
Singkat cerita, Naufal, Rain, Zulfi, Dani, dan Rizki telah berlatih bersama Doni Aryanto selama 2 bulan.
...----------------...
...All missions have been completed...
...Menerima semua reward misi....
...***...
...Kartu kemampuan legenda (Boxing: Muhamad Ali)...
...Kartu kemampuan (Boxing: Mike Tyson)...
...Kartu kemampuan legenda (Jet kune do: Bruce Lee)...
...----------------...
"Jadi ini adalah hasil dari latihanku selama ini?" batin Naufal sembari menatap layar sistem.
(Tuan, anda bisa menggunakan kartu ini untuk diri sendiri ataupun rekan anda. Jika memakai kartu ini anda akan menguasai semua kemampuan dan kekuatan orang yang ada pada kartu tersebut. Tapi kartu ini hanya bisa dipakai 1 jam, dan bisa dipakai kembali setelah 2 minggu cooldown.)
"Penjelasan yang cukup panjang ya, Luxxi. Terakhir kali aku memanggilmu kau tidak menjawab panggilanku,"
(Maaf. Entah kenapa saya tak bisa merespon panggilan anda saat itu. saya rasa The Creator ingin anda berlatih tanpa bantuan saya.)
"Ahh aku gak peduli," ujar Naufal. Ia bangkit dari tidurnya dan berjalan mendekati jendela yang ada di kamarnya. Naufal berdiri didepan jendela dengan santai.
"Omong-omong. Aku sudah disini selama 2 bulan. Banyak hal yang terjadi, apalagi hubungan kami dengan Rain yang sedikit menjauh," ucap Naufal sembari menatap indahnya pemandangan hutan di pagi hari.
"Selama 2 bulan aku hanya berlatih untuk meniru semua teknik yang digunakan oleh kak Parfait. Teman-temanku juga sudah berkembang,"
...***...
Beralih ke tempat Zulfi. Terlihat Zulfi sedang berlari menaiki tangga gunung sembari menggendong beban seberat 15 kilogram di punggungnya.
"Zulfi. Ia terus berlatih tinju dengan metode yang di ajarkan oleh kakek Doni. Aku yakin itu adalah metode latihan Kyokushin Karate, aku bisa melihat kepalan tangan Zulfi yang berbeda dari sebelumnya."
Setelah berlari menaiki tangga, Zulfi bersiap-siap ke depan sebuah lonceng besar. Lalu Zulfi melakukan boxing stance, dengan sekuat tenaga Zulfi melayangkan pukulan straight ke lonceng tersebut.
Akhirnya setelah 2 bulan berlatih, Zulfi berhasil membuat bekas pukulan di permukaan lonceng itu. Sontak Zulfi langsung melompat-lompat kegirangan.
"Bwahahahaha! akhirnya.... pak tua, lihat ini! aku berhasil membuat bekas pukulan di lonceng ini." Teriak Zulfi yang senang akan kemajuannya.
"Yah begitulah Zulfi. Aku senang karena ia bisa bertahan dengan latihan ini."
...***...
__ADS_1
Beralih lagi ke tempat lain, tepatnya di tengah hutan, tempat Rizki berlatih melawan babi hutan. Terlihat Rizki yang berdiri tegak dengan pose siap bertarung. Matanya tertutup karena sedang konsentrasi.
Lalu dari kejauhan terlihat babi hutan yang selama ini menemani proses latihan Rizki. Babi itu berlari dengan sangat kencang, ia berniat untuk menyeruduk Rizki.
"Rizki. Hari ini adalah hari terakhir ia berlatih dengan babi itu. Aku selalu mendengar Rizki mengeluh kesakitan di tengah malam, sepertinya ia sudah beberapa kali di tabrak oleh babi itu. Tapi hari ini berbeda, kurasa dia telah siap untuk mengalahkan babi itu."
Rizki membuka matanya, ia menatap babi yang sudah berada 2 meter di depannya. Rizki menjulurkan tangannya, ia bersiap melancarkan 1 inch punch ke kepala babi itu.
"HAAAAAAAAAAAARRRRGGGHHHH!!!!!!"
Rizki berteriak keras, ia berhasil mendaratkan serangannya tepat di dahi babi itu. Babi yang dipukul oleh Rizki terpental mundur kebelakang, setelah itu babi itu hanya menatap tajam Rizki.
Tiba-tiba babi itu terjatuh dan berbaring di tanah. Hidungnya mengeluarkan darah yang mengucur tiada henti. Perlahan mata babi itu menutup.
Melihat itu Rizki menyadari bahwa babi yang menjadi rekan latihannya itu akan segera mati. Rizki berjalan mendekati babi itu, ia pun duduk di depan sang babi. Rizki menjulurkan tangannya ke kepala babi itu, lalu ia mengusap-usap kepalanya.
"2 bulan bukanlah waktu yang singkat. Kau adalah lawanku yang terkuat. Maaf karena aku yang mengakhiri hidupmu, aku akan mengenangmu, kawan." ucap Rizki sembari tersenyum, matanya juga sedikit meneteskan air mata.
Rizki berdiri, lalu ia mengambil sebuah tali. Ia mengikat babi itu, dan menggendong babi itu dipunggungnya, setelah itu ia berjalan pulang membawa babi itu pulang ke padepokan.
...***...
Beralih lagi ke tempat Rainala Devan berlatih. Remaja itu tidak memakai pakaian sama sekali. Rain mengambil handuk yang terletak di sebuah batu, Rain mengelap badannya yang basah. Ternyata ia baru saja selesai membersihkan diri.
"Rambutku sudah panjang, tubuhku menjadi keras. Apakah ini hasil latihanku? terlebih lagi aku sudah mempelajari semua teknik menyerang dengan senjata ini," ucap Rain sembari memandangi keris yang ia pegang.
Setelah itu Rain segera memakai pakaiannya. Ia berjalan meninggalkan tempat yang selama ini ia tempati untuk berlatih. Rain berjalan sembari memandangi langit biru yang cerah.
"Aku harus minta maaf kepada Naufal dan kepala sekolah!" ucapnya sembari berlari ke arah padepokan.
...***...
Singkat cerita, hari sudah gelap. Di halaman padepokan, Parfait dan Doni sedang mempersiapkan beberapa kayu bakar, mereka berniat membuat api unggun untuk merayakan 2 bulan latihan Naufal dan kawan-kawannya.
Lalu Naufal, dan Zulfi keluar dari dalam asrama. Mereka berdua terheran-heran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Parfait dan Doni.
"Anu, kak Parfait sedang apa? kok sore-sore ngumpulin kayu sebanyak itu?" tanya Naufal.
"Ini? malam ini kita kan berpesta, kita akan merayakan 2 bulan latihan kalian," jawab Parfait.
"Kepala sekolah gak usah repot-repot, kami tak apa kok jika gak ada perayaan. Toh ini buat kami juga," sela Zulfi.
"Repot-repot? kami tidak kerepotan. Ini adalah acara perayaan kedua," ucap Parfait.
"Perayaan kedua? memang acara pertamanya kapan?" kata Naufal.
Tiba-tiba di pikirannya, Naufal menyadari sesuatu.
"Tunggu kak Parfait. Apakah dulu juga ada yang berlatih disini?" tanya Naufal kepada Parfait.
__ADS_1
"Iya, ada. Kau jurusan TKJ tapi tak tau ya?" kata Parfait.
"Tau apa?" ucap Naufal.
"Anak-anak kelas XII TKJ A adalah mantan anak didik disini. Namun setelah pulang dari sini, tiba-tiba mereka berhenti untuk bertarung dan memilih untuk menjalani kehidupan sekolah saja." jelas Parfait. Ia pun pergi lagi untuk mengambil kayu bakar.
"Anak-anak kelas XII?!!" gumam Naufal.
Tiba-tiba dari sisi lain padepokan, datanglah Rizki sembari menggendong babi hutan di punggungnya. Lalu ia melepaskan babi yang ia bawa, ia pun berjalan mendekati Naufal dan Zulfi.
"Yo! Aku pulang," sapa Rizki sembari melambaikan tangannya.
"Yo Rizki! wahh pangling sekali ya, terakhir kita ketemu itu 2 minggu yang lalu," balas Naufal yang senang akan kedatangan Rizki.
Di sisi lain, Zulfi mendekati babi yang dibawa oleh Rizki.
"Rizki, kau yang membunuh babi ini?" tanya Zulfi.
"Iya. Dia mungkin sudah kelelahan menjadi lawan ku, pukulan terakhir ku membuatnya terbunuh." jawab Rizki.
"Yooo! kalian sudah berkumpul disini?"
Seseorang menyapa mereka dari kejauhan. Orang itu membawa beberapa ikan di punggungnya. Dia adalah Dani, namun Naufal dan yang lainnya tak dapat mengenalinya.
"Hah? siapa?" tanya Naufal dengan wajah heran.
"Bangs*t. Kau tidak kenal aku? Dani loh Dani. D-A-N-I, DANI!" kata Dani dengan kesal.
"Ohh Dani...., aku hampir gak bisa mengenalimu loh. Rambutmu panjang banget sih," ucap Naufal sembari tersenyum kecil.
Dani tak menghiraukan ucapan Naufal, ia malah menunjuk seseorang dibelakang Naufal.
"Lihat, dia baru saja pulang."
Mendengar itu, Naufal, Zulfi, dan Rizki menoleh ke belakang. Ternyata Rain baru saja tiba disana. Namun Naufal tak terlihat senang dengan kedatangan Rain.
"Sialan!" teriak Naufal. Ia berlari ke arah Rain, Naufal berniat untuk menyerangnya.
Naufal melompat dan melakukan teknik 360° kick ke arah kepala Rain. Namun saat kaki Naufal akan mendarat ke kepala Rain, serangannya dihentikan oleh Parfait dengan tangannya.
"Berhenti disini!" tegas Parfait ke Naufal dan Rain, "Rain, kau darimana saja? kenapa baru pulang?" Lanjutnya.
"Aku baru menyelesaikan latihanku," ucap Rain.
Lalu Zulfi dan Rizki segera menarik Naufal dan memeganginya. Zulfi sendiri bingung dengan apa yang terjadi, ia tak tahu karena selalu berlatih dan tak pernah pulang ke asrama.
Rain mendekati Naufal. Tiba-tiba ia membungkukkan badannya, dan mencoba meminta maaf kepada Naufal.
"Naufal, Kepala sekolah! maafkan aku!" kata Rain.
__ADS_1
...##Sistem Raja Pecundang##...