
Rizki menaruh kembali surat itu, dan memakai balsem yang ada ke tubuhnya. Dia tersenyum, dan menoleh ke belakang. Rizki seolah tau pertarungan siapa yang akan tampil selanjutnya.
"Bukankah sudah giliran mu, Dani? balas dendam ke orang gila tato itu." Gumamnya.
.........
Beralih ke arena kembali, sudah 15 menit berlalu sejak pertarungan antara Rizki dan Rengga. Kini sudah ada dua orang baru yang berdiri di arena.
Arena menjadi sangat berantakan akibat pertarungan-pertarungan sebelumnya, tembok dan lantainya banyak yang berlubang akibat benturan ataupun tertabrak petarung. Karena beberapa pertarungan dahsyat tadi, banyak peserta mengundurkan diri, dan memilih untuk kehilangan hadiah daripada harus terluka berat.
"BAIK PARA PENONTON APA KALIAN SIAP?!"
Pembawa acara berteriak, dan dibalas oleh sorakan para penonton. Kali ini mereka sangat menantikan sebuah pertarungan.
"YAH, KALI INI KITA KEDATANGAN DUA SOSOK PEMUDA YANG SIAP BERTARUNG LAGI. DAN APA KALIAN TAU? SEORANG DARI KRU TWENTY SEVEN BERTARUNG KEMBALI!!!"
Semua penonton bersorak kembali, lebih semangat. Lalu lampu padam, dan menyala kembali, menyorot kedua pemuda yang akan bertarung.
"Di sisi kanan! Santoso Supriyadi, aku tak begitu mengenalnya tapi dia ada di peringkat 7 Top Rank!"
Banyak orang yang bersorak untuk Santoso. Dia memakai tank top, dan menunjukkan seluruh tato yang ada di tangannya, tidak bahkan sekujur tubuh, Santoso adalah maniak tato. Bahkan dia disebut-sebut sebagai prasasti berjalan.
"Di sisi kiri! Anggota kru twenty seven, sang tuan muda Dani Singjaya. Nama yang begitu elite, ya!"
Semua penonton bersorak untuk Dani, terlebih setelah mereka melihat pertarungan Rizki. Pertarungan itu membuat mereka percaya bahwa kru twenty seven sangatlah kuat.
Dani dan Santoso saling berhadap-hadapan. Pandangan Dani dipenuhi oleh amarah yang menggebu-gebu. Detak jantungnya berdetak lebih kencang.
"Akhirnya aku menemukanmu, maniak tato." Ucap Dani. Kemudian melompat-lompat, melakukan taekwondo stance.
"Eh, kau kan..." Santoso kebingungan, dan mencoba mengingat-ingat siapa lelaki yang ada di depannya. "Ah! si bocah taekwondo yang ku buat cedera itu, ya?" Ucap Santoso dengan nada yang mengejek, dan senyum yang menyeringai
"PERTANDINGAN... DIMULAI!"
"Oi," Dani melompat, dan berputar-putar di udara, "apa kau yang membuat 'dia' terluka?" Tanyanya. Kemudian melesatkan tendangan kuat ke Santoso.
Beuk!
Tendangan itu mengenai Santoso, namun berhasil di tahan. Bekas tendangan itu mengeluarkan asap. Kemudian Santoso melompat mundur, menjaga jarak dari Dani.
"Tendangan yang sangat kuat, tapi...," Santoso menerjang Dani, dan menangkap tubuhnya. Lalu menabrakkan ke tanah.
__ADS_1
Krakk!
"Kau masihlah lemah!" teriak Santoso. Sesaat kemudian ia menyadari, bahwa ia tidak menangkap tubuh Dani, malahan menabrakkan dirinya sendiri ke lantai.
"Eh?"
Dani yang sebenarnya ada di depan Santoso, langsung melesatkan tendangan ke atas. Tubuh Santoso terpental ke belakang, darah bercipratan dari wajahnya.
"Kau... Kau yang membuat Alisa terluka!" Teriak Dani. Kemudian ia melakukan kombo tendangan taekwondo saat tubuh Santoso masih di udara, kemudian menendangnya sampai menabrak sisi lain arena. Tembok hancur dibuatnya.
Santoso merintih sakit, namun tak lama ia bangkit kembali. Kini wajahnya mulai terlihat aneh, begitu menyeramkan. Ekspresi kecewa dan senang bercampur aduk di wajahnya. Sangat menyeramkan.
"Sial..."
"Badanku jadi panas nih!" Teriak Santoso kemudian berlari sembari memegang pecahan tembok. Ia memukulkan pecahan batu itu ke kepala Dani, dan langsung membuat Dani terkapar di lantai.
Semua penonton tersentak akan apa yang dilakukan oleh Santoso, seharusnya di arena tak ada objek yang bisa dijadikan senjata, namun Santoso mematahkan fakta itu.
Dani yang terkapar malah dipukul bertubi-tubi oleh Santoso menggunakan pecahan tembok itu, bunyi tulang retak sampai terdengar oleh para penonton.
"Aku ini petarung jalanan, semua yang ada disekitar ku bisa menjadi senjata, Bangsat!" Teriak Santoso, masih memukuli Dani.
Dani melompat ke udara, dan menendang pecahan tembok tersebut ke wajah Santoso sampai kepalanya menabrak tembok. Mulut Santoso tersumbat oleh pecahan tembok itu.
Dani merasakan sakit yang sangat amat luar biasa pada tubuhnya, dia mundur beberapa langkah sembari memegang bagian tubuhnya yang terluka. Dalam keadaan itu, tiba-tiba ia teringat kejadian saat ia dibuat cedera oleh Santoso.
Saat itu, Santoso dengan sengaja merusak paha Dani sehingga membuatnya harus tertidur di rumah sakit beberapa hari.
Kini Santoso dengan cepat bangkit kembali, dengan tangannya ia sudah bersiap memukul Dani. Karena saat ini Dani sedang lengah, ia terkena pukulan Santoso sampai terhempas beberapa meter. Lalu kemudian Santoso mengejar Dani, kemudian menarik rambutnya lalu menghantamkannya ke lantai.
Dengan cepat Santoso langsung melancarkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Dani. Darah bercipratan kemana-mana.
Bugh! Bugh! Bugh!
Wajah Santoso nampak menyeramkan dengan senyum lebar dan mata yang melotot. Namun Santoso tak menyadari sesuatu yang sangat berbahaya sudah berada di belakang kepalanya.
Naufal yang melihat dari kejauhan pun juga tampak tersenyum dengan apa yang terjadi di pertarungan tersebut.
"Dani sudah tak memerlukan kebangkitan."
"Itu karena... Dia adalah kebangkitan itu sendiri!"
__ADS_1
Benar saja. Kaki kanan Dani yang sudah berada dibelakang kepala Santoso, langsung menghantamnya dengan keras hingga terjatuh ke lantai.
Kraaakkk!
Rambut Dani terangkat, matanya terang berwarna emas. Wajahnya nampak santai seperti tak ada beban. Kemudian lelaki itu menarik kaki Santoso dan melemparkannya ke udara.
Dani melompat, dan melakukan banyak kombinasi teknik taekwondo di udara. Semua penonton nampak terpukau dengan gerakan indah yang dilakukan oleh Dani.
Kemudian Dani menendang jatuh Santoso ke bawah, menyebabkan lantai hancur. Dengan perasaan yang makin menggebu-gebu di hatinya, Santoso bangkit kembali dan langsung menyerang Dani.
Sungguh serangan yang sia-sia. Pukulan maupun tendangan yang Santoso lancarkan sama sekali tak ada yang mengenai Dani, malah ia terlihat menyedihkan karena terus di tendang oleh Dani sembari menghindar.
[Anggota Dani Singjaya saat ini sedang dalam mode Pure Serious]
Benar-benar tenang, itu lah dua kata yang bisa menggambarkan keadaan Dani. Setiap tendangan yang dilesatkan nya selalu tepat sasaran, dan tak pernah meleset sekalipun.
Santoso benar-benar di buat tak berdaya oleh Dani. Kedua tangan Dani masuk ke dalam saku celananya. Melancarkan serangan tanpa menggerakkan tangan sedikitpun.
Saat ini Santoso benar-benar tak berdaya, tubuhnya yang lemas berdiri namun sudah tak kuat untuk memberikan serangan. Darah bercucuran dari wajahnya.
"Kau tau, gadis itu sangat kesakitan. Lebih dari yang kau rasakan saat ini," Dani bicara, kemudian mengangkat kaki kanannya.
"Bahkan jika kau mati pun itu tak akan membayar perbuatan biadab mu itu."
Dani menendang kepala Santoso dengan teknik ap chagi, kemudian dengan kaki kanannya terus menendang wajah Santoso bertubi-tubi.
Tendangan beruntun itu terus melesat selama 5 menit tanpa berhenti. Dan kemudian saat berhenti, Santoso sudah tak sadarkan diri dan tergeletak ke lantai.
Setelah itu, dengan kuat Dani menendang paha Santoso dengan ujung belakang kakinya.
Krakkkkk!!
Bisa dipastikan bahwa tulang paha nya patah.
"P-Pemenangnya adalah DANI SINGJAYA!"
Semua penonton langsung bersorak bahagia akan kemenangan Dani. Bahkan para tamu VIP juga sangat gembira akan kemenangan itu. Ada seorang wanita misterius juga yang mengeluarkan air mata ketika menyaksikan kemenangan Dani, kemudian pergi.
Dani mendongak ke atas sembari menutup matanya. "Ini belum cukup untuk menebus dosaku, kan, Alisa?" Ucapnya sembari tersenyum.
...##Sistem Raja Pecundang##...
__ADS_1