Naufal bersiap dan berkata kepada Zulfi "Boxing junior, jangan dekat dengan ku. Kita harus berpencar." Usul Naufal.
Zulfi mengiyakan usul Naufal dan berlari ke arah lain, Zulfi mengatur jarak dari Naufal, yaitu sekitar 7 meter. Zulfi di serang secara membabi-buta oleh para berandalan itu, saat itu Zulfi hanya bisa menahan serangan mereka yang menggunakan senjata tumpul.
Berbeda dengan Zulfi, Naufal berhasil mengalahkan beberapa berandalan itu termasuk Rio dan Yanto. Naufal berlari dan melompat melakukan serangan 1080° Kick. Ternyata, Slot kedua bela diri nya adalah Taekwondo.
Zulfi yang tak mau kalah, Ia membalikkan salah satu tongkat baseball dan melemparkannya sehingga membuat para berandalan terpecah. Zulfi kembali melakukan Weaving terus-menerus, Ia menyerang semua berandalan itu seperti saat menyerang Naufal.
Di sisi lain, Rain dan Ridwan terus bertarung dengan sengit. Ridwan adalah petarung jalanan yang sangat ahli, saat melihat sebuah balok kayu saja, Ia langsung menghantamkannya ke kepala Rain.
Rain yang tak sempat menghindar, membiarkan serangan itu mengenainya. Pelipis Rain mengucurkan darah, tapi Ia tidak peduli akan hal itu. Rain langsung menyerang Ridwan, Rain melesatkan tangannya ke arah ulu hati Ridwan, lalu Ia memutar dan menghantam serangannya sehingga membuat Ridwan terpental sejauh 10 meter.
Ridwan kembali berdiri dan berlari ke arah Rain. Namun, usaha Ridwan harus gagal ketika dagu nya ditendang oleh Rain. Ridwan terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Ini yang namanya petarung jalanan sejati?"
Kembali ke pertarungan Naufal bersama Zulfi, disana terlihat Zulfi berdiri gagah di tengah tumpukan berandalan yang Ia kalahkan. Di sisi lain, terlihat Naufal yang menginjak-injak kepala Rio. Lalu Naufal menumpuk-numpuk berandalan yang Ia kalahkan. "Berapa lagi yang tersisa?" Tanya Naufal sembari menjilat darah di tangannya.
"Kurasa tinggal 10 lagi." Zulfi menunjuk berandalan yang tersisa. Semua berandalan itu ketakutan setelah melihat kemampuan Zulfi dan Naufal.
__ADS_1
"Hei, kau belajar Taekwondo juga?" Tanya Zulfi
"Iya, aku sedikit tertarik dengan Taekwondo" Jawab Naufal. "Kukira kau lebih lemah daripada senior itu, ternyata tidak." Ungkap nya
"Benarkah itu? Aku merasa akan kalah jika melawannya." Timpal Zulfi.
"Sudahlah, ayo kalahkan sisanya. Aku 5, Kau 5." Usul Naufal.
Mereka berdua pun langsung maju untuk mengalahkan berandalan yang tersisa. Akhirnya, semua berandalan telah dikalahkan. Lalu, seorang gadis berlari dan langsung memeluk Naufal, gadis itu adalah Fanni.
"Naufal, kamu gak apa-apa?" Fanni memeluk erat Naufal bak lilitan ular, Fanni meneteskan air mata dari matanya. Bagaimana Ia tidak menangis, seluruh tubuh Naufal terlihat sangat kacau.
"Fanni?" Naufal melepaskan pelukan Fanni seraya berkata, "Aku gak apa-apa Fanni, lecet dikit aja." Ungkap Naufal.
Fanni mengernyitkan alisnya, matanya di banjiri air mata dan mulutnya mengkerut. Ia menangis seraya berkata "Gak apa-apa gimana? Itu kepala kamu berdarah... Hiks... Hiks." Isak tangis Fanni.
Naufal tersenyum, Ia baru menyadari kalau orang yang Ia jaga, ternyata sangat perhatian kepadanya. Naufal mengelus-elus rambut Fanni, "Fanni, aku kan kuat. Jadi, kalau aku bertarung, sudah pasti menang." Ucapnya.
Naufal mengusap air mata yang membanjiri Fanni, Zulfi yang melihat itu sedikitnya merasa iri karena pacarnya tidak perhatian seperti Fanni.
"Ahh tidak, hahaha." Jawab Zulfi
Dari sudut lain, datang Rainala yang menyeret Ridwan di area rambut. Naufal dan Zulfi terkejut, mereka baru teringat, kalau Ridwan tidak mereka lawan.
"Rain, k-kau yang pukulin dia?" Tanya Naufal dengan sorot mata setengah terkejut.
"Rainala Devan, orang yang menghabisi seluruh preman di SMP-nya." Sela Zulfi.
"Benarkah?! Anjir, Rain kau punya kenangan bertarung yang hebat." Sahut Naufal dengan cahaya bersinar di matanya.
Wajah Rain memerah, Ia lalu berbalik dan berkata, "Sudahlah, i-itu hanya masa lalu." Ungkapnya. "Oh iya, si Ridwan ini mau di apakan?" Tanyanya.
Fanni menyela, "Ayo pulang aja. Naufal, ikut Aku ke rumahku." Sela Fanni sembari menatap Naufal dengan tajam.
"Ta-tapi Fan." Naufal tak berani beralasan ketika melihat Fanni cemberut sembari menatapnya. "Lucunya...." Batin Naufal.
__ADS_1
Zulfi pamit duluan karena Ia ada janji dengan pacarnya, begitupun Rain yang pamit ingin berolahraga. Tinggal tersisan Naufal dan Fanni di tempat itu, lalu Naufal di bawa oleh Fanni ke gerbang masuk sekolah.
Setelah itu, sebuah mobil berhenti di depan mereka. Mobil itu adalah jemputan Fanni. Fanni menyeret Naufal masuk, lantas Ia menyuruh supir untuk berangkat ke rumahnya.
...~...
Sesampainya disana, Fanni mengajak Naufal masuk ke rumahnya. Naufal tercengang melihat rumah Fanni yang terlihat seperti istana, disana juga banyak dekorasi-dekorasi indah dan mahal.
Saat masuk ke dalam, sudah ada Pak Bambang yang memasang wajah kesal. Pak Bambang menatap tajam Naufal, Dia menyuruh Naufal untuk duduk karena Ia punya sesuatu untuk dibicarakan.
"Nak Naufal, kenapa kamu pulang dengan anakku? Bergandengan tangan juga." Tanya Bambang dengan senyum menyeringai.
"A-anu Pak, tadi say-" belum sempat menjawab, Pembicaraan Naufal di sela oleh Bambang.
"Kamu habis berantem ya?" Tanya nya.
"Iya pak, saya habis berantem." Jawab Naufal.
"Pantas saja. Fanni tidak apa-apa kan?" Lanjut Bambang.
"Tidak pak, saya bertarung karena janji, bukan karena Fanni dibully." Jelas Naufal
"Nak, kamu sudah seminggu lebih mengawal Fanni, jadi.... Ini." Bambang menyodorkan sebuah amplop coklat berisi uang, "Nominalnya 100 juta rupiah." Ungkapnya.
"Apa? Pak, saya baru seminggu jagain Fanni. Seharu-" Mulut Naufal di tutup oleh amplop tadi.
"Terima saja." Ucap Bambang.
Lalu, dari tangga muncul Fanni yang langsung menyuruh Naufal untuk Naik, "Fal, ayo sini masuk ke kamar ku." Ajak Fanni.
"Hah?! Ke kamar mu? Nggaklah." Tolak Naufal dengan pipi yang memerah.
"Sudahlah, ayo kesini aja!" Kekeh Fanni.
Naufal akhirnya pergi bersama Fanni. Di belakang Bambang tersenyum dan bergumam, "Andai kalian tidak berpisah saat itu, kalian pasti sudah sangat dekat."
__ADS_1