
Besok nya, pagi terlihat cerah seperti biasanya. Suara alarm yang berbunyi keras sehingga bergema di ruangan itu. Seorang pemuda bangun dari tidurnya, ia adalah Naufal.
Naufal terbangun di ruangan yang ia pakai sebagai ruangan bos, seluruh tubuh nya terasa nyeri, di wajahnya terpasang beberapa plester dan perban. Kemudian, ia melihat seorang gadis cantik yang sedang tertidur di sebuah sofa.
Kemudian ia mendekati gadis itu, ternyata ia adalah Fanni yang sedang tertidur. Melihat itu, samar-samar Naufal mengingat kejadian sebelumnya. Naufal teringat dengan pertarungannya dengan Santoso.
"Luxxy, apa kau bisa memberikan aku apa yang terjadi kemarin?" Batin Naufal dengan wajah serius.
(Bukannya anda sudah melihat nya kemarin?)
"Kurasa aku lupa, tolong berikan itu,"
(Baiklah tuan,)
Tib-tiba, Naufal berpindah tempat. Naufal berpindah ke pabrik tua yang menjadi tempatnya bertarung dengan Unlimited Money, disana ia melihat dirinya yang dipukuli oleh Santoso.
Naufal melihat dirinya terjatuh dan teman-temannya yang juga di kalahkan. Namun seketika Naufal terkaget, ia melihat dirinya kembali berdiri dengan mata yang aneh, kornea matanya berwarna putih dan sklera berwarna ungu.
...~...
Singkat cerita, Naufal melihat dirinya mengalahkan Santoso dan teman-temannya sendirian.
"Luxxy, dengan mode ini, apakah aku bisa menjadi tak terkalahkan?"
(Tidak tahu tuan,)
"Satu lagi, apakah aku bisa menggunakan mode ini lagi? Semauku?"
(Saya rasa tidak bisa. Tapi saya punya sesuatu yang bagus untuk anda,)
"Apa itu?"
(The Creator menambahkan beberap fitur untuk saya. Lalu beliau juga memberikan sebuah hadiah untuk tuan,)
...----------------...
...Reward...
...Skill: Copy...
...Pesan: ini berguna untuk mu, gunakan untuk menyalin teknik lawan....
...----------------...
"Wah keren, dia memberikan aku ini? Ini sih namanya berkat,"
Tiba-tiba, Fanni yang sedang tidur, lalu terbangun oleh Naufal yang berbicara keras di depannya. Dengan rambut yang berantakan karena baru bangun tidur, Fanni tiba-tiba memeluk Naufal dengan erat.
"Akhirnya, kamu bangun juga!" ucap Fanni sembari mengeratkan pelukannya.
"Ah ya, sebenarnya aku bangun tadi malam buat pindahin kamu ke kursi," sahut Naufal.
Tiba-tiba, pintu ruangan Naufal dibuka. Terlihat teman-teman Naufal yang membuka pintu, mereka langsung terkaget melihat Naufal berpelukan dengan Fanni.
"Masih pagi loh Fal, udah mesra-mesraan aja," sindir Rain sembari membawa sebuah sup di tangannya.
"Enak aja, ini Fanni yang peluk gua!" balas Naufal dengan wajah marah.
Fanni melepaskan pelukannya, "kamu gak suka ya Fal?" ucapnya dengan wajah sedih.
"Aaaa...., bukan gitu." Sahut Naufal.
Singkat cerita, Naufal dan teman-temannya berkumpul di ruang hang out. Disana terlihat semua orang yang berkumpul dengan wajah yang serius.
"Jadi Naufal, bagaimana kita menghadapi Unlimited Money untuk selanjutnya?" tanya Rain dengan wajah serius.
"Selanjutnya? Memangnya si Santoso bukan ketuanya?" balas Naufal dengan wajah polos.
__ADS_1
"Huft," Rizki menghembuskan nafasnya, "tentu saja. Santoso bilang kalau dia itu UM no.2 . itu berarti UM no.1 adalah ketuanya. Aku yakin dia akan bergerak," jelas Rizki.
"Omong-omong Naufal, apa yang terjadi padamu kemarin? Kau bertarung sehebat itu, padahal tubuhmu sudah terluka parah," sela Zulfi, "apalagi matamu yang berubah warna,"
"Ah itu-" belum sempat Naufal menjawab, tiba-tiba seseorang masuk dari pintu depan.
Seseorang dengan gaya rambut Two Block, dan memakai stelan jas hitam itu masuk dengan santai ke tempat itu. Orang itu adalah Parfait. Semua orang yang melihat kedatangannya, langsung terkaget karena ia adalah kepala sekolah SMK Plus 27.
"Yo. Kalian semua sudah berkembang ternyata," ucap Parfait sembari menghisap vape di tangannya, "ngomong-ngomong, ini hari minggu. Sekolah libur,"
"Pak kepala sekolah, apa yang anda lakukan disini?" tanya Naufal dengan sopan.
"Aku? Hanya berkunjung, lagian tempat jni dulunya adalah gudang milikku," jawab Parfait sembari menghembuskan asap vapenya.
"Tempat milik anda? Apa maksudnya itu?" balas Naufal.
"Iya, dulunya ini tempat ku menaruh hal-hal yang penting," lanjut Parfait sembari berjalan menuju pintu keluar, "sampai jumpa Twenty Seven, aku punya sedikit saran sih, perkuat kru mu dengan julukan." ucapnya yang langsung pergi dari tempat itu.
"Julukan?" gumam Naufal dengan wajah kebingungan. Naufal pun kembali berdiskusi dengan teman-temannya, "jadi sampai dimana kita?"
"Kau tadi mau menjelaskan tentang matamu yang berubah warna," ucap Zulfi sembari meminum sebuah minuman soda.
"Kesampingkan tentang hal itu. Seperti saran kepala sekolah, kita harus punya julukan untuk kita," ungkap Rain sembari mengerjakan tugas sekolah yang ia bawa, "tentu saja yang menentukannya adalah ketua, yaitu Naufal,"
"Aku!? Kok aku sih?" keluh Naufal dengan wajah kesal, "mau bagaimana lagi. Sekarang akan kupikirkan,"
"*Luxxy, berikan aku julukan untuk mereka*," batin Naufal.
(Baik tuan,)
...----------------...
...Naufal Setyadi \= Raja Pecundang...
...Rainala Devan \= Pendekar...
...Zulfi Hermawan \= Boxing Junior...
...Dani Singjaya \= Newbie Taekwondo...
...Rizki Aditia \= One Punch...
...----------------...
"*Entah kenapa, aku sedikit kesal*."
__ADS_1
Naufal pun berdiri, ia menghantam meja dengan kedua tangannya, "baiklah. Sudah aku putuskan,"
"Benarkah? Ayo sebutkan!" sahut Rain.
Naufal pun memberitahu julukan mereka. Setelah mendengar itu, semuanya tertawa saat mendengar julukan Naufal. Menurut mereka, julukan Naufal seperti sebuah ejekan. Namun, Naufal juga ikut tertawa bersama mereka.
"Hahahaha, tapi memang itu julukanku!" tegas Naufal, lalu Naufal menyadari sesuatu, "eh, dimana si Dani?" tanya Naufal dengan wajah Kebingungan.
"Ah kau ini, Santoso melukai kakinya terlalu parah. Kemungkinan saat ini dia di rumah sakit," ungkap Zulfi, "kalian berpikir dia sedang di bodohi gak sih?" lanjutnya.
"Yah kurasa begitu, aneh saja. Salah satu perempuan yang menjadi sandra, sama sekali tidak memiliki bekas aniaya. Dia adalah putri," ucap Rain.
"Jadi apa maksudmu Rain?" sahut Rizki, pemuda itu berdiri dan menatap tajam Rain, "maksudmu Putri adalah dalang dari penculikan kemarin?" tanya nya.
"Ya, tapi itu hanya pikiran ku saja. Jangan terlalu dianggap serius." Jawab Rain sembari menoleh ke arah atas seakan memikirkan sesuatu.
...~~~~~...
Di tempat lain, tepatnya di rumah Fanni. Terlihat Bambang yang sedang duduk di halaman rumah itu, wajahnya terlihat khawatir akan sesuatu. Namun, seorang pelayan datang ke hadapannya.
"Permisi pak, tadi nona Fanni menelpon. Katanya dia nginep di rumah temennya." ucap pelayan itu yang langsung pergi setelah mengucapkan nya.
"Syukurlah, aku kira dia kenapa-kenapa," ucap Bambang dengan wajah lega, "Naufal juga, kemarin tiba-tiba pulang,"
Lalu, seseorang dengan stelan jas pengawal menghampiri Bambang. Ia adalah Hartono, kepala pengawal disana. Dengan wajah yang kesal, ia menatap bambang dengan tajam.
"Pak, bolehkah saya bertanya?" ucap Hartono.
Bambang pun menoleh, "ada apa Hartono?" sahut nya sembaril tersenyum kecut.
"Bolehkah saya tahu kenapa anda mempekerjakan seorang bocah sebagai pengawal? Menurut saya itu tidak perlu," tanya Hartono, "bukankah kami sudah cukup untuk melindungi nona Fanni,"
Ekspresi wajah Bambang yang biasa saja berubah menjadi serius, ia melipatkan tangannya ke dada, "Hartono, kamu tahu kan? Naufal itu lebih kuat dari kalian," balas Bambang.
"Saya memang tahu itu tapi," sela Hartono.
"Hartono! Aku mempunyai alasan lain kenapa Naufal yang harus menjaga Fanni," tegas Bambang, "kau duduklah disana, akan kuceritakan sebuah cerita yang hilang."
...\#\#Sistem Raja Pecudang\#\#...
__ADS_1