
Kembali ke masa lalu, lebih tepatnya 6 tahun yang lalu. Sebuah keluarga sedang berliburan di sebuah pantai. Keluarga itu terdiri atas Ayah,Ibu, dan ketiga anaknya. Keluarga itu adalah keluarga Setyadi.
Ada seorang bocah laki-laki berumur 10 tahun yang sedang membuat sebuah istana pasir, ia adalah Naufal Setyadi. Bocah itu memiliki gigi yang ompong, dan rambut yang acak-acakan.
Lalu, seorang gadis remaja berusia 18 tahun menghampiri Naufal dengan tergesa-gesa. Gadis dengan rambut hitam kemerahan dan paras cantik. Dia adalah Vinka Setyadi.
Gadis itu menjewer telinga Naufal dengan kencang, "Naufal! Kakak kan udah bilang sama kamu, jangan main jauh-jauh," tegurnya dengan wajah marah.
Naufal langsung menangis kencang, matanya di banjiri oleh air mata, "Ampun kak! Jangan jewer aku!" rengek Naufal sembari berjalan tertarik oleh kakaknya.
Vinka yang melihat itu langsung jongkok, ia mengelap air mata yang terus membanjiri mata Naufal, "maafin kakak ya dek, udah jangan nangis. Makanya kamu jangan main jauh-jauh ya," ucap Vinka.
"Iya kak,"
Vinka berdiri, ia memegang tangan Naufal menuntunnya untuk berjalan bersamanya. Mereka berdua terlihat seperti kakak adik yang sangat akrab.
Keluarga Naufal terlihat sangat kaya, mereka bahkan memasak steak dan tidur di sebuah villa yang besar. Ayah Naufal adalah CEO dari perusahaan bernama Setyadi Group.
Vinka dan Naufal akhirnya sampai di tempat orang tua mereka, terlihat seorang perempuan berusia sekitar 39 tahun, ia terlihat sangat cantik nan anggun. Perempuan itu adalah ibu dari Naufal, Sri Setyadi.
Di sisi lain, terlihat seorang pria yang memegang tongkat baseball dengan gagah, ia berusia 38 tahun. Namanya adalah Surya Setaydi. Lalu ia menghampiri kedua anaknya itu.
"Naufal,Vinka, abis dari mana?" Tanya Surya sembari tersenyum kecut.
"Abis dari sana yah," jawab Vinka sembari menunjuk pasir pantai, "tadi Naufal main sendirian disana," lanjutnya.
"Ohh, ayo makan ah. Tuh ibu udah bikin makanan," ajak Surya sembari menuntun kedua anaknya. Mereka pun duduk di meja makan yang terletak di luar ruangan.
Lalu, seorang gadis kecil muncul dan berlari ke arah mereka. Ia menangis terisak-isak, di dahinya terlihat luka lecet, "Ayah! Aku di jahilin sama anak-anak yang ada disana," rengek nya. Ia adalah Dania Setyadi, anak bungsu di keluarga Setyadi.
__ADS_1
Naufal berdiri, ia menghampiri Dania. Naufal mengusap air mata Dania, "udah udah, kamu makan dulu sana." Ucap Naufal sembari menuntun adiknya itu menuju ke meja makan.
Mereka semua pun melanjutkan makannya. Terlihat Naufal dan Dania makan dengan lahap, berbeda dengan Vinka yang makan pelan-pelan.
"Dania, sekarang umur berapa?" Tanya Vinka.
"Aku.... um-.... umur 8 tahun kak," jawab Dania sembari mengunyah makanannya.
"Telan dulu baru bicara. Kalau Naufal?" Lanjutnya sembari menoleh ke arah Naufal.
"Aku? Aku sudah umur 10 tahun," balas Naufal, lalu ia berdiri, "kak, nanti aku kalau sudah dewasa, pengen jadi polisi," ucap Naufal.
"Apa sih Naufal, kamu kan bakal jadi penerus perusahan ayah," sela Surya sembari menunjuk Naufal dengan garpu.
"Eh iya ya, aku bakal kayak kalau jadi penerus ayah. Hahaha," ucap Naufal, ia pun menoleh ke arah Vinka, "kakak sendiri umurnya berapa tahun?" Tanya Naufal.
"Kakak? Kakak udah 18 tahun," jawab Vinka, "syukurlah, kakak udah lulus S1 di usia segini," lanjut Vinka.
"Emang kakak mau jadi apa?" Ucap Naufal sembari memasang ekspresi wajah polos."
"27? Kamu bersekolah di sana kan dulu? Sekolah itu juga di biayai oleh temen ayah," sela Surya.
"Iya, dulu aku sekolah disana, tapi temen ayah itu siapa?" Balas Vinka dengan wajah keheranan.
(Saat itulah kami muncul, dan merusak kehidupan mereka.)
Lalu, seorang pria berumur 37 tahun datang ke tempat itu, ia datang bersama gadis kecil yang cantik. Mereka berdua adalah Bambang dan Fanni.
"Halo," sapa Bambang dengan ramah, "hebat ya pak Surya, keluarga nya sangat harmonis," ucap Bambang sembari menuntun Fanni.
"Panjang umur Bambang, aku sedang membicarakan mu," sahut Surya, "Vinka, inilah teman ayah yang tadi ayah bicarakan," lanjutnya sembari menunjuk Bambang.
__ADS_1
"Wah wah, terimakasih loh udah bahas saya," Bambang pun menghampiri mereka, ia melirik Naufal yang sedang makan, "ini anak pak Surya yang kedua? Tampan sekali ya,"
"Iya, namanya Naufal dan umurnya masih 10 tahun," sahut Surya, ia pun berdiri dan melirik Fanni, "Fanni udah besar ya, sekarang umurnya berapa tahun?"
"Sama dengan nak Naufal, umurnya masih 10 tahun." balas Bambang.
Surya mempersilahkan Bambang dan Fanni untuk duduk, akhirnya mereka semua makan bersama-sama di tempat itu. Selesai makan, Surya mengajak Bambang untuk pergi ke suatu tempat, tak lupa mereka mengajak Naufal dan Fanni bersamanya.
...~...
Singkat cerita, mereka telah sampai ke tempat yang di maksud oleh Surya. Tempat itu adalah sebuah restoran yang terletak di pinggir pantai. Surya pun segera memesan tempat duduk.
Surya dan Bambang duduk di kursi yang mereka pesan, mereka membiarkan Naufal dan Fanni bermain berdua. Surya menatap Bambang dengan serius, ia memberikan sebuah lembaran kertas, "ini adalah berkas tentang Underground Arena,"
Bambang yang terkejut langsung mengambil berkas itu, ia melihat-lihat isinya yang penuh dengan sisi gelap tempat itu, "pak Surya, anda menyelidiki Underground Arena sendirian?" Tanya nya.
"Tidak, aku di bantu oleh seseorang dari keluarga Saputra. Ada alasan untukku memberikan berkas ini padamu," jelas Surya, ia mengambil korek api dari celananya lalu menyalakan rokok dan menghisapnya, "sebagai senior mu, aku harap kita bisa bekerjasama meruntuhkan tempat itu," ungkap Surya.
"Keluarga Saputra? Apa itu?" Tanya Bambang sembari mengamati berkas tersebut.
"Bambang, kau tau tentang sejarah penjajahan di negara kita ini kan?" Balas Surya, sorot matanya berubah menjadi serius, "mereka adalah sebuah klan netral yang tidak peduli dengan kemerdekaan ataupun penjajahan,"
"Memangnya ada yang seperti itu?" Kata Bambang dengan wajah yang penuh rasa penasaran.
"Ada. Mereka bekerja untuk uang, bahkan mereka tak ragu menerima uang dari musuh mereka. Namun orang yang membantuku tidak membutuhkan uang, bisa dibilang bahwa dia itu sempurna," lanjut Surya sembari menoleh keatas seperti membayangkan sesuatu.
"Saya mengerti. Apa ada alasan lain saya di bawa kesini?" Ucap Bambang sembari meminum sebuah minuman yang ia pesan.
"Tentu saja ada, aku sedang memikirkan sesuatu yang akan menguntungkan kita," sahut Surya dengan wajah yang bersinar.
"Apa itu?" Tanya Bambang yang penasaran.
__ADS_1
"Menjodohkan anak kita, Naufal dan Fanni." Kata Surya sembari tersenyum lebar.
...##Sistem Raja pecundang##...