
"Jika dia menangis, itu tidak termasuk tugasku sebagai pengawal" Jawab Naufal.
Rizki terdiam sejenak, Ia menundukkan kepalanya. Naufal kebingungan dengan kelakuan Rizki, Naufal pun memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan Rizki, Ia berjalan menjauhi Rizki. Namun, tiba-tiba Rizki menarik Naufal dan memukulnya.
"Kau! Kau dari dulu selalu menyakiti Fanni!" Teriak Rizki sembari memukul-mukul wajah Naufal, "Pernahkah kau menyadari kalau kau menyakiti nya! Sejak dari kejadian itu." Lanjutnya.
Naufal sudah tak bisa berkutik, Ia terus-terusan di pukuli oleh Rizki. Namun jauh di lubuk hatinya, Ia merasakan sakit hati yang mendalam, walaupun tanpa sebab.
Naufal akhirnya membalikkan pukulan Rizki, dan memukulinya kembali seraya berkata, "Apa yang kau maksud brengs*k! Aku saja baru mengenalnya." Timpal Naufal.
Namun tiba-tiba, seorang gadis mendorong Naufal. Gadis itu adalah Fanni, Ia bergegas menolong Rizki. Naufal yang melihat itu sedikitnya merasa cemburu dan tidak menyangka kalau Fanni akan datang.
...~...
Beberapa waktu sebelumnya, seorang gadis bernama Lia melihat pertengkaran Naufal dan Rizki. Lia sangat ingin melerai pertengkaran mereka, namun Ia tak berani melakukannya. Ia berinisiatif memanggil Fanni yang ada di ruangan TKJ 1.
Lia berlari menyelusuri koridor sekolah, akhirnya Ia sampai di ruangan TKJ 1. Lia segera menemui Fanni. Saat itu, Fanni sedang menangis di tempat duduknya. Namun Lia tak peduli dan segera memberi tahu kepada Fanni tentang pertengkaran Naufal.
"Fan! Ayo bangun, Fan!" Teriaknya membangunkan Fanni, Ia menggoyang-goyangkan badan Fanni.
"Eee, apa sih Lia?" Tanyanya dengan ingus yang melambai-lambai di bawah hidungnya.
"Ih jorok! Lap dulu ingusnya." Tegur Lia, "Tadi aku liat si Naufal berantem sama anak baru itu." Lanjut nya.
"Eh? Seriusan?!" Ucap Fanni sembari mengelap ingusnya. "Dimana berantem nya? Kebangetan si Naufal." Lanjutnya.
"Ayo, ikut aku!" Ajak Lia.
Mereka pun berlari menuju tempat kejadian, di perjalanan Fanni merasakan perasaan aneh di hatinya. Fanni merasakan perasaan yang bergejolak seperti ingin meledak.
Akhirnya, Fanni sampai ke tempat kejadian. Di sana, Ia melihat Naufal memukul-mukul Rizki sembari meneriakinya. Fanni segera berlari dan mendorong Naufal untuk menolong Rizki.
...~...
__ADS_1
Kembali ke masa sekarang, Fanni menatap tajam Naufal sembari memeluk badan Rizki, saat itu Rizki dalam keadaan pingsan. Fanni meletakkan Rizki dan berjalan mendekati Naufal.
"Naufal! Kamu ini kenapa sih? Kok suka banget berantem." Tegur Fanni, Ia menunjuk-nunjuk dada Naufal seraya berkata, "Kamu ini, kemarin di rumah ku, sekarang disini. Mau nya apa sih?!" Lanjut Fanni.
"Eh yang bener? Dia maniak bertarung? Pecundang banget dia, dipikir orang yang suka bertarung itu keren?" Bisik murid-murid yang ada di sekitar mereka.
Naufal terdiam, Ia merasakan sakit hati yang begitu mendalam. Dipikirannya, Fanni tak pernah menganggap Naufal temannya. Melihat itu semua, Naufal berdiri.
"Oh gitu ya, kamu gak denger apa yang bilang kemarin?" Tanya Naufal sembari mengepalkan tangannya. Naufal tersenyum sinis, satu alisnya terangkat dan sorot matanya menjadi tajam.
"Emang nya apa yang kamu bilang kemarin hah?" Tanya Fanni dengan ekspresi marah.
"Kau, tuan putri. Aku akan berhenti menjadi pengawal mu." Tegas Naufal.
"Apa? Aku gak peduli. Lagian kamu yang butuh pekerjaan itu." Timpal Fanni. Ia mengangkat tubuh Rizki, dan menopang nya menuju ke UKS.
"Harusnya aku tidak pernah bertemu dengan mu." lirih Naufal kepada Fanni. Naufal pun segera pergi dari tempat itu.
Fanni yang mendengar itu, seketika terkejut dan berbalik menatap kepergian Naufal. Matanya berkaca-kaca saat itu, Ia tak menyangka bahwa Naufal mengatakan hal itu.
Di sisi Naufal, Ia berjalan tanpa arah tujuan yang jelas. Ia pun memutuskan untuk pergi ke ruangannya. Saat di ruangannya, Naufal meminta Zulfi untuk memberitahu guru kalau dia akan pulang duluan. Zulfi mengiyakan permintaan Naufal.
Sedikit lama Ia menunggu, akhirnya sebuah mobil Limosin yang mewah berhenti di depan nya. Seseorang dengan stelan jas hitam membukakan pintu untuk Naufal masuk. Di dalam sudah ada Pak Bambang yang menunggu. Ternyata yang Naufal hubungi adalah Bambang.
Naufal pun masuk, lalu ia duduk berhadap-hadapan dengan Pak Bambang. Setelah itu, mobil pun berjalan. Di dalam, Naufal dan Pak Bambang saling menatap tajam satu sama lain.
"Baiklah nak Naufal, jelaskan apa urusan mu menghubungi ku?" Tanya Bambang.
"Saya hanya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan saya ini." Ungkap Naufal sembari menatap keadaan di luar mobil.
"Mengundurkan diri? Kenapa?" Bambang terkejut akan permintaan Naufal, bagaimana pun, ini terlalu mendadak.
Naufal menatap dingin Bambang seolah menatap seorang musuh. Dia enggan menjelaskan alasannya ingin berhenti menjadi seorang pengawal.
Bambang pun berkeringat karena merasa tatapan Naufal itu menyeramkan. Tetapi, Dia mengabaikan semua hal itu dan bertanya kembali, "Apa alasannya Naufal, tolong jelaskan kepadaku agar aku bisa mengerti."
__ADS_1
Naufal menoleh ke arah kiri seraya menjelaskan alasannya, "Saya sudah tidak kuat dengan Fanni, dari kemarin Dia selalu mengganggu saya." Jelas Naufal.
"Aaa, hanya itu?" Tanya Bambang.
"Bukan di sana permasalahannya. Fanni menuduh saya suka bertarung dengan orang-orang, kemarin dan hari ini saya bertarung dengan teman masa kecilnya." Lanjut Naufal, "Saya tidak pernah memulai pertarungan dengan siapapun, hanya saja semua orang selalu ingin bertarung dengan saya."
"Memang sedikit menyakitkan, tapi hanya karena itu?" Tanya Bambang lagi.
"Saat saya bilang kalau saya akan berhenti jadi pengawal nya, tetapi Ia hanya membalas [Apa? Aku gak peduli. Lagian kamu yang butuh pekerjaan itu]. Jujur saja, itu sangat menyakiti hati saya." Jelas Naufal.
"Maaf atas ketidak sopan-an Fanni, Dia memang gak pernah berinteraksi dengan orang lagi setelah kejadian di SMP." Lirih Bambang. "Tapi Naufal, saya berharap kamu masih bisa menjadi pengawalnya." Lanjutnya.
"Maksud bapak apa?" Tanya Naufal dengan lantang.
"Maksud saya, saya ingin kamu tetap menjaga Fanni apapun yang terjadi." Jelas Bambang. "Anggap saja kamu jadi pengawal paksa." Lanjutnya.
"Untuk apa? Sungguh tidak berguna."
"Nak Naufal, saya mohon. Hanya kamu yang bisa menjaga anak saya."
"Tapi Pak, sekarang ada teman masa kecilnya itu. Dia siap menjaga Fanni."
"Naufal! Rizki itu sangat naif, jadi saya mohon untuk tetap menjadi pengawal anak saya."
Naufal kehabisan kata-kata, akhirnya Ia mengiyakan permohonan Bambang.
...~...
Di sekolah, pertemuan kepala sekolah dan wali murid telah usai. Hasilnya, murid-murid yang terlibat masalah itu hanya terkena denda sebesar 50.000 RP.
Vinka pun keluar dari ruangan kepala sekolah, Ia ingin segera pergi dari tempat itu. Namun, suara seorang laki-laki menghentikan nya. Laki-laki itu adalah Parfait.
"Vinka, lama tidak bertemu ya." Sapa Parfait.
"Ah iya, haha" Sahut Vinka dengan suara pelan.
__ADS_1
"Gimana kabar mu? Mau ke resto bersamaku?" Ajak Parfait sembari memberikan sebuah minuman.
...##Sistem Raja Pecundang##...